Kamis, 02 Januari 2014

Pelukan Penguat Rasa

Aku merindukannya,
Merindukan ia, ia, dan ia,
Mereka…
Yang senantiasa penuh cinta.

Aku merindukannya,
Mereka yang dilingkupi rasa cinta
Cinta pada Rabb-nya
Menyatukan dan mempertemukan kita.

Aku merindukannya,
Mereka yang dilingkupi nasehat sejuta
Tapi entah mengapa
Rasa gengsi mengalahkannya.

Aku merindukannya,
Mereka yang menjadikan aku adiknya
Mereka yang menjadikan aku saudarinya
Dan yang menjadikan aku sahabat di setiap masa

Suka dan duka,

Tapi rasa gengsi mengalahkannya
Hingga akhirnya aku hanya diam menahannya
Rasa rindu yang tak mampu ku ungkap dengan kata
Dan rasa gengsi mengalahkannya.

Aku ingin mengatakan pada mereka,
Masihkah cinta dan sayang bertandang di hatinya (?)
Untuk menyapa adik kecilnya,
Menyapa sahabatnya, yang gengsi sejuta

Sembari memberikan pelukan hangat penuh cinta
Mengusap kepala kecil berbalut hijab mahkota
Dan berbisik di ujung daun telinga,
“Allah bersama kita…”

Aku merindukannya,
Mereka yang penuh suka setiap kali kita bersapa
Tapi rasa gengsi mengalahkannya
Mengalahkan pula bibir yang ingin berkata

“Sepertinya aku lemah… dan benar-benar ingin kau peluk… sebagai penguat rasa.” 

Senyuman Senja

Senja merekah dibalik awan
Ia melaju di atas jembatan
“Indah nian…”
Katanya, menyaksikan

Sore membawanya pulang
Bersama mentari yang tenggelam
Hingga akhirnya hilang
Hingga tak nampak di ujung temaram

Senja tengah berbicara padanya
Akan sebuah kehidupan
Bahwa semua akan tiba pada masanya
Bahwa akan ada pergantian

Seperti siang dan malam,
Saling berganti
Seolah mengajak paham,
Akan arti melengkapi

Itulah kehidupan,
Semua masa akan berganti
Menjawab segala pertanyaan
Menemui waktu untuk membuatnya mengerti

Dan
Di balik senja,
sembari mengusap pipi yang basah
Kemudian ia berkata,
“Jangan resah…”

Dengan ikhlas senyum pun merekah J






Pejalan~

Hutan Pinus, Imogiri

Layaknya pejalan. Ia harus mampu dan selalu membiasakan setiap barang bawaannya tersusun dan tersimpan rapi dalam ransel. Hanya ia yang paham bagaimana menata setiap isi ransel dengan baik agar tak mudah tercecer. Begitulah cara pejalan menjaga barang-barangnya agar kemudian barang itu tetap terjaga hingga sampai di tujuan perjalanan, bersamanya.

Rabu, 01 Januari 2014

-2014-

“Suara adzan berkumandang, tapi sayang aku masih dalam keadaan belum ‘suci’ untuk menunaikan kewajiban. Maka, aku hanya masih duduk terdiam mendengar lantunan adzan sembari menulis tulisan ini diselingi suara bising roda kereta yang mulai melaju. Entah, apa yang di rasa saat ini. Hanya, merasa hati gundah menyambut tahun depan yang tinggal menghitung jam.

Tetiba airmata mengumpul diujung kelopak,. Hingga tak tertampung dan akhirnya tumpah. Ya, waktu semakin berlalu terus berjalan hingga entah dimana ia akan menemukan ujungnya. Seperti kereta-kereta ini, yang setiap hari tanpa henti melaju hingga tiba ia di tujuan mengantarkan penumpangnya. Entah, aku hanya merasakan suasana kesedihan untuk menyambut tahun depan. Entah, aku hanya seolah tak mampu menilai sejauh mana diri ini berusaha terus memperbaiki diri.

Yang aku pikirkan di pergantian tahun ini, tak ada yang spesial untuk dirayakan dengan kesenangan. Tak ada. Yang spesial adalah bahwa ada banyak hal yang perlu disiapkan untuk disambut. Banyak hal yang harus dijemput. Dan entah kenapa justru airmata mengalir menikmati kesedihan, memikirkannya karna rasanya hanya biasa saja. Bahkan yang spesial tentang hal ini rasanya pun biasa saja.

Banyak hal yang harus dijemput dan banyak hal pula yang akan segera datang. Namun aku biasa saja.”


31 Desember 2013~

Say “Haii.. 2014 !”, well… finally kita bertemu juga. Tapi pertemuan kita sepertinya tak seindah yang dulu ku bayangkan. Muqoddimah yang tak seantusias tahun-tahun sebelumnya. Aku paham masa akan segera berganti dengan ceritanya masing-masing. Dan setiap cerita akan ada masa nya sendiri. Setiap momen akan menemukan masa nya sendiri. Setiap perubahan fase kehidupan akan bertemu dengan masa nya sendiri. Tapi entah apa yang terjadi, aku merasa masa di tahun 2014 ini tak se-gairah aku menyambut tahun-tahun sebelumnya. Menyesal ? iya. Menyesal karena harus menyambut 2014 dengan kondisi hati seperti ini. Jadi toh pembukaannya tak seindah yang dirangkai mata dulu. Alhasil, 2014 yang penuh target-target besar yang kurangkai tahun lalu seolah tak spesial dulu.

Jumat, 27 Desember 2013

Outing SD Rejowinangun :) *belum selesai*








Outing "Ukhuwah" Pengajian An-Nisaa' ( JAN Training Corporation )

Laguna Pantai Glagah, Lokasi Outing yang kece banget pemandangannya, adeemmm ^_^


Jeprettt dulu ! :D -JAN Training-


Kerja sambil jalan-jalan sambil menikmati kebesaran Allah ya kayak gini iniii :p


Ini diaa ibu-ibu super kece nan sholihah yang semangat sekali untuk kita ajak outing bersama :D 


Kita stretching dulu biar panaaasss semangaattt ibu ibuuuu ALLAHU AKBAR *sambil kepal tangan ke atas langit !!! :D 


Deeuuyyy udah mulai ngos-ngosan ya buuuu :D Alhamdulillah ototnya udah renggang.


Nah !! Kita main "Sekoci-Sekoci" yaa... saya minta sekoci berdasarkan jumlah anak !! *gruduukk.. gruduukk.. ibu-ibu heboh cari temen :D "


Saatnya memahami Bahasa Tarzan ! U.. uu.. uu.. ukk *sambil gerakin bahasa isyarat*


Yuk pijet-pijetan dulu biar rileks... "Pijat hujan gerimiss...! Hujan Deras...! Hujan Badai.... ! Petiiirrrr !!



Duhhh Romantis nyaaa :3 , main Balon Romantis dengan kaki salah satu menopang di atas kaki
pasangannya :) saling menanggung beban sodaranya ya buuu :)


Tertawa bersama ibu-ibu An-Nisaa' :) 


Alhamdulillah.... membersamai ibu-ibu itu tidak beda jauh asyiknya dengan membersamai anak-anak SD-SMA ^_^ semua ada nikmatnya masing-masing. tapi yang selalu aku rasakan setiap kali membersamai ibu-ibu itu adalah keceriaannya yang melebih anak-anak. Bagaimana tidak se-ceria itu ?? wong setiap hari sibuknya ngurusin anak-suami yang mereka cintai sepenuh hati, perlu juga sekali-sekali melakukan aktivitas-aktivitas seperti ini agar lebih semangat melayani keluarga dan bergaul dengan baik dengan tetangga tanpa melupakan nilai-nilai yang perlu mereka pahami yaitu "Ukhuwah". Mengenal, Memahami, dan Tolong-Menolong serta Saling Menanggung Beban. :)


Kamis, 26 Desember 2013

Diskusi Pendidikan #1

Bismillah.

Aku mau share hasil diskusi pendidikan yang rutin kami (JANTraining) adakan setiap kamis bersama Ustad Fauzil Adhim, Ustad Bagus, Ustad Fatan Fantastik dan Mas Denis Dinamiz. Sembari menikmati berbagai jenis kopi suguhan dan koleksi Ustad Fauzil diskusi semakin nikmat. Hehehe 

Kopi Robusta Toraja, tingkat keasaman lebih rendah dibanding kopi di bawahnya :)

Kopi Arabica Toraja+Kintamani, tingkat keasamannya lebih tinggi dan warna lebih hitam :)



Nah, prolog yang membuat tercengang mengenai kurikulum pendidikan Indonesia tahun ini (2013) disampaikan oleh Ustad Fauzil. Jeddeeerr !! Ternyata, dibalik pembuatan kurikulum pendidikan tahun 2013  ada campur tangan dan konstruksi pikir oleh salah satu ideolog JIL sekaligus pendiri JIL. Beliau juga diamanahi untuk terlibat dalam membuat kurikulum pelajaran Sastra mengingat beliau juga sosok budayawan. He is Gunawan Mohamad. Yes, dalam buku “Kurikulum 2013 : Tanya Jawab dan Opini” beliau menyampaikan kekecewaannya terhadap kurikulum pendidikan tahun ini yang ternyata tidak begitu sesuai dengan harapannya. Bahwa kurikulum tersebut terlalu berlebihan dalam mengikutsertakan nilai-nilai keagamaan. 




Well, yang ingin aku tekankan di sini adalah “Mengapa orang dengan alur pikir seperti beliau dilibatkan dalam pembuatan kurikulum pendidikan Indonesia ?”. Jelas itu akan mempengaruhi bentuk atau konstruksi pikir kurikulum pendidikan di tahun berikutnya bukan ? Dan akan lebih menjelaskan lagi bahwa itu kemudian akan merusak tatanan nilai agama yang ingin disampaikan kepada generasi berikutnya. Mau dibawa kemana pendidikan Indonesia kemudian jika bahkan nilai agama berusaha dihapuskan dari kurikulum Indonesia. Wooaahhh, yang kemudian saya tangkap adalah “Ya, inilah bentuk Scientologi di abad ini yang berusaha memperjuangkan “illah” nya dalam dunia pendidikan. Lebih banyak menyembah akal dan ilmu pengetahuan dibanding “Yang Maha Memiliki dan Memberi Akal serta Pengetahuan.” Siapa DIA ? Ya, jelas Allah SWT. Bahaya nih bahaya ! Dan memang fenomena seperti ini sudah tidak jarang kita temui dalam berbagai bidang kehidupan kita. Berbagai macam bentuk ideologi sudah menjadi fitrah hawa nafsunya untuk dapat mengendalikan segala proses kehidupan berbangsa dan bernegara. Inilah pentingnya kita untuk berhati-hati dalam menerima segala bentuk informasi dan pengetahuan, semua itu perlu filternya, yaitu Al Quran dan Sunnah.
Gunawan Mohamad juga menyampaikan bahwa sesungguhnya besar harapannya Indonesia mampu melahirkan seorang “Stephen Hawking”. 


Akan menjadi kekacauan pendidikan jika kemudian impian-impian perkembangan dan keberhasilan pendidikan Indonesia akan berdasar pada tokoh ini, menjadi tolak ukur lahirnya generasi yang berkualitas. Tak heran jika kemudian moral anak-anak Indonesia justru semakin buruk, wong di kurikulumnya sendiri saja dikonstruksi dengan alur pikir yang seperti itu. Mengesampingkan nilai-nilai ke-Tuhan-an dibandingkan akal dan ilmu pengetahuan. Sementara moral itu dasarnya ada pada pendidikan agama yang didalamnya termuat akan rasa penghambaan terhadap “Sang Pemilik Segala”, Yang Maha Mengontrol setiap tindak tanduk kita selama di dunia. Maka jelas bahayanya jika kurikulum yang melibatkan konstruksi pikir Gunawan Mohamad ini akan merusak aqidah dan akhlak generasi penerus Indonesia. Waspadalah bagi yang ingin menjadi guru, perhatikan pula hal-hal yang seperti ini. Pak Mentri, tolong pikirkan dan pertimbangkan kembali siapa-siapa saja yang penting, perlu, dan BAIK untuk dilibatkan dalam proses pembuatan kurikulum. #Pray4KurikulumPendidikan2014.

Semoga Manfaat !