Minggu, 17 November 2013

Sajak Ikhlas

Dua kata yang tak terpisahkan,
Saling berkesinambungan,
Saling menggerakkan,
Membangun ruh dan jiwa para pejuang,
Menggapai kejayaan islam,
Meruntuhkan keburukan dan keegoisan,
Menghancurkan segala kesombongan,
Karna hanya Dia sumber kemuliaan,

Ialah Niat dan Keikhlasan.

Jumat, 15 November 2013

Sikap !



Ia seonggok hasrat untuk memahami
Ia sebaris pagar untuk menjaga diri
Ia sekokoh benteng untuk melindungi
Dan ia seberkas harap untuk bersuci

Terkadang ia seperti belati,
Menusuk rusuk menembus rongga paru
Terkadang ia seperti goresan duri,
Menyayat kulit ari merobek urat sendu

Bagaimanapun sakitnya,
Semata itu adalah pertahanannya
Bagaimanapun perihnya,
Begitulah ia menikam hatinya

Hanya kemuliaanNya menjadi pengharapan
Hanya sebongkah cintaNya menjadi tujuan
Maka dengan ketegasan ia berkata,

“Maaf cukup sampai batas pagar, jangan lebih dari itu”
“Mengapa?” tanya sang hati
“Aku takut kepada Sang Pemilik. Maka, cukup diam atau pergi saja.”
“Bukankah kau pula yang menghadirkanku ? mengharap kenikmatan dari keberadaanku ?”
“Aku takut kepada Sang Pemilik. Maka, cukup diam atau pergi saja.”

Dan bertahan di balik pagar adalah sikapnya
Bersembunyi di balik pelukan Rabb adalah sikapnya
Memilih menghimpit rasa adalah sikapnya
Berusaha keras menikam hati adalah sikapnya

Karena itu pilihan,
Karena itu keikhlasan,
Karena itu keistiqomahan,
Yang melahirkan kemuliaan.

Maka biarkan rasa itu tertikam atau pergi saja,
Jika kemudian kemaksiatan yang ada,
Maka biarkan rasa itu tertikam atau pergi saja,
Jika kelalaian menjauhkan pada Rabb nya.

Karena,
Rasa adalah kepastian,
Dan,
Sikap adalah pilihan.



Sabtu, 09 November 2013

Ingat, Ada Allah Di Hatimu !

Nemu di buku catatan kuliah jaman semester 4 >_< hoho, nyeni banget lah,
jago emang kalo corat-coret buku kuliah mah :p


            “Innallaha ma’ana”
            Ya, mungkin kita sudah sering mendengar kata-kata ini. Entah itu di apdet-an status kawan se-per-facebook-an, atau twit galau kawan se-jamaah di twitland, atau di tausyiah-tausyiah ustadz/ustadzah yang tiap pekan kita ikuti kajiannya agar diri cepet move on, misalnya hehe. Tapi percuma kalau kata penyemangat itu hanya diucap dibibir sahaja, tanpa mengikutsertakan hati untuk merasakan kekuatan ampuh dari kata itu. “Allah bersama kita”, itu bukan sekadar kata penyemangat, dia juga kekuatan untuk meyakinkan diri kita ketika kita merasa sepi dan jenuh akan hiruk pikuk duniawi.

            Emm… maaf yaa buat pembaca yang mungkin ini terkesan koyo “curcol” (curhat colongan di sela ngeblog :p ). Entah, akhir-akhir ini rada mellow bawaannya, rada sensitif, terus sok-sok buat sensasi “menghilang” sejenak dari peredaran, bahasa kerennya uzlah haha. Sms orang-orang ngga dibales, kalopun dibales jawabannya sok-sok misterius, haha. Kalau buka facebook atau twitter sekadar melakukan peran sebagai stalker temlen. Kalaupun jari jemari udah gatel pengin apdet status, yaa cuma share atau nge-retweet kata-kata mutiara yang pas banget sama suasana hati, biar yg ngeliat status/retweet penasaran & maksa ke mereka untuk paham kondisi kita melalui kode-kode. Hahaha, norak !

            Tapi pas lagi sendirian, tiba-tiba mellow gajebo (gag jelas booo’), kesepian, hubungi kawan kesana-kemari buat diajak ketemuan, nggak ada yang bisa, kena lo! Terus galau memuncak di ubun-ubun, ngerasa kayak nggak diperhatiin, kayak nggak ada lagi yang peduli, nggak ada yang ngerti dan memahami kalau diri lagi butuh ditemani. Naahh, kemarin yang bilang pengin uzlah siape ? Ya gimana bisa ngerti kalau yang mellow gajebo aja nggak cerita sebab musababnya. Yaa gimana mau ceritaaakkk, orang diajak ketemuan aja pada nggak bisa >_<. Yaudah deh, lo gue end!

            Oke, mungkin bagi sebagian orang yang berada di fase ini tengah menikmati masa-masa transisi nya. Mungkiiiiinn. Misal, mereka-mereka yang transisi dari dunia akademisi menuju dunia praktisi. Hemmm… mellow nya adalah ketika berada di posisi “transisi” itu, belum sampe ke tujuannya (praktisi). Mau ajak teman makan bareng, eh doi udah balik kampung, mau minta temenin kemari, eh doi udah sibuk jadi praktisi, mau ngajak ketemuan sekedar ngobrol, eh doi lagi pas nya nggak bisa, ada agenda duluan. Duh, kesepian lagi. Mellow nya makin menjadi. Iyuuuwwhh…

            Baik… baik… bapak-bapak, ibu-ibu.. selooowww… seloooww nggiiihh. Ada yang kesindir po ? Aku juga lagi ngomong di depan cermin kok :p . Tapi bener kaann.. bener kaan kadang ngerasa begityuuu ?? hayooo ngakuuu… *cari temen*. Nah, terus ketika teman-teman emang lagi nggak bisa nemenin kita, kita mau apa ? ngambek ? bilang, “kamu udah nggak perhatian lagi sama akuuhh.”, nyeletuk “yaudah deh, selamat menikmati kesibukanmu.”, atau yang rada terkesan sok bijak dan sok sabar nge-SMS, “yaudah nggak papa kok kalo emang nggak bisa jangan dipaksain, santai aja.” tapi ngetiknya sambil ngomel-ngomel bete, bibirnya manyun, banting-banting hape *duh,eman*, dalem hatinya mbatin “elo emang nggak perhatian, oke fine!”  Yakaliii mau nuntut doi musti begini dan begitu, nuntut buat selalu paham kondisi kita, paham apa yang kita butuhin, musti selalu stand by kalau kita  langsung pasang alarm minta tolong (?). Yaelaahh daahhh, bocah bener broh!

            Gimanapun, mereka juga manusia yang punya kepentingan masing-masing. Punya hal yang musti diselesaikan masing-masing. Punya keterbatasan untuk bisa menentukan mana yang prioritas, mana yang paling banyak kasih mudharat, mana yang banyak kasih maslahat. Nah, kalau jabanin perasaan-perasaan kita yang penuh kegalauan gajebo, sementara di sana doi punya hal yang berurusan dengan puluhan ummat, masa iya cuma gegara ngeladenin kita, yang paling banyak munculin mudharat doi biarin. “Janganlah selalu meminta untuk dikuatkan, tetapi berusahalah untuk bisa menguatkan.” Baik bagi diri sendiri, orang lain, dan orang-orang sekitar kita.

            Di sisi lain, apakah ketika merasa sepi yang selalu kamu ingat-ingat hanya temanmu ? Aih, kemanakah Allah selama ini (?). Yang sering disebut “Innallah ma’ana” itu kemana ? Cuma numpang lewat dilidah doank ? “Mas.. numpang lewat mass..”. Bukankah dalam setiap kondisi, setiap keadaan semua hal tempat kembali kita, tempat berserah diri kita hanya ke Allah ? Bukankah semua hal dalam hidup ini juga ujungnya hanya ke Allah ? Nah, terus dalam keadaan mellow gajebo seperti ini, baliknya kemana lagi ? Allah bukan ? *jawab sendiri masing-masing yeh* Jangan berpikir berapa kali orang meninggalkan kita, tetapi ingat berapa kali kita meninggalkan Allah tapi Dia tidak pernah meninggalkan kita. Nah, jelas-jelas ada yang lebih setia pada kita, lebih mau mendengarkan aduan hati kita. Masih mau mengejar perhatian manusia ?? Iya, setidaknya dengan berbagi dengan teman adalah bentuk penghargaan bahwa mereka selalu kita anggap “ada” dan “bermakna”. Tapi kembali lagi kan, Allah satu-satunya dan sebaik-baik tempat mengadu. Karena dari Dia juga kan segala solusi akan kita temui (?) dan mellow-mellow gajebo bablaasss tak berbekas.

            Cukup yakin bahwa “Allah selalu bersama kita” itu akan membuat hati justru lebih tenang. Bangun malem, sholat, dzikir, tilawahnya makin rajin, dhuha-nya dikencengin, banyak-banyak inget Allah misal baca-baca artikel atau note-note yang menginspirasi dan menggugah kita akan kebesaran-Nya, itu setidaknya cukup sebagai penawar. Bahkan bisa jadi kegalauan gajebo itu tadi karena kurang deket sama Allah ? Bisa jadiii… Bisa jadiii… *ala eat bulaga*. Itu akan lebih ampuh mengingatkan kita bahwa nggak penting deh mellow-mellow gajebo, ngerasa kesepian, dan bla bla bla. Ada Allah, Ada Allah, Ada Allah.

            Nah, dari rasa kesepian dan ke-mellow-an gajebo ini, mungkin ada beberapa hikmah yang bisa dipetik. Pertama, koreksi hubungan atau kedekatan kita sama Allah. Tau lah yaaa cara ngeceknya gimana. Kedua, mungkin perlu ada metode khusus untuk menjaga dan menjalin tali silaturahim agar lebih erat dan terikat lagi J, mungkin dengan cara “mbribiki” teman-teman kita :p, “lagi dimana cyiin ? udah makan belom, walau sibuk jangan telat makan ya.”, misal. Untuk yang itu “Syarat dan Ketentuan Berlaku” lhoh yaa! Ketiga, ingat dan yakini bahwa Allah akan menerima apapun keadaan kita, maka jangan ragu mengadu hanya pada Dia. Romantis-romantislah dengan Allah ketika hanya “aku dan Kau” bercengkerama dalam guratan malam dan di sela pergantian waktu (sholat) serta selama Allah bersama kita dan akan selalu bersama kita. J

So, buat apalagi mellow (?) *ngomong depan cermin*

Mari tersenyum, pantang manyun :p !

#edisiterbatas haha
#RobithohKencengBuatSaudaraDisana

Minggu, 03 November 2013

:)




Dia hanya masih terus mencoba untuk menjadi berharga seperti mawar biru, berharga dimata Pencipta untuk meraih dan menuai kebaikan yang lebih.

Dia hanya masih terus mencoba memperbaiki diri untuk terlihat menyejukkan seperti mawar biru, dan mampu memberikan kesejukkan untuk peradaban kelak yang lebih mulia.

Dia hanya masih terus meniti kebeningan hati seperti mawar biru ketika dipandang, agar selalu memberi ketenangan bagi siapa yang pantas untuk memandangnya.





Ahh… aku sangat menyukai bunga ini :’) terimakasih sodari-sodariku yang telah memberikannya 2 Oktober lalu ~

Jumat, 01 November 2013

Apresiasi = Kemuliaan ??


            Betapa hari-hari yang kita lalui begitu luar biasa, tanpa kita sadari ia memberikan banyak makna dalam tujuan hidup kita. Seperti hari ini, berkumpul dengan mereka yang hatinya diliputi kecintaan yang luar biasa kepada Rabb nya. Seperti hari ini dimana jiwa-jiwa yang mengharap ridho-Nya berkumpul dalam sebuah majelis kecil yang mencoba membangun asa dan cita menuju syurga. “Jangan remehkan forum kecil,…” kata sang guru, “terkadang kita meremehkan forum-forum kecil padahal bisa jadi dari sana tersembunyi energi dan ilmu luar biasa.” lanjut beliau. Ya, meski hanya dihadiri oleh tim training JAN namun inilah sekolah JAN yang sesungguhnya, yaitu dimana seluruh orang-orang yang tergabung di dalamnya merasakan forum dan aktivitas-aktivitas ini sebagai kebutuhan.

            Hari ini, seperti hari jumat biasanya, kami (tim JAN) selalu mengadakan sekolah JAN untuk berbagai bidang dan hari ini adalah jatah kami para trainer JAN untuk berbagi ilmu. “Bahagia Menjadi Trainer” itulah tema yang kami usung. Awalnya kami disuguhi oleh 4 pertanyaan utama,
1.      Apa yang membuatmu tertarik dengan training ?
2.      Apa yang membuatmu bahagia selama berlangsungnya proses training ?
3.      Apa yang membuatmu senang dengan training ?
4.      Dan apa yang dibutuhkan olehmu untuk memperbaiki proses training ?

Beragam jawaban dengan berbagai ekspresi kami lemparkan dan diskusikan. “saya merasa tertarik ketika pernah suatu ketika diajak teman mengikuti sebuah training dan merasakan ada hal yang berbeda.” , “saya merasa tertarik karna dalam training selalu memberikan motivasi-motivasi.” , “saya merasa bahagia ketika mampu berinteraksi dengan orang-orang baru dan memahami karakter mereka.” , “saya merasa butuh dalam training ketika bisa berkumpul dengan orang-orang yang memiliki mimpi yang sama dan memiliki mentor dibidang yang sama untuk mencapai impian itu.” , “saya merasa bahagia ketika kemudian mendapat apresiasi yang baik dari peserta. Misalnya, mereka berterimakasih karena materi yang disampaikan begitu membekas.” A.P.R.E.S.I.A.S.I (?)

Apresiasi atau katakanlah sebuah penghargaan. Bermacam-macam memang bentuknya. Namun apakah kemudian itu yang menjadi hasil atas kepuasan aktivitas kita ?          Banyak memang fenomena yang memperlihatkan begitu di apresiasinya seorang trainer, seorang ustadz/ustadzah, seorang motivator, seorang penulis buku, seorang yang mengisi majelis-majelis ta’lim kesana kemari, seorang dan seorang lainnya yang mungkin memang memiliki “tempat” di hati para penyanjungnya. Ahh… apresiasi bisa jadi menipu kita. Maka, epilog sang guru pun menutup proses aktivitas hari ini. Dan lagi-lagi hati kami merasa tercabik mendengar dan merenungkannya.

“Di puja-puji oleh orang atau di apresiasi oleh orang itu BUKANLAH KEMULIAAN. Kecuali kita memang tahu dan benar-benar mengamalkan apa yang kita ketahui.” begitu tegas beliau sampaikan dan penuh dengan aksen.

“Maa amilta fii maa alimta,…” tambahnya menekankan. “Apa yang telah engkau amalkan dari apa yang kau ketahui (?)” jelasnya.

Seketika hati terperanjat. “Sia-sia jika seorang trainer atau seorang da’i bangga dengan apa yang dia bicarakan namun tiada ia mengamalkan. Itu munafiq.” . Rasanya darah ini berdesir kencang, seolah air menghujani hati ini begitu deras. Rabb… Astaghfirullah. Seketika suasana majelis itu menjadi hening, seolah semua terperangah dalam diam dan mencoba merenungi dalam diri. Kami dengan seksama mencoba menghayati apa yang menjadi epilog sang guru sepulangnya mengisi suatu forum di luar kota dan beliau sempatkan bertandang menemani kami, yang masih dengan bangga berbagi pengalaman aktivitas kami selama ini. Bangga (?) Ahh… begitu hinanya tanpa kita sadari.

Apalah arti apresiasi ? Jabatan ? Posisi ? Yang selama ini dengan bangga dan senang hati kita rasakan keberadaannya menyelimuti aktivitas-aktivitas ini. Puja-puji orang-orang di sekitar kita, layakkah bersandar dalam diri kita ? Layakkah kita banggakan ? Layakkah menjadi kepuasan ? Layakkah ia menjadi modal kita menuju syurga-Nya ??? TIDAK.

Seorang trainer, seorang da’i dengan seluruh aktivitasnya apakah tak melihat bahwa itulah yang sedikit demi sedikit menggerogoti amalan-amalan hatinya ? Rabb… diri ini masih begitu hina. Ilmu yang selama ini kita dapat hanyalah secuil bekal bagi kita untuk membeli tiket masuk ke syurga-Nya. Bagaimana dengan amalannya ? Bagaimana dengan hatinya ? Dimana kita meletakan IA dalam setiap aktivitas kita ? Dan hari ini, hati begitu tercabik, perih.

“PR utama seorang trainer adalah mentraining dirinya sendiri.” Tambah sang guru, dan teringat lagi dengan tulisan tahun lalu. ( http://annisarachmawati91.blogspot.com/2012/01/be-trainer-tulisan-tanggal-10-november.html )

“Sebelum engkau selesai menyelesaikan urusan orang lain, maka selesaikan dahulu dirimu.” Setidaknya itu lah poin yang dapat diambil. Ketika kita mampu berbicara di depan banyak orang dengan penuh kemantapan, pertanyaannya adalah “apakah engkau juga mengamalkan apa yang kau bicarakan?” Sekali lagi hati tercabik. Lalu pantaskah sebuah apresiasi bersandar dalam dalam diri ? Di elu-elu kan di hadapan banyak orang, disinggung namanya setiap hari, dibanggakan kehadirannya, dan kita dengan senang hati menikmati semua itu. Lalu dimanakah kita meletakkan IA dalam setiap aktivitas-aktivitas kita ? Sementara kita pun belum selesai mengamalkannya dalam keluarga kita. Di saat kita sibuk menghadiri forum-forum yang dihadiri puluhan bahkan ratusan orang, dikala diri serius menyiapkan materi untuk mengisi kajian-kajian, ketika tak henti kita mendatangi kota demi kota untuk menyampaikan setiap apa yang ingin kita sampaikan dihadapan banyak orang, apakah semua itu kita lakukan pula dalam keluarga kita ? Ayah, ibu, kakak, adik, suami, istri, anak ??

“Quu anfusakum wa ahlikum naaro.” pungkas beliau.

Tak terasa air mata membasahi pipi. Merasakan butir-butir air tersedu membasahi ujung kelopak mata. Hati kami menangis, jiwa kami menangis, kami terdiam, dan ini teguran. Bahkan urusan mengantarkan kebaikan kepada keluarga pun masih dipertanyakan. Rabb… kami sadari jalan kami masih jauh, jauuuhhhh sekali untuk mencapainya (syurga). Bahkan hati kami masih seringkali terkotori, terkotori sendiri oleh amalan hati kami. Bahkan keikhlasan semata hanya untuk mengharap ridho-Mu dalam setiap aktivitas kami pun terselimuti oleh sanjungan, pujian, dan berbagai apresiasi duniawi. Lalu bagaimana apresiasi-Mu terhadap kami ? *Air mata semakin tak tertahankan, dan kami masih terdiam dalam refleksi dan renungan* Sementara Rasulullah di masa awalnya mensyiarkan islam, beliau sampaikan kepada mereka yang terdekat, keluarganya, bunda Khadijah. Lalu bagaimana dengan kita. Apakah kita telah selesai dengan diri kita masing-masing ? Apakah kita telah benar-benar mengamalkan apa yang sudah kita ketahui ?

Apresiasi, jabatan, posisi duniawi samasekali takkan bernilai jika kemudian ia melemahkan sikap dan keyakinan penghambaan kita kepada-Nya, semata kepada-Nya. Maka dimanakah letak ikhlas kita ? Sungguh, kita ini masih hina dimata-Nya. Masih sangat kecil dihadapan-Nya. Dibandingkan mata dan hadapan makhluknya, kita masih belum apa-apa. Syurga masih jauh. Syurga yang didalamnya penuh kenikmatan hakiki masih jauh dari rengkuhan tangan kita. Jauuuhhh. Rabb… masih jauh sekali, jauh. Maka apakah apresiasi makhluk-Mu adalah bentuk kemuliaan ? BUKAN. Kemuliaan itu hanya kami dapat dari-Mu. Sungguh diri kami masih jauh dari baik, masih panjang perjalanan kami, masih banyak yang harus kami renovasi. Hati kami, jiwa kami, amalan kami, ilmu kami, jauhh… Jauh sekali.

“Rabb, jauh keikhlasan kami dari kesempurnaan, jauh upaya kamu dari kesungguhan, masih hina diri ini dalam setiap amalan, begitu panjang perjalanan kami untuk merengkuhnya (syurga). Bantu perbaiki kami dalam setiap aktivitas kami, pujian, sanjungan, apresiasi makhluk-Mu bukanlah perantara kami mencapai cinta dan ridho-Mu. Kami hanyalah manusia kecil yang berupaya, dan masih terus berupaya mencapai kecintaan-Mu. Masih berupaya semata hanya karena-Mu. Maka perbaikilah kami, jagalah kami dan keluarga kami untuk menyongsong kemuliaan yang hakiki, yaitu kemuliaan dari-Mu. Bukan kemuliaan makhluk-Mu.”

            Apresiasi, jabatan dan posisi itu tak berarti, jika ia melemahkan sikap dan keyakinan penghambaan kita kepada-Nya.~

Berilmu lah dan beramal lah dengan penuh keikhlasan (semata karena Allah). Lillah, Fillah, Billah.

Waallahu’alam bishowab, sesungguhnya lisan hanyalah perantara untuk menyampaikan, tulisan adalah perantara untuk mengingatkan, sementara kebenaran tetap milik-Nya. Milik-Nya.


*dan ini lah epilog yang luar biasa dari forum KECIL yang luar biasa*

Kamis, 31 Oktober 2013

Hujan dan Kehidupan


Apakah Hujan itu ?
            Ia adalah butiran-butiran kecil air dalam berbagai ukuran yang membentuk awan hujan. Jumlahnya berjuta-juta butir. Butiran yang besar menabrak yang kecil dan bergabung lalu membentuk butiran yang lebih besar. Ketika butiran ini menjadi besar dan berat, maka kemudian mereka akan jatuh ke bumi. Jika suhu berada di atas titik beku, mereka jatuh sebagai titik hujan. Semakin besar butirannya, semakin cepat jatuhnya mereka ke bumi. Dan kita akan mampu merasakan butiran-butiran air itu ketika hujan menimpa kita J.

Hujan dan Kehidupan
            Ketika hujan turun, airnya berkumpul dan dalam perjalanannya sebagian air hujan ini akan meresap ke dalam tanah. Tetumbuhan pun menyerapnya sebagai sumber kehidupannya. Akar dan batangnya terdiri dari kumpulan tabung yang sangat kecil yang dapat menarik air ke dalam dan sepanjang tabung ini. Lalu melalui akar dan batang, air disalurkan ke daun. Dari daun ia menguap ke udara lalu kembali membentuk siklus. Sama seperti tumbuhan, hewan pun membutuhkan hujan dalam kehidupannya. Genangan-genangan air, sumber air, sungai dan danau banyak dicari oleh makhluk.
            Semua makhluk hidup membutuhkan hujan. Tanpanya, semua makhluk hidup akan kekurangan sumber makan dan minum. Sudah menjadi ketetapan-Nya bahwa kita tergantung pada hujan, untuk menumbuhkan tanaman untuk kita makan, untuk menghidupi hewan. Air yang meresap ke tanah pun dapat dimanfaatkan untuk membuat sumur. Maka dari hujanlah kita mampu bertahan. Ia selalu mampu memberikan kemanfaatan-kemanfaatan bagi seluruh penghuni bumi.
            Dan darinya lah kita mampu memahami akan kecintaan Rabb semesta alam kepada seluruh makhluk-makhluk yang ia kasihi. J
            Hujan adalah salah satu cara Allah berbicara padamu tentang rahmat-Nya.~

Setelah Hujan, Akan Hadir Pelangi J
            Ketika hujan mereda, maka setelah itu muncullah pelangi bersama senyum lengkungnya J.~
            Dari manakah pelangi itu berasal ? Biasanya kita mengira bahwa sinar matahari tidak memiliki warna. Banyak para ilmuwan menyebut warna itu sebagai “cahaya putih”. Namun sebenarnya cahaya ini terbuat dari berbagai warna yaitu merah, jingga, kuning, hijau, biru, nila (indigo), dan ungu yang kemudian biasa kita sebut sebagai Pelangi. Ketika matahari menyinari butiran air hujan, butiran air ini memecahkan cahaya sehingga terbiaslah warna-warna dari butirannya. Warna-warna ini kemudian membentuk setengah lingkaran (busur) yang indah di pelataran langit. Itulah pelangi, yang mempertunjukkan keindahannya setelah air hujan membasahi bumi. J

Bahwa setelah hujan turun akan selalu ada pelangi. J~

Bahwa Allah akan selalu memberikan kebahagiaan setelah tangis kesedihan.~


(sumber : A. Patricia Sechi. "Mengenal Ilmu: Hujan". 2001. Grolier International Inc.)

Senin, 28 Oktober 2013

Pandai VS Tekun


“Orang yang sukses itu bukan lagi mereka-mereka yang pandai,
tapi orang yang sukses itu adalah mereka yang tekun.”
-Hasrul Hanif, 2013- *dosen pembimbing skripsi*

          Ya, aku teringat sekali pesan dosen pembimbing ku itu ketika sore di kantor PLOD UGM kami berdiskusi tentang skripsweet J. Dari sini juga aku ingin menekankan bahwa orang-orang yang mampu menyelesaikan urusannya dengan cepat dan tepat, jangan kemudian di judge “mereka terburu-buru”. Bukan. Tapi karena mereka tekun. Dan semua orang akan memiliki masanya masing-masing kok, memiliki proses masing-masing, dan memiliki upaya masing-masing. Well, pesan dosenku itu lah yang membuat keyakinan dan kekuatan upayaku bertahan hingga kini dan mengantarkanku hingga titik ini.

            Bersyukurlah orang-orang yang dikelilingi oleh mereka yang mampu memberi nasehat di sela-sela ucapannya. Dan bersyukurlah aku menjadi salah satu yang beruntung itu bahkan ketika berada di fase dimana banyak orang seolah menganggapnya sebagai “momok” (skripsi). Come on ! Jangan lagi anggap skripsi itu sebagai hal yang menyeramkan, membosankan, dan lalalalalala. Jangan meng-kambing hitamkan skripsi. Jika masih ada yang menganggap seperti itu berarti masalahnya bukan di skripsi, tapi di dalam diri sendiri. Hayoloohhh! “Ahh, itu kata lo karna udah selesai skripsi aja ! Dulu kalik lo juga sama nganggap momok.” Ya, memang iya, itu terjadi ketika awal berada di fase itu. Tapi ketika kemudian berbagai kesulitan menghadang di fase itu, sikapku bukan kabur dari masalah, dan mengabaikan apa yang harus diselesaikan, tetapi justru harus dihadapi. Ubah mindset, perkuat keyakinan dan optimisme ditambah tancapkan husnudzon pada Allah dalam setiap prosesnya. Bukankah Allah itu sesuai dengan prasangka hamba-Nya (?). Jika kita berpikir ini akan sulit, jadilah sulit. Jika kita berpikir kita bisa menjadikannya mudah, jadilah Allah permudah. Kun Fayakun!

            Aku mampu berbicara seperti ini dilatari karna telah mengalami, sudah menjalani, dan sudah menikmati prosesnya. Bukankah satu bentuk sikap syukur atas sesuatu itu adalah mengambil pelajaran (?). Begitulah skenario langit dibentuk.

            Oke, kembali ke benang merah. Dalam hal ini perkara pandai atau cerdas itu bukan lagi menjadi faktor utama seseorang untuk berhasil dalam setiap prosesnya. Jika ia pandai tapi niat dan upayanya NOL, ya sama saja bo’ong. 

90% Kemampuan yang kamu miliki sementara Kemauannya hanya 10%, itu akan sia-sia. Berbeda dengan jika Kemauan yang kamu miliki 90% dan Kemampuan 10%, itu justru lebih berarti.

Dari sini bisa dipahami bahwa perkara utamanya adalah masalah TEKUN atau tidaknya seseorang, niat dan upaya seseorang seperti apa itulah yang menentukan keberhasilannya. Orang cerdas memang penting, memiliki banyak ilmu dan wawasan luas itu penting. Tapi percuma jika ia tidak mengupayakan ilmu nya secara tekun. Apakah hanya dengan bekal ilmu saja lalu dengan sekejap kita menjadi orang sukses ? Ngimpiiii !! Nih yaa, Imam Ghazali sang ulama besar saja sudah berpesan,

“Seseorang tidak akan mencapai kebahagiaan kecuali dengan ilmu dan ibadah. Semua orang akan binasa kecuali mereka yang berilmu. Semua orang yang berilmu pasti akan binasa kecuali mereka yang beramal. Dan semua orang yang beramal pasti akan binasa kecuali mereka yang ikhlas.”
*dikutip dari buku Menata Niat, Mewujudkan Ikhlas, Dr. Yusuf al-Qaradhawi*

          Kuncinya ada dalam niat dan upaya yang kemudian menjadi elaborasi panjang dari tekun/rajin/konsisten/disiplin. Niat untuk berilmu, niat untuk beramal, dan upaya untuk mengemas semua itu dalam bingkai keikhlasan. Bahwa dengan ikhlas kita artikan sebagai sikap husnudzon pada Allah atas proses yang terjadi untuk mencapai apa yang kita maksudkan sebagai SUKSES. Sementara niat merupakan komitmen kuat yang terpatri dalam hati dan terealisasi dalam diri. Ada keyakinan ada upaya, maka TEKUN akan kita dapatkan. Coba kita ingat lagi ada pepatah yang mengatakan bahwa di dunia ini tidak ada manusia bodoh, yang ada hanyalah manusia malas. Maka pangkal dari apa yang ada dalam diri kita, ilmu, amal, keberhasilan, kesuksesan adalah dari ketekunan. Ketekunan kita dalam berupaya dan ketekunan akan keyakinan dalam diri kita bahwa ini adalah proses-Nya yang membentuk kita. Begitulah skenario langit terbentuk.


            Well, semoga yang membaca mampu menarik simpul nya masing-masing J, aku menulis hanya berupaya untuk mengantarkan. Karna aku pun masih dalam proses belajar. Semoga refleksi ini mampu mengajak yang lain juga untuk merenung. Bahwa ada kekuatan-kekuatan yang bekerja yang mampu mengantarkan kita pada kesuksesan. Kekuatan upaya dan kekuatan keyakinan. Semoga bermanfaat. Selamat menikmati proses masing-masing menuju kesuksesan yang hakiki J


Waallahu'alam.

*spesial  buat yang lagi nyekripsik :) *