Selasa, 04 Februari 2014

Diskusi Pendidikan #2 : Motivasi

Bismillah.
            Akhirnya bisa nulis juga hasil diskusi dengan jajaran guru-guru saya yang tiap kamis pagi diadakan di rumah Ustadz Fauzil Adhim. Diskusi kali ini sangat menarik karena kita membahas tentang motivasi yang kemudian kita kerucutkan dalam sudut pandang islam. Hihihi… sebelum mulai diskusi, seperti biasa ada suguhan kopi enak dari Ustadz Fauzil. (sorry guys ane lupa nggak minta potonye, lupa namanye pula, jadi nggak di aplot deh ^^v ).

            Diskusi yang senantiasa dihadiri para pakar parenting dan pendidikan ini sebenernya bisa-bisa saja dibuka untuk umum. Tetapi sembari diusahakan, kami-kami yang biasa nongol di diskusi ini dulu yang hadir. Ada Ustadz Fauzil Adhim (pakar parenting), Ustadz Bagus Priyosembodo (pakar pendidikan), Ustadz Fatan Fantastik (Direktur+Trainer JANtraining), Deniz Dinamiz (Trainer JANtraining), dan kami-kami para murid (sekitar 7 orang) yang masih sedikit ilmu berlomba-lomba mengais dari beliau-beliau tadi. Well, bahasan kali ini cukup lezat dan nikmat (ngelirik kopi dan camilan khas gunungkidul, Tiwul dan kawan-kawannya :-9 hahaha). So, Yuk kita mulai !

            Menyusup sebentar ke ilmu psikologi ya, dalam ilmu psikologi motivasi itu ada,

Highly Motivated

(motivasi tinggi)


Motivated

(termotivasi)

Unmotivated

(tidak ada motivasi)

Demotivated
(motivasi turun)

            Demotivated adalah kondisi dimana seseorang sebelumnya memiliki motivasi tinggi (highly motivated) kemudian “njegleg” atau menurun drastis karena alasan tertentu yang kemudian membuatnya tidak bermotivasi lagi. Atau bisa juga, seseorang dimotivasi dengan alur demotivated kemudian termotivasi, tapi cara ini jarang digunakan karena cenderung melalui cara meremehkan diri yang kemudian bisa jadi akan menjatuhkan mental seseorang, itu tidak sesuai fitrah. Unmotivated adalah kondisi dimana seseorang sejak awal memang tidak memiliki motivasi. Hal ini bisa jadi karena tidak ada asupan motivasi dari lingkungan sekitarnya atau memang di lingkungannya memang tidak menumbuhkan iklim motivasi, sehingga seseorang tidak dapat menangkap sinyal motivasi. Kondisi unmotivated bisa berubah menjadi motivated bahkan highly motivated jika memang ada dorongan motivasi dari dalam (motivasi intrinsik) dan motivasi dari luar (motivasi ekstrinsik). Highly motivated adalah kondisi seseorang yang memang memiliki motivasi tinggi.

            Nah, karena kita ingin menilik motivasi tersebut dari sudut pandang islam, maka kemudian kita mengenal motivasi itu dengan “TARGHIB” (membuat rasa senang secara batin) dan “TARHIB” (menanamkan rasa takut). Secara bahasa targhib dalam bahasa Arab berasal dari kata raggaba yang berarti membujuk untuk menjadi suka. Sementara tarhib berasal dari kata rahhaba yang berarti menakuti. Secara istilah, menurut Abdurrahman An-Nahlawi, targhib adalah suatu janji yang disertai bujukan dan rayuan untuk menunda kenikmatan namun penundaan tersebut sifatnya pasti baik dan murni karena dilakukan melalui amal sholih. Tarhib adalah ancaman melalui hukuman yang disebabkan oleh terlaksananya sebuah dosa, kesalahan, atau perbuatan yang dilarang Allah.

            Dari pemahaman di atas maka motivasi dalam konsep islam ditumbuhkan melalui dua hal tersebut yaitu targhib dan tarhib. Efek dari targhib adalah meyakini, yang membuat seseorang itu mencintai (senang secara batiniyah dan emosional), dan akhirnya bersemangat untuk melakukan (meskipun tidak menyenangkan secara fisik dan materi). Nah beralih ke masalah tarhib yang sepertinya kita akan lebih banyak membahas tentang ini. Konsep tarhib itu berdasar pada Q.S. An Nazia’at ayat 26 bahwa “Sesungguhnya pada yang demikian itu terdapat ibroh (pelajaran) bagi orang yang takut (kepada Tuhannya).”  Di dalam rasa takut kita juga perlu mengenal 3 hal :

Khosy-yah : rasa takut karena kecintaan yang luar biasa/ta’zhim kepada Allah SWT.
Khouf : rasa takut karena bahaya, misal : neraka dan azab. Ini merupakan jenis rasa takut akan penderitaan di masa depan.
Hazn : rasa takut karena pengalaman masa lalu, misal : pengalaman disakiti.

            Kira-kira menurut kalian, mana rasa takut terbaik untuk bisa memotivasi diri ?? *senyum lebar* 3 hal tersebut memang mempengaruhi motivasi-motivasi yang muncul dari dalam diri kita. Namun, motivasi yang dipengaruhi oleh rasa takut karena kecintaan yang luar biasa (khosy-yah) yang membuat diri justru akan lebih produktif, karena segala apa yang dilakukan kita serahkan kepada Allah SWT. Seperti yang sudah Allah jelaskan di Q.S. Luqman ayat 22 bahwa “Dan sesiapa yang menyerahkan dirinya kepada Allah (yuslim), sedang dia orang yang berbuat kebaikan (muhsin), maka sesungguhnya ia telah berpegang teguh kepada buhul tali yang kukuh.”

            Urwatul Utsqa (tali yang kukuh), agar dapat bertahan dalam tali itu ada syaratnya, yaitu kita perlu menjadi manusia yang “Yuslim” dimana kita menyerahkan wajah kepada Allah (yuslim wajhahu ilallah), berserah diri. Memurnikan segala ibadah kepada Allah, atau bahasa awam yang kita kenal adalah IKHLAS. Kedua adalah menjadi manusia-manusia “Muhsin” yang senantiasa ber-ihsan. Melakukan amal-amal kebaikan sekecil apapun itu juga dengan ber-ittiba’ kepada Rasul, atau bahasa awamnya adalah NYUNNAH, menjalankan sunnah-sunnah. J Dari kedua hal tersebut kemudian akan menjadi elemen penting dalam diri kita untuk senantiasa termotivasi hingga memiliki motivasi tinggi dalam menjalani segala aktivitas karena rasa takut kita atas dasar kecintaan kepada Rabb semesta alam.

            Motivasi dengan rasa takut (tarhib) ini penting bagi diri seorang muslim. Rasa tarhib pada akhirnya yang membuat diri memiliki kesadaran tinggi atas urgensi dan fungsi manusia diturunkan ke bumi untuk senantiasa produktif beramal baik lillahi ta’ala. Bahkan ulama-ulama besar pun menjadikan rasa takut ini sebagai motivasi untuk berilmu, makin tinggi ilmu maka akan semakin tinggi pula tingkat keimanannya. Nah, rasa takutnya orang beriman akan membuatnya bisa paham akan ilmu dan pengetahuan.  So, apa dan bagaimana motivasi mu selama menjalani hidup di dunia ini ? *ngomong sama cermin* Semoga kita memiliki tingkatan motivasi yang paling tinggi untuk berproduktivitas di dunia ya… yaitu karena rasa tarhib kita didasari atas kecintaan yang luar biasa kepada Allah SWT, yang kemudian menjadikan diri kita orang-orang yang Yuslim dan Muhsin. J Waallahu’a’alam.

            Itu sedikit ilmu yang bisa aku share dari diskusi bareng para guru, semoga manfaat nggih. Kalau ada salah mohon diluruskan, karena manusia tempat khilaf dan dosa sementara kesempurnaan milik Allah semata. J


Referensi : Abdurrahman An Nahlawi, Pendidikan Islam di Rumah Sekolah dan Masyarakat, Jakarta: Gema Insani Press, 1995. Forum Garasi, Diskusi Pendidikan Kamis 16 dan 23 Januari 2014.
           


Senin, 03 Februari 2014

Sekali Lagi, Rindu.



Bahwa Rindu, meski ia begitu sesak, tapi doa selalu menjadi jalan untuk membuat semua begitu lega.~

*Log in Facebook Account*

Pagi ini, setelah lebih dari sebulan tak mengaktifkan facebook dan meminimalisir segala kegiatan di media sosial, tetiba hati sesak oleh rasa rindu. Aku memang sengaja meminimalisir aktivitas di media tersebut karena aku takut. Kondisi ruhiyah dan fisik yang sempat drop beberapa bulan lalu membuatku banyak berpikir dan berusaha semakin mendekat sama Allah. Aku tak ingin banyak mengeluh dengan apa yang aku kerjakan, aku tak ingin banyak mengomel dengan apa yang membuatkan gusar, dan aku tak ingin banyak bercanda dengan segala lelucon (tak bermanfaat), maka kuputuskan untuk mematikan aktivitas facebook dan mengurangi aktivitas twitter. Just blog and email aku berselayar, juga Whatsapp yang memang menjadi satu cara untuk keep in touch di lingkaran ukhuwah. Ya, aku tengah menjadi manusia yang belajar dan belajar menata 3 perkara hati.

            Pagi ini aku berinisiatif mengaktifkan kembali akun fb ku. Sekedar ingin menengok kabar mereka, mereka, dan mereka di sana. Ya, karena aku merasa SMS kini sudah tak begitu berguna (kecuali urusan kerjaan), selain aku juga tengah malas mengisi pulsa hehe. Aku tengok satu per satu akun sodari-sodari ku. “Rabb aku merindukan mereka… Jems, Ayu, Mbak Dea, Nia, Izzah, Bella, Mbak Yess, Mbak Alin, Ingar, Intan, Een, Deyni, Nuri, dll.”

Berbagai kabar pun menjadi topik andalan di beranda. Kabar suka bahkan kabar duka. Kabar tentang banyak kawan senagkatan yang melepas masa lajang dan masa gadisnya, dan aku turut bersyukur dan mendoakan mereka J . Ada juga kabar seorang kader dakwah yang melepas masa hidupnya di dunia untuk menemui Rabb yang dicintainya. Dua jenis kabar itu yang kemudian membuat dada semakin sesak karena dibalut rindu. Sebulan tak bertemu mereka dan mendapati banyak kabar lewat media sosial membuat mellow sekonyong-konyong. Ahh… bagaimana nanti jika “perpisahan” menemui waktunya ?? Yang satu demi satu akan kembali ke tanahnya masing-masing. Ya, itu juga yang menjadi alasanku untuk sengaja tak menemui dan jarang berkomunikasi dengan mereka, belajar untuk ditinggalkan. (aahh nggak enak banget bahasanya…) Saat ini memang semua di jogja, tapi suatu saat mereka akan pergi meninggalkan jogja, aku ? Ya, akulah yang mungkin entah sampai kapan akan tetap di sini dan selalu menjadi orang yang ditinggalkan. (bahasanya sarat ego banget ya..) Tapi bagimanapun, konsekuensi dari pertemuan adalah perpisahan toh ? Entah kapan, satu per satu dari kita juga akan merasa ditinggalkan dan meninggalkan. J Satu per satu akan kembali pada Yang Maha Memiliki. Seperti seorang mujahidah dari MIPA itu, walau aku tak mengenal tapi aku begitu merasakan banyak orang yang mencintainya karna dakwah, karna Allah. Ahh… super sekali mbak Anissah Dini. Membuat aku harus selalu mengingat akan KEPASTIAN itu dan mempersiapkan dengan baik.

Well, aku rindu kalian. Tapi gengsi mengalahkan. Maaf jika jarang menanya kabar tentang kalian atau mengSMS, WA, bahkan bertemu, tapi aku tahu segala hal tentang kalian. (Jangan salah, aku punya radar neptunus untuk selalu mengirim signal update diri kalian :p ) Aku hanya tengah berada di suasana berbeda di tempat yang berbeda, dengan rindu yang bertandang di sana, di wajah kalian. Semoga kalian tetap mendoakan aku, aku mendoakan kalian. Semoga meski rupa tak bersapa tapi hati tetap satu asa, cinta pada-Nya.

Well,
Jems… sabar ya nduk meski jatah wisuda musti mundur, tapi perjuangan kemarin itu kece sekali nyelesein skripsinya J

Ayu… duh, ibu asdos sibuk tenan. Jadi makin sibuk nih karna mengampu anak-anak di asrama :p. Sik penting tetep dalam kebaikan ya yuu…

Mbak Dee… ahh aku berharap kau baik-baik saja di sana dengan kondisi bencana yang tengah menimpa Sinabung. :-/

Nia… hmm.. parah lah kau ni… nggak pernah ngeWA aku, ngajak ketemu atau sekedar makan siang bareng. Ga kangen ??

Izzah… ibu birokrat sibuk beut dah. Nggak peka juga nih kalo gue nungguin WA nya tiap malem. Gue kan nggak enak mau ngeWA lo dulu bey, takut lo ternyata capek banget abis kerja jadi birokrat.

Bella… kangen sedikit terobati lah dengan kedatangan sejenak kemari bulan lalu. Banjir udah surut kan bel ? J

Mbak Yess… sedih adalah ketika mbak yess nggak peka aku kasih kode-kode buat ngobrol sebentar di WA. Aku sengaja kirim tausyah2 via WA tapi kadang dicuekin, atau cuma dibales emot doank L.

Mbak Alin… ustadzaahh… dari kemarin aku mau main ke rumah situ sibuk teyuuuss ssiihh jadi bu guluuuu… mau maiiiinnn T_T

Intan, Ingar Een… oooiiii yang lagi nyiapin diri mau sekolah lagii (intan ingar), dan yang lagi kejar setoran skripsiii (een) :D miss youuuuuuu !! aku yakin kalian juga kangen aku kan kan kan ?? satu buktinya een sms “Nisa kmrn diujung rasa kantukku, aku menulis hal2 yg harus aku lakukan hari ini. Entahlah… di urutan no.5 aku tulis “sms nisa”, jd skrg aku sms kamu hehe.” Oh jadi aku urutan no.5 een ??? oke fine! (hahahaha..)

Deyni… bu dokteerrr aku belom jadi jadi nih konsultasi gigi ke kamuuhh. Sebenernya alasan utama bukan karena gigi siihh… itu cuma alibi aja karna aku pengin ketemuuuuuu :p.

Nuri… nuy aku ngerasa beda deh ama yey. Sekarang knapa jadi somsek gitu ? biasanya kan kamu dikit-dikit “bun… bun… bun…” tapi tiap aku WA balesan yey singkat-singkat amat. Sedih tauu … aku kan pengin ada hiburan dari yey. Maap yak kalo aku ada salah. L

J J J mari kembali belajar 3 perkara hati, Sabar, Ikhlas, dan Syukur.
*again, Facebook Account is Deactive. J*


Rabu, 15 Januari 2014

Mawar Biru

kamu indah ... :)

tapi langka ... :/

juga mahal ... :/

tapi justru karna kamu indah, langka dan mahal...

kamu menjadi sangat berharga :')

Doa Rasulullah Ketika Keadaan Duka dan Lara

“Ya Allah, kepada-Mu juga aku mengadukan kelemahan kekuatanku, kekurangan siasatku dan kehinaanku di hadapan manusia. Wahai Yang Paling Pengasih di antara para pengasih, Engkau adalah Rabb orang-orang yang lemah, Engkaulah Rabbku, kepada siapa hendak engkau serahkan diriku ? Kepada orang jauh yang bermuka masam kepadaku, ataukah kepada musuh yang akan menguasai urusanku? Aku tidak peduli asalkan Engkau tidak murka kepadaku, sebab sungguh teramat luas afiat yang Engkau limpahkan kepadaku. Aku berlindung dengan cahaya Wajah-Mu yang menyinari segala kegelapan dan karenanya urusan dunia dan akhirat menjadi baik, agar Engkau tidak menurunkan kemarahan-Mu kepadaku atau murka kepadaku. Engkaulah yang berhak menegurku hingga Engkau ridha. Tidak ada daya dan kekuatan selain dengan-mu.”

(dikutip dari Sirah Nabawiyah, Syaikh Al Mubarakfuri)


Laa haula wa laa quwwata illa billah. 

Senin, 13 Januari 2014

Bandung (Ngasal) Adventure !

Well, sampailah kita di Bandung. Perjalanan dengan kereta emang lebih aku suka dibanding alat transport laiinya :) . Ane mah emang RocKer sejatiiii >_< (rocker : Rombongan cKereta) 

Seumur-umur, hampir tiap tahun ke Bandung sejak jaman orok dulu, nggak pernah ane liat ini gedung yang katanya jadi simbol Bandung bangetttt. Dan baru tahun 2013 ini ane kemari melihat langsung kek apa bentuk gedung ini broh ! *gini doank (?) *eh bagus sih soalnya asri pisan :)

Kurang kerjaan banget kan ke kota Bandung cuma mau liat gedung sate ?? Alhasil krn ga tau mau ngapain lagi, ya makin kurang kerjaan deh akhirnya keliling muterin gedung sate, dan wolaaaa nemu taman ini, Taman Lansia dg fasilitas plus Wifi broh ! *emang mbah-mbah jaman skrg yaa gaul pisan, udah pinter otak-atik sosmed :D*, Jogja punya kaga nih pak Walikota !?

habis rehat bentar nikmatin sejuknya taman lansia, iseng2 kita masuk ke area kantor Gubernur Bandung dan nemuin ini !!! :)))))) ahahahhahaha. Museum Pos Indonesia ! Yang namanya mbolang nyolong2 waktu mah gini emang bentuknye :p



Ini kotak pos jaman baheula broh ! lucu yaa, cuman sekarang nggak ada.

tolong yang ini abaikan saja !!

nah ini kumpulan arsip mengenai sejarah Pos Indonesia, maaf itu ada sedikit penampakan di kamera saya >_<

Ini adalah salah satu arsip dalam bahasa Belanda, uniknya meski pake bahasa belanda tapi visualisasi nya pake wayang lhoh ! perpaduan Jawa-Belanda yang memang dulu jaman pra merdeka kental banget. 


Nah yang ini arsip Pos Indonesia dengan bahasa Arab. Ane kira awalnya ini Al Qur'an broh, ternyata bukan -______-"

adek ane iseng jepret ginian, abaikan saja ! *eh tapi apik juga sih hahha, jiwa banget dia ahahah! oke skip !


Yaahh she's my sister, yang rela ane culik tiap kali mbolang ke Bandung *evil laugh*
Tiap ke Bandung nggak mungkin kalo nggak makin gendut >_< yaa gimana enggak, tiap kesini selalu culinary hunting eeuuhh. contoh nih satu, oleh2 yang wajib dibawa setiap kali mau balik pulang, Kripik tempe !! nggak pernah ketinggalan, tp ya nggak bosen2 :/

boleh ngicip semaunyaaa, ngicip sama beli banyak ngicipnya *ditabok penjualnya*

mesti selalu ada aja makanan baru tiap kemari, ini satu contohnya utk edisi 2013, OREO GORENG !! >_< aneh aneh aja orang sini bikin makanan, tapi selalu enak! ini enak broh ! biskuit oreo nya jadi lumer kayak bolu teksturnya.

Nahhh,,, ini paporit iniiihh. tiap ke Bandung kalo beli batagor cuma dipinggiran jalan aja kan, sekarang akhirnya bisa nyobain Batagor yg dr dulu udah di incer. Batagor H. Isan ! Mak Nyoossss ! makan pas lagi gerimis lagi kan uhuy ! eiitts tapi ini yang cabang Cimahi broh ! :)

Mantap ! panas-panas disuasana yang gerimis :-9. cuma 8000 aja broh ! per batagornya 2000 :D

pesan delivery ke Jogja bisa nggak pak ?? :-/

Sabtu, 11 Januari 2014

J-E-D-A


Dalam rangkaian kata, j-e-d-a adalah spasi. Dalam perjalanan, j-e-d-a adalah jarak. Sementara dalam bicara, j-e-d-a adalah diam.

            J-e-d-a dalam kehidupan bisa jadi adalah istirahat. Kondisi istirahat kebanyakan orang lakukan untuk me-refresh kembali kondisi dirinya. Menyegarkan segala pikiran yang penuh, menetralkan kondisi hati yang campur aduk. J-e-d-a adalah spasi dalam rangkaian kata, dan dalam bicara j-e-d-a adalah diam. Maka dalam kondisi j-e-d-a ini pun seseorang berusaha mencari ketenangan dalam diam. Memaknai segala apa yang sudah berlalu, mencoba untuk menaturalisasi dan menjadikannya sebagai hal yang akan dilupakan atau justru diingat. J-e-d-a adalah jarak, kondisi yang membuat seseorang membutuhkan waktu untuk berada dalam diam. Waktu berguna baginya untuk menata lagi segala yang penuh dan campur aduk, untuk menetralkan kondisi dirinya, pikiran dan hatinya. Untuk kemudian segala yang telah seseorang lalui akan dilupakan atau justru diingat.

            J-e-d-a.
            J-e-d-a adalah spasi dalam rangkaian kata, yang membentuk sebuah makna.
            J-e-d-a adalah jarak dalam perjalanan yang panjang, yang menciptakan alur cerita.
          J-e-d-a adalah diam dalam bicara, yang mengajak kembali berfikir dan menyegarkan pikiran serta hati sebelum esok kembali bertindak.

                 J-e-d-a. Kadang kita butuh j-e-d-a untuk menata kembali segala yang campur aduk.
            J-e-d-a. Kadang hidup membutuhkan j-e-d-a, untuk menetralkan semua, agar kemudian Allah melalui waktu memberikan jawaban terbaiknya. J-E-D-A.

Jumat, 03 Januari 2014

Universitas Kehidupan #6 : Belajar Dari Alam~


Merasa resah adalah satu fase bahwa kondisi hati kita sedang lemah. Jauh dari ketenangan, susah makan, ngelamun jadi kerjaan, dan akhirnya move on nggak kesampean. Susah memang ketika diri sudah jauh dari rasa tenang, karena kemudian perasaan jadi mudah terbawa emosi dan berubah menjadi penganut aliran metal ( melow total ). Resah biasanya muncul karena masalah dan akhirnya tenang jauh dari hati. Tapi ternyata, justru ketenangan itu disimpan Allah di dalam masalah, tinggal bagaimana kita mencarinya. Sunnatullah mengatakan bahwa semakin berat ujian semakin besar kemungkinan bagi kita merasakan bahagia yang sesungguhnya.
Maka di sini perlu kita memahami hidup dengan benar. Kita bisa belajar memahami hidup melalui alam, sungai misalnya. 


Sungai itu berlika-liku, ia terbentuk karena proses alam yaitu dari lahar yang mencair kemudian mengalir dan membentuk aliran. Hakikatnya adalah hidup berarti mengalir seperti air sungai. Apa cukup dengan mengalir saja? Tidak. Tapi kita perlu mengikuti garis takdir manusia yang memang lika-liku dan sudah terukir. Memahami bahwa hidup itu sudah terukir. Karena segalanya sudah terukir sebelum kita lahir. Kehadiran masalah dalam hidup itu adalah bentuk lika-likunya. Dan sejatinya yang membuat kita tidak tenang bukanlah banyaknya masalah, tapi cara kita menyikapi masalah tersebut.

Maka dari sini penting kita memahami takdir kita, mulai dari SEBELUM, KETIKA, dan SESUDAH. Dari sana kemudian kita akan mampu mengambil sikap atas keresahan-keresahan kita.
Sebelum takdir yang harus dilakukan adalah SABAR, Sabar itu sebelum. Buktinya adalah sabda Rasulullah SAW “Sabar itu adalah ketika pukulan yang pertama.” akan tetapi sebelumnya sudah mempersiapkan sebelum pukulan pertama itu sudah ada sabar dalam diri kita.
Ketika takdir yang harus dilakukan adalah IKHLAS. Ikhlas itu kelanjutan dari sabar, karena ikhlas adalah bentuk dari kesabaran kita.
Sesudah takdir yang harus dilakukan adalah PASRAH. Menyerahkan semuanya kepada Allah. Pasrah inilah yang membuat siapapun akan tenang.
SABAR, IKHLAS dan PASRAH.

            Kita bisa melihat pepohonan yang tumbuh di sekitaran kita. Jika hujan dia kehujanan, dia sabar, dia ikhlas, dia pasrah. Ketika terik matahari menyengat, dia sabar, dia ikhlas, dia pasrah. Ketika angin menggontaikan tubuh pohon itu hingga terhuyung, dia sabar, dia ikhlas, dia pasrah. Namun dia tetap kokoh, tegak berdiri di atas tanah. Hakikatnya memang begitu, watak alam itu selalu ikhlas dengan apa yang ditakdirkan Allah pada mereka. Maka belajarlah pada alam mengenai kehidupan, kesabaran, keikhlasan, dan kepasrahan.

รจ Cara menghadirkan S.I.P (Sabar, Ikhlas dan Pasrah)
Mencari kesibukan, menyibukkan diri. Itu adalah sikap kita untuk mempersiapkan takdir terbaik dari Allah. Takdir kehidupan itu memiliki pintu gerbang, yaitu waktu. Berdirilah meski sedetikpun waktu yang ada dalam hidup kita, kita gunakan untuk kebaikan dan kebermanfaatan. Jangan pernah dibiarkan kosong dari pikiran, perasaan, dan perbuatan baik. Karena jika dibiarkan kosong maka kita telah merelakan diri kita di jajah oleh syetan.

Apa itu pikiran, perasaan dan perbuatan yang baik ? Mari kita belajar lagi pada alam. Kita belajar pada Embun pagi hari yang menjernihkan dan menyejukkan.

Pikiran yang baik adalah pikiran yang jernih, sejernih embun. Embun selalu menawarkan kejernihan. Jernih adalah menyadari bahwa apapun yang terjadi itu semua atas izin Allah. Ketika pikiran jernih maka mudah bagi kita untuk SABAR.
Perasaan yang baik adalah perasaan yang sejuk, sesejuk embun. Embun selalu menawarkan kesejukan. Perasaan yang sejuk adalah meyakini bahwa apa yang ditakdirkan Allah adalah hamparan menuju syurga. Ketika perasaan sejuk maka mudah untuk IKHLAS. Katika kita beramal, besar kecilnya amal itu bukan terletak pada amalnya tapi kadar keikhlasannya.
Perbuatan yang baik adalah apapun yang kita perbuat itu pada akhirnya mampu pula menjernihkan dan menyejukkan diri orang lain. Subhanallah.
                                                                                     
Jangan Resah, Ada Allah~
Resah selalu dikaitkan dengan masalah, kita bingung, kita galau, kita resah. “Iman terbagi menjadi dua, setengahnya SABAR setengahnya lagi SYUKUR.” Orang yang beruntung adalah yang ketika resah kemudian membuatnya semakin dekat dengan Allah dan selalu menghadirkan Allah di setiap kondisi.

Tidak ada kata galau dalam islam, galau hanyalah tren, galau hanya faktor lingkungan. Sejatinya orang baik sekalipun punya masalah ia selalu ingat firman Allah dalam QS. Ali Imran 190-191 dimana ayat ini ketika turun waktu fajar Rasulullah menangis sembari berkata, “Celaka… Celaka… Celaka..” dan kemudian salah satu sahabat bertanya, “Ada apa gerangan ya Rasulullah ?”. Rasulullah menjawab, “Celaka umatku yang membaca ayat ini tapi tidak memahaminya.”

“Sesungguhnya dalam penciptaan langit dan bumi, dan pergantian malam dan siang terdapat tanda-tanda (kebesaran Allah) bagi orang yang berakal. Yaitu orang-orang yang mengingat Allah sambil berdiri, duduk, atau dalam keadaan berbaring, dan mereka memikirkan tentang penciptaan langit dan bumi (seraya berkata), “Ya Tuhan kami, tidaklah engkau menciptakan semua ini sia-sia, Mahasuci Engkau, lindungilah kami dari azab neraka.”

Maka, pun seharusnya seorang mukmin paham bahwa mereka juga harus menggunakan akal ketika masalah pada kahirnya membawa pada tidak tenangnya hati. Ketika melakukan kesalahan maka segera memperbaiki diri, tidak penting seberapa dalam engkau jatuh, tapi yang penting adalah seberapa cepat engkau bangkit. Ulul Albab (dalam QS Ali Imran 190) : kita diberi akal untuk berpikir dan bertindak.

Jangan resah, ada Allah, artinya bahwa semuanya sudah diatur oleh Allah. Baik dan buruk Allah yang Maha mengatur. QS. Al Maidah ayat 100, “Katakanlah Muhammad, “Tidaklah sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya keburukan itu menarik hatimu, maka bertakwalah kepada Allah wahai orang-orang yang mempunyai akal sehat, agar kamu beruntung.”

Jangan resah… karena,
“Tidaklah seorang hamba yang disusahkan oleh Allah kecuali ia sedang direncanakan oleh Allah menjadi pribadi yang besar. Tidak hanya di dunia namun juga di akhirat.”

Maka jadilah pribadi yang memiliki pikiran yang baik, perasaan yang baik, perbuatan yang baik dan yang senantiasa menggunakan akal untuk memahami kebesaran Allah atas segala sesuatunya, termasuk takdir-takdir yang direncanakan oleh-Nya. Maka semoga kebahagiaan itu hadir bersama ketenangan. Karena,
Kebahagiaan itu letaknya di hati~

*Catatan kajian Ustadz Syatori Abdu Ro'uf "Jelajah Hati: Mencari Ketenangan di Balik Ujian Hidup"
*Catatan kajian Ustadz Fadli Reza Noor "Jangan Resah, Ada Allah..."