Jumat, 20 September 2013

Universitas Kehidupan #5 : Simpel, Jangan Bikin Rumit !

Kadang kesabaran orang lain atas kita dan atau yang terlihat oleh kita dari mereka justru menguatkan kesabaran untuk diri kita sendiri.

“yo sing sabar nduk, berdoa, wis maem durung ?” (sms dari ibu)

Beginilah seorang ibu menenangkan hati anaknya, simple tapi menguatkan. Sebenarnya aku cukup merasa dan sadar, dihatinya pun diliputi kegelisahan seperti anaknya ketika memberi kabar padanya. Namun itu lah sosok perannya, berusaha sabar agar anaknya juga merasakan kesabaran itu. Bahkan ia sempat menyelip perhatian yang kadang kita abaikan. Astaghfirullah.

Hmm… hidup di dunia itu sama halnya kita belajar di Universitas Kehidupan. Berbagai amalan yang kita perbuat pasti pasang surut seperti air di laut kita temui, naik gunung turun lembah juga kita lalui, jalan berbatu dan terhalang debu juga kita jalani. Macam-macam kondisi dan situasi semua orang akan merasakan, yang berbeda bagaimana kemudian ia menyikapinya. Kadang masalah yang tiba-tiba menghadang kita, kita anggap itu adalah masalah besar yang akan rumit untuk diselesaikan. Tapi kita sering terjebak, karena sebagian besar itu emosi tanpa pemikiran panjang dan kompromi. Terlalu gegabah sehingga membiarkan hati teracuni oleh berbagai prasangka yang kita buat-buat sendiri. Astaghfirullah.

Itulah, kadang kita hanya cukup terdiam atau mungkin mencari lahan untuk sekedar mengobrol dengan sahabat, lalu semua terasa ringan. Mengapa ? Bisa jadi dari sana kita menemui kekuatan. Dari obrolan ini dan itu, canda haha hihi, mendengar ceritanya, di sana terselip pelajaran dan nasehat yang menyadarkan kita bahwa “Helooo… ternyata masalah gue nggak serumit gitu amat kali!”, “Ohh… masalah gue sebenernya simpel, gue aja yang ribet.”. Atau memilih diam, merenung, mencoba berpikir dan kompromi dengan akal pikiran dan hati. Ya, mencoba rileks dan mengais-ngais hikmah yang masih bertebaran di muka bumi, termasuk apa yang terjadi di diri lo sendiri ! hohoho.

“Oh, mungkin ikhtiar gue emang masih belum maksimal.”

“Bisa jadi emang gue belum ikhlas kemarin-kemarin itu !”

“Ohh… Allah mungkin masih pengin liat keseriusan gue, makanya gue masih diuji kesabarannya.”

“Apa niat gue masih belum lurus ya kemarin ?”

“Astaghfirullah… gue masih belum banyak HUSNUDZON sama Allah.”

Cek lagi, cek lagi, cek lagi, EVALUASI!! Eiittss… tapi bukan common sense doank ngeceknya. Evaluasi diri itu yang kita lihat amalan-amalan sebelumnya. Ya seperti yang diatas ini, landasannya ikhtiarnya, ikhlasanya, dan niatnya. CEK LAGI ! Mau nangis karena “Astaghfirullah… kemarin gue emang ….. (isilah titik-titik disamping ini sendiri),” monggooooooo ! Air mata itu kelembutan hati kok, J

“Surga itu dikepung dengan perkara yang tidak menyenangkan.”
Dan orang-orang yang bersabar lagi penuh keikhlasan menempuh ketidak-menyenangkan itu yang kelak mendapatkannya.
*CMIIW*
~sms ibu cukup membuat terpantik untuk kembali evaluasi diri.

~ini juga hasil evaluasi, masih belajar juga, dan mengajak untuk #YukBelajarBarengbareng.


Selasa, 10 September 2013

Menjaga FitrahNYA ^^

Untuk memperlihatkan ketangguhan seorang perempuan itu tidak harus berjalan “kelaki-lakian” atau bangga ketika ada yang bilang tomboy, kecowok-cowokan, lalala yeyeye. Tapi dengan menjadi diri yang teguh pada prinsip, jasmani dan rohani kuat atas segala pahit manisnya menjalani hidup, menjadi pribadi yang selalu mengamalkan syukur, ikhlas, dan sabar, emnjadi diri yang bisa diandalkan karna kecerdasannya, itu adalah bentuk ketangguhan seorang perempuan.


Pun untuk memperlihatkan keanggunan seorang perempuan itu tidak harus berjalan melenggak-lenggok, ketika berbicara mendayu-dayu, bersolek berlebihan, lalala yeyeye. Tapi menunjukkan kelembutan dan kasih sayang pada sesame, menjaga sikap dan tutur kata, menjadi pribadi yang selalu syukur, ikhlas, dan sabar serta teguh pada prinsip adalah bentuk keanggunan seorang perempuan. J

Bersinarlah dengan fitrahmu …

Kamis, 05 September 2013

~Rantai Pengikat~


Ini tentang sebuah untaian rantai yang terikat. Tentang perjalanan persahabatan yang terikat karna kecintaan padaNYA. Dan di suatu masa rantai itu akan semakin terikat karna berbagai rasa yang membuatnya tersimpul erat.

Pernah kah kalian merasa kehilangan mereka ?
Pernah kah kalian merasa bahwa diri tak berarti bagi mereka ?
Wajar lah, itu sisi luapan rasa sayangmu padanya.

Ada masa dimana semua tertawa bahagia,
Bercengkerama tentang asa,
Berbagi tentang rasa,
Hingga menumpahkan tangis bersama.

Ada masa dimana amarah membuncah,
Bergelut dengan kesabaran dan emosi,
Menggelayut di antara rasa sayang dan benci.
Itu lah masa dimana persahabatan tengah menempuh perjalanannya.

Namun sadarkah, ketika tawa bahagia bersama adalah momen kita merajut kisah.
Dan ketika duka dan amarah hadir menghampiri, adalah momen kita menambal lubang yang mungkin belum terlengkapi.

Pernah suatu ketika merasa kecewa, karna hal yang tak kuasa kita terima, namun itu adalah perjalanan memahami.
Pernah suatu ketika diri menghilang meninggalkan mereka tanpa sebuah alasan, namun itu adalah perjalanan belajar menghadirkan penjelasan.
Karna di suatu masa kelak penjelasan itu terangkai memberikan alasan tentang hakikat memahami.
Memahami bahwa semua tak selalu sama seperti yang kita bayangkan dalam sebuah persahabatan.
Memahami bahwa ada kalanya perbedaan menampakkan dirinya untuk menguji seberapa hebatkah pengertian kita terhadapnya, seberapa kuatkah rantai itu terikat.

Pernahkah sejenak kalian meninggalkan mereka ?
Bahkan dalam diam menghilang ?
Itu lah masa dimana diri mencoba memahami mereka dan juga memahami diri sendiri.
Memahami akan sebuah penerimaan yang lapang atas semua bentuk perbedaan.

Namun diam bukan berarti tak peduli.
Bahkan bisa jadi itu adalah bentuk kepedulian,
Peduli untuk memberikan waktu saling memahami dan mengerti,
Peduli untuk memberikan ruang saling menerima,
Peduli untuk memberi rasa saling terikat satu sama lainnya.

Diam bukan berarti tak peduli.
Dalam diam bisa jadi kita mengendap-endap memperhatikannya,
Dalam diam bisa jadi kita meraba mencari kabar tentangnya,
Dalam diam bisa jadi kita menghimpit berbagai prasangka,
Dalam diam bisa jadi kita merajut rasa untuk kita satukan di suatu masa.

Kemudian ketika masa itu tiba,
Kita bertemu dalam haru, memeluk dalam bahagia
Akan perjalanan persahabatan yang menampakkan kekuatan ikatannya.
Akan sebuah pemahaman yang telah kita rajut dalam sebuah rantai.
Rantai pengikat yang akan semakin mempererat rangkaian kisah tawa dan amarah atas nama cinta, cinta kepadaNYA.

Bahwa ini adalah sebuah kewajaran, yang membentuk kedewasaan kita atas penerimaan yang lapang. J

Sebuah syukur teramat sangat untuk kehadiran kalian atas pembelajaranku tentang hakikat memahami~


Persahabatan atas nama persaudaraan,

Senin, 02 September 2013

Dream it, Share it, Do it, Grow it !


Bismillah.
Hmmm… semalam aku bermimpi kembali membersamai mereka, ya, saudara-saudara Laskar Syurga. Membersamai untuk kembali bersama membangun mimpi menjadi seorang trainer handal. Well, akhir-akhir ini memang pikiranku terbayang-bayang oleh impian itu. Aku juga membayangkan markas besar yang senantiasa menjadi tempat belajar untuk mewujudkan impian itu. Mungkin mimpi semalam merupakan teguran dari Allah agar aku benar-benar menyelesaikan tulisan satu ini yang memang sudah kurencanakan sejak lusa lalu.

Oke, at this time aku ingin berbagi tentang sebuah impian, sebuah mimpi yang harus diperjuangkan untuk diwujudkan. Ngomong-ngomong tentang sebuah mimpi, aku yakin kita semua memiliki deretan mimpi bukan ? Yang membedakan hanyalah apakah kita menjadikannya sebagai utopis belaka atau memang kita perjuangkan benar-benar untuk meraihnya (?) Jika di tulisan sebelumnya aku telah menulis tentang “Visioner SMART” dimana didalamnya terdapat rumus-rumus dalam meraih mimpi, kali ini aku akan membahas seperti apa karakteristik pemimpi yang memiliki motivasi tinggi. J

Yup, jika aku memiliki mimpi untuk menjadi seorang trainer handal, mungkin kedengarannya biasa-biasa saja. Hahahaha, apa itu trainer ? (silahkan kepo di tulisan-tulisan saya sebelumnya ya :-p ). Tetapi yang aku tahu, menjadi seorang trainer itu tidak mudah, karena sebelum kau memutuskan menjadi seorang trainer maka saat itu pula kau harus berjuang keras “menyelesaikan dirimu sendiri”. Dan apakah aku sudah selesai dengan diriku sendiri ?? PR Besar ! Tapi jelas pasti kita memiliki banyak kesempatan untuk berproses dalam hal itu. Maka dari itu kita perlu memiliki karakteristik-karakteristik pemimpi bermotivasi tinggi ini untuk menjadi pacuan yang siap menampar kita ketika lengah mengejar mimpi-mimpi yang telah kita niatkan.

Selama satu tahun kemarin memang aku merasa telah melupakan mimpi itu karena memfokuskan diri menyelesaikan amanah-amanah kampus yang menjadi tanggungjawabku. Syukurnya, sejak kemarin aku terbayang-bayang oleh mimpiku yang satu itu, aku mendapatkan teguran dalam sebuah forum lingkaran cinta yang membahas tentang karakteristik pemimpi bermotivasi tinggi. Pucuk dicinta ulam pun tiba, ternyata haha. Woolaaaa, gayung bersambut. So, I will share it for you J .

Karakteristik Pemimpi Bermotivasi Tinggi (diambil dari buku Sebulan Hafal Al Quran karya Amjad Qasim).
Seorang Pemimpi yang memiliki motivasi tinggi mustinya memiliki karakteristik ini J,

1.   Tidak akan mengendurkan tali-temali tekadnya untuk meraih mimpi tersebut. Ini jelas bermula dari niat yang sejak awal tertanam dalam hati dan pikiran kita kemudian kita usahakan dengan penuh upaya mencapainya. “Faidza ‘azzamta fatawakkal ‘alallah”, bila kamu telah berazzam (membulatkan tekad), maka bertawakkallah kepada Allah. Ada rumusan bahwa upaya niat, usaha dan menyertakan Allah di dalamnya adalah sebuah kunci kesuksesan meraihnya.

2.   Tidak ridho dengan sesuatu yang remeh. Maksudnya, ia tidak akan menganggap mimpi-mimpinya adalah suatu yang remeh karena target yang ia pasang tidak semata target dunia tetapi SYURGA. Sehingga ia akan melakukan upaya-upaya yang maksimal, serius dan fokus ketika ingin meraih mimpi tersebut.

3.   Rela mengorbankan harta dan jiwanya. Wow, ngeri kah bacanya? Tapi itu bentuk komitmen kita, mimpi ini bukan lagi hanya berurusan dengan manusia dan dunia tetapi urusannya dengan Allah men ! Ridho Allah, lha iya kan ? karena target yang dipasang itu syurga kok.

4.   Memiliki kepercayaan diri, kekuatan dan tekad. Percaya diri dengan mimpi meskipun ada pula orang-orang yang mengolok-olok namun kita sudah memiliki kekuatan untuk mempertahankan diri agar tak terpengaruh dengan olokan tersebut. Karena kita sudah paham bahwa tekad kita kuat dan niat kita untuk kebaikan, masa bodoh orang mau mengolok apa. Setuju angkat sepatu ! hehehe

5.   Ia juga akan menyesali waktu yang tidak ia gunakan untuk berdzikir kepada Allah. Bahwa setiap apa yang kita usahakan dan lakukan untuk mimpi tersebut kemudian tidak melupakan keutamaan kita untuk senantiasa mengingatnya. Dengan cara apa ? ya, menyertakan Allah dalam setiap langkah kita dalam mimpi tersebut adalah bentuk berdzikir kepadaNYA. Bagaimanapun, Allah lah yang akan menentukan garis kepastian atas usaha-usaha yang kita lakukan. Sertakan Allah ! J

6.   Memiliki prinsip dan pikiran untuk berbuat kebaikan di dunia. Ini sudah jelas menjadi tugas seluruh umat manusia bukan ? “kuntum khairu ummatin ukhrijat linnaas ta’muruuna bil ma’ruf wa tanhauna anil munkar…”, kamu adalah ummat terbaik yang dilahirkan untuk ummat  manusia, yang menyuruh untuk berbuat ma’ruf dan mencegah kemunkaran... (QS. Ali Imran : 110).

7.   Tidak tertarik dengan sesuatu yang fana karena yang ia harapkan syurga yang nyata. Bahwa tidak hanya kenikmatan dunia yang fana yang akan berakhir di hari kiamat nanti, namun semata mengharapkan kenikmatan syurga kenikmatan akhirat yang kekal.

8.   Bermartabat, tidak sombong, tidak ujub atas mimpi-mimpinya, dan mampu memahami posisi dirinya sebagai pagar yang kokoh dan kuat. Bermartabat atas mimpinya bukan kemudian ia tinggi hati dan merasa “besar” dengan mimpinya, namun justru ia harus merendahkan hatinya. Memahami posisinya sebagai manusia yang tengah berusaha dan bertawakkal kepada Allah atas mimpi yang ia harapkan.

9.   Mandiri. Tidak mengandalkan nasab sebagai modal utama dalam berusaha meraih mimpinya. Kekayaan orangtua misalkan. Menjadi diri yang mandiri adalah bentuk keseriusan agar tidak mengandalkan kenikmatan dari orang lain untuk meraih mimpinya. Menjadi diri yang mandiri akan menambah poin plus bagi upaya kita sehingga ketika memetik hasilnya kita akan merasakan kenikmatan tersendiri.

Well, apakah karakteristik di atas terdapat dalam dirimu ? Oh, aku juga tengah menilai diriku sendiri. Ckckckckkc. Jika tidak ada minimal 5 poin karakteristik tersebut dalam dirimu, maka segera koreksi diri dan bersiap siagalah untuk merancang strategi-strategi jitu untuk meraihnya.

Oh, aku hampir lupa ingin menyampaikan bahwa ada rumusan lain yang juga akan membantu kita dalam meraih mimpi-mimpi kita. “Dream it, Share it, Do it, and Grow it”.

Dream it : semua berawal dari mimpi, berawal dari keinginan. Tanpa bermimpi terlebih dahulu maka kita tidak akan tahu apa harapan-harapan atas masa depan kita. Tanpa bermimpi terlebih dahul, kita tidak akan mampu merancang upaya-upaya untuk memperjuangkannya. So, BERMIMPILAH ! selagi bermimpi tidak terlarang J.

Share it : carilah orang-orang yang bisa kita ajak berbagi mimpi kita. Menceritakannya, berbagi mimpi dan strategi dalam meraihnya bersama orang-orang yang kita tahu bahwa ia juga bisa kita jadikan mentor serta motivator bagi kita. Waallahu’alam, siapa tahu di masa depan mereka justru menjadi pembuka pintu-pintu kebaikan atas mimpi-mimpi kita ? Bahkan menutup keburukan-keburukan yang bisa menghalangi langkah kita. So, BERBAGILAH ! selagi berbagi juga memiliki upaya untuk saling memberi J.

Do it : jangan menjadi seseorang yang demennya membuat wacana semata hanya wacana. Mimpi tanpa Aksi samadengan Basi. Lakukan sesuatu. Rangkai mimpi-mimpi dan rancang strategi lalu beraksilah. Banyak kesempatan dan waktu untuk meraihnya bukan ? Waktu terus berjalan dan ruang semakin tak terbatas. So, segera bertindak karena Allah juga akan menilai usaha-usaha kita itu untuk memastikan apakah kita layak mendapatkan mimpi itu atau tidak. So, BERAKSILAH ! selagi aksi menjadi aksi konkrit tanpa utopis J.

Grow it : dan ketika mimpi telah tergenggam, maka kembangkanlah. Memacu diri untuk senantiasa mengembangkan potensi diri semakin menjadikan kita handal dan mampu menguasai mimpi-mimpi kita. Ketika telah menguasai mimpi kita maka kita akan dengan mudah merencanakannya untuk melakukan kebaikan-kebaikan yang lebih. So, BERKEMBANGLAH ! selagi berkembang menjadi sarana pembelajaran kita J.

Yup, sudahkah terbayang bagaimana kita memperlakukan mimpi-mimpi dan diri kita ? Oh, aku pun tengah belajar. Aku memang belum ahli dalam hal ini, namun selagi dengan berbagi seperti ini menjadi sarana untuk mengajak bersama-sama belajar, kenapa tidak ? selagi dengan berbagi seperti ini menjadi sarana untuk saling mendoakan agar mampu meraih mimpi masing-masing kita, kenapa tidak ? So, I will share it for you. Mari kita sama-sama meniatkan dalam diri, berusaha, belajar dan berdoa agar mimpi-mimpi yang kita rancang dapat kita raih, selagi kesempatan masih terbuka lebar. Waallahu’alam bishowab.

Tetap Semangat Hingga Akhirat
Keep Istiqomah Go To Jannah !

Keep Shining and Keep Charming guys!

Jumat, 30 Agustus 2013

-no subtitle-


Entah, sejak kapan aku mulai menyukai menulis. Aku sama sekali tak ingat, kapan aku mulai menikmati jari-jemari menari di atas keyboard laptop ku. Seharian, semalaman, menikmati untaian kata yang muncul begitu saja dalam pikiran dan juga hatiku. Menghabiskan waktu membuka akun blog dan merangkai kata-kata menjadi perpaduan kalimat yang terkadang aku sendiri heran. Heran, mengapa aku bisa menulisnya ? Kadang aku tertawa, tertawa geli menertawakan tulisan sendiri. Kadang aku tersenyum, tersenyum menikmati untaian kata yang terkadang mengingatkanku pada suatu hal ketika aku membacanya. Kadang pula aku menangis, menangis karena aku mampu mengambil hikmah dari setiap apa yang kutulis.

Entah, sejak kapan aku mulai menikmati menulis. Aku merasa menjadi diriku sendiri. Aku seolah tengah bercermin. Setiap kalimat yang aku tulis, ya, itulah aku. Aku merasa bahagia ketika aku menjadi diri sendiri melalui tulisan-tulisanku. Tulisan-tulisan itu memang membuatku bercermin, dan mengatakan “ini adalah kamu. Inilah pikiranmu. Inilah hatimu.” Lalu apa ? Ya, aku menjadi diriku sendiri. Aku mampu mencurahkan semua yang menjadi perasaan dalam hati, aku mampu mencurahkan semua yang menjadi kegelisahan dalam pikir. Ketika aku menyadari bahwa tulisan ini mewakili hati, mungkin kemudian akan terlihat melankolis, puitis, dan dramatis. Aahh, memang terkadang hati sulit dikendalikan karena ia penuh dengan emosi. Namun ketika aku menyadari bahwa aku pun menulis dengan logis, itu lah pikiranku. Mereka saling melengkapi, walau kadang bertentangan. Ya, mereka saling melengkapi.

Entah, mungkin aku menulis sesuka hati dan pikiranku. Hanya saja menulis adalah salah satu caraku mencerna kehidupan ini.

Sadarkah, terkadang jari jemari kita dengan lunglai menari di atas keyboard atau pena karena mengikuti arus perasaan kita ? perasaan yang terkadang rumit untuk kita jelaskan sendiri. Ketika kita mulai menulisnya, maka saat itu pula kita merencanakan untuk memahaminya. Di hari selanjutnya kemudian kita kembali membacanya, perlahan berusaha memaknainya, kemudian kita tersadar bahwa kita akhirnya memahami perasaan yang kita mengira ia begitu rumit. Ya, menulis seolah menjadi museum. Yang ketika kita menulisnya di masa lalu karena mengikuti arus perasaan kita, di masa depan kita teringat bahwa kita pernah merasakan diri kita seperti yang dijelaskan oleh tulisan-tulisan itu. Ya itulah dirimu.

Sadarkah, terkadang jari jemari kita dengan lunglai menari di atas keyboard atau pena karena mengikuti arus pikir kita ? pikiran yang terkadang sulit untuk kita jelaskan sendiri. Ketika mulai menulisnya maka saat itu pula kita merencanakan untuk menjelaskannya. Di hari selanjutnya kemudian kita kembali membacanya, peralahan berusaha memaknainya, kemudian kita tersadar bahwa kita akhirnya mampu menjelaskan pikiran kita sendiri. Ya, menulis seolah menjadi cermin. Yang ketika kita menulisnya di sana pula kita mampu menjelaskan diri kita sendiri. Seperti cermin yang ketika bercermin di hadapan kaca bening kita mampu melihat, ya itu diri kita.

Betapa banyak hikmah yang kemudian bisa kita ambil untuk sekedar memaknai kehidupan. Hati dan pikiran bekerjasama untuk melakukan hal itu. Melengkapi satu sama lain agar kita tak terjerumus hanya karena mengikuti arus emosi perasaan kita, agar kita tak terjerumus hanya karena mengikuti arus pikiran kita yang telah banyak terkontaminasi pikiran dunia. Dan dengan menulis kita menyatu padukan keduanya. Membuatnya menjadi lebih bermakna. Membuatnya menjadi rujukan bagi kita, rujukan atas diri kita sendiri.

Akhir-akhir ini aku merasa menjadi pendiam. Merasa ini bukan aku. Yang penuh dengan ekspresi dan kehebohan. Ahhh tapi menjadi pendiam itu juga ekspresi. Tapi tetap saja, itu bukan aku. Yang ketika bertemu banyak hal dengan penuh ekspresi aku menjelaskannya. Dan saat aku menulis di tengah kediamanku, ada sesuatu yang tersadari bahwa aku memang tak mudah untuk menjelaskan suatu emosi yang dirasakan serta kegelisahan yang dipikirkan melalui kata. Bahkan ketika menulis bisa membuat tangis tersedu-sedu, tapi ketika mencoba menyampaikannya dengan rangkaian kata jarang aku mengambil tisyu dan mengusap tangis di hadapan orang yang mencoba mendengarku.

Itulah ajaibnya ketika aku menikmati menulis. Dia mampu mengeluarkan apa yang ada dalam diriku. Dia mampu mengeluarkan siapa sesungguhnya aku. Dia seolah memiliki kekuatan super yang mendesakku untuk selalu bersikap jujur. Jujur atas diri sendiri. Jujur kepada diri sendiri.

Entah, sejak kapan aku menyukai menulis. Kekuatan-kekuatan tersembunyi di dalamnya, yang kemudian aku menikmatinya. Diri yang melankolis, diri yang penuh pertentangan, diri yang tengah lemah, diri yang tengah ceria, diri yang tengah bersemangat, diri yang menyimpan banyak kenangan, diri yang memiliki kegelisahan pikiran, diri yang mencoba kritis, diri yang berusaha bangkit, aku menikmatinya. Menulis seolah menjadi salah satu sarana untuk mengadu banyak hal padaNYA. Aku berbagi denganNYA namun aku juga menuliskannya, karena aku yakin suatu saat aku membutuhkannya untuk mengingatkanku. Tulisan-tulisan ini kemudian akan merekam semuanya, semua tentang perjalanan pikirku ……… dan perjalanan rasaku.

~Menulis membuatku mengalir begitu saja, menumpahkan segala asa dan rasa atas logika dan nuraniku untuk menjadi seseorang yang jujur~


Aahh… aku terlalu melankolis akhir-akhir ini :-p

Minggu, 28 Juli 2013

Bintang

malam, di langit sana ada byk bintang. tapi ntah hanya ada satu bintang yg sinarnya bgtu terang,
sempat bintang merebut perhatianku dr bintang lain yg muncul. tapi kemudian aku tersadar, bisa jadi esok ....
bisa jadi esok, di malam yang lain bintang yg sinarnya begitu terang tak lg muncul di peraduan langitnya.
maka kututup mataku, kemudian aku melangkah pergi meninggalkan bintang2 itu. biarkan mereka bersinar, dan aku..
dan aku tengah me-reka-reka bintang seperti apakah yang pantas sinarnya kelak menjadi penerang setiap jalanku,


Rabu, 10 Juli 2013

#setahunpascaKKN #part1

Bismillah.
            Uwoooooo…. Floreeeeesssss >_< !! Akhirnya tepat pukul 11 siang kami sampai di Wae Lolos. Lokasi yang siap kami eksekusi untuk program KKN selama 5 minggu. Hmmm… its very excited. Di rumah mama Alfons kami istirahat dulu sebelum nanti pergi ke kampung untuk bertemu warga dan melaksanakan acara penyambutan. Eiittss… kalo begitu kita flashback dulu perjalanan sebelumnya yuukk J.

            7 Juli 2012 pukul 16.00 berangkat dari Jogja menuju terminal Semarang untuk menemui bus yang akan mengantar kami menuju Nusa Tenggara Timur (NTT). Tepat pukul 12.00 kami sampai terminal Semarang, dan hmm… ternyata bus nya dateng pagi ! Alhasil sembari menunggu, kami tidur di emperan depan agen bus. Astaghfirullah…. Nyamuk pada demen kita dateng, tepok sana tepok sini garuk sana garuk sini, mana bau comberan lagi. Nggak tenang banget tidur malam ini. Pukul 7.00 pagi yang dinanti datang, dua orang jalan sambil cengar-cengir menghampiri kami yang masih tergeletak kayak pengungsi. Izzah dan Lembi (Herlambang :p).

            Aaaahhhh perjalanan yang menyenangkan. Menapaki setiap sudut kota yang kami lewati, pantai utara, pelabuhan, laut, Bali, Mataram, Sumbawa, Bima. Ya, bus kita hanya sampai di Bima. Selanjutnya kami neteng via laut menuju Flores. Ya, Flores J. Perjalanan ini membuatku jatuh cinta pada sesuatu. Laut. Aku jatuh cinta pada perjalanan selama di atas kapal, menikmati kebesaranNYA, memandang hamparan samudera, matahari terbit, matahari terbenam, sesekali melihat ikan-ikan berlayar di dalam laut. Perpaduan panorama yang cantik. Tibalah kami di pelabuhan Sape sekitar pukul 9 pagi. Kami luntang-luntung menunggu kepastian kedatangan kapal feri di pelabuhan Sape. Nggak enak memang di PHP-in ya #gagalfokus. Aaaaa…. Di sini ada pentol juga ternyata beli aahhhh :D 

         
 


Sembari menunggu kapal feri datang, beberapa anak punya kesibukan masing, ada yang asik main Uno, ada yang sibuk beberes diri di masjid ( saya termasuk di dalamnya hehe ). Pelabuhan panas ya Subhanallah. Selesai sholat, kami dapat kabar bahwa kapal feri yang menyebrang menuju Labuan Bajo Flores NTT datangnya pukul 3 sore. Ohhhh Meeenn ! Ya Allah… apa yang harus kita perbuat hingga jam 3 nanti ?? Okelah. Tik tok tik tok… Ayeee ! Jam 3, bau-bau kapal feri datang sudah diujung penciuman hahaha. Dan ya, akhirnya dengan tergopoh-gopoh membawa barang bawaan yang segambreng kami berebut dengan penumpang lain agar mendapat posisi oke selama di kapal. Dan Alhamdulillah kita dapat kursi empuk di dalam feri hihihi.



            Aiihh… menikmati perjalanan di atas laut pada sore hari lagi J. Beruntungnyaaa. Wahh.. ruang di kapal yang kami tempati nyaman bangeettt.. seolah membayar jiwa-jiwa yang lelah dan badan-badan yang remuk redam selama perjalanan 2 hari. Ini kapal plus-plus deh kayaknya haha… fasilitasnya oke banget nih, kita di suguhi TV Flat yang memutar film untuk dinikmati para penumpang selama perjalanan. Sayang saya lupa film apa waktu itu yang diputar. Setiba di dalam kapal dan meregangkan otot sejenak, anak-anak kemudian terpecah lagi aktivitasnya. Ada yang kelaperan dan akhirnya beli mie rebus seharga SEPULUH RIBU. Nggondooookkkk hahahaha. Aku ? memilih keluar kapal dan menuju ke atas dekat kepala kapal menikmati hamparan samudera sore hari. Oya, ada juga yang fokus beberes diri di kamar mandi yang ukurannya hanya 1x1 meter, betapaaaa sempitnyaa hahaha.

            Kami menempuh perjalanan sekitar 7 hingga 9 jam sampai di Flores. Pukul 12.00 malam baru diperkirakan sampai di Labuan Bajo, Flores. 


 Selama di kapal banyak hal yang direnungi, Rabb… Ramadhan pertama kali tanpa keluarga, alamat Lebaran juga tanpa keluarga karna masih dalam perjalanan pulang. Seperti apa rasanya ?? Jelas berbeda jauh dengan ketika di Jogja. Masjid-masjid ramai didatangi, suara adzan dan sholat tarawih menggema dimana-mana. Hmm… ini pasti pengalaman yang akan sangat berkesan bagi perjalanan ruhiyah ku. Berada di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas non-muslim. Jelas tantangan ruhiyah ku akan lebih bermacam. Semoga aku ISTIQOMAH ! (udah bekal nasehat dan back-up an gurunda untungnya). “Kencengin al-matsuratnya dek..... dzikirnya.” Katanya. Hmm… Insya Allah, Allah menjagaku dan teman-teman yang lain.

            Pukul 12.00 malam kapal feri merapat di pelabuhan Labuan Bajo, Flores ! Aaaaa… kaki berasa gemetaran ketika menginjak daratan Flores, pulau kecil hasil pemekaran daerah NTT yang kaya akan keindahan laut, flora dan fauna nya. Komodo, ya binatang langka ini lah icon pulau ini J. Turun dari kapal kami bertemu dengan unit KKN lain yang juga KKN tak jauh dari lokasi kami. Salah satu dari tim kami akhirnya mencari lokasi penginapan. Dan akhirnya dapatlah kita penginapan. Jangan bayangkan kita akan tidur enak di kamar masing-masing. Bukan. Kami bukan menyewa kamar, tapi ruang pertemuan yang luas dengan karpet yang di gelar merata di lantai. Hahahaha.. ya kami istirahat di sana sembari menunggu pukul 8.00 pagi jemputan mendatangi kami. Ini trik irit dari tim karna nanggung jika sewa kamar hanya hingga pukul 8.00 pagi. Jadi, kami hanya mengeluarkan kocek 30 ribu per orang untuk membayar penginapan aneh kami hahaha.

            Menyempatkan diri untuk cari sarapan dulu, kami jalan kaki menikmati suasana pagi Labuan Bajo menuju warung nasi padang. Hmm… ke warung nasi padang pasti makannya nasi padang ya ? BUKAN. Anda salah besar. Kami sarapan dengan menu yang tak relevan dengan warungnya. Mie rebus, nasi telor dan nasi ikan, itu pilihan kami. Harga ? 10 ribu untuk mie rebus dan 15 ribu untuk nasi telor dan nasi ikan. Ppppffttt…tapi Alhamdulillah masih bisa makan hehehe. Tepat pukul 8.00 jemputan kami tiba di depan penginapan. Aku sempat tengok kanan kiri mana angkutannya ? yang ada hanya truk di sini. “Ini angkutan kita cuy.. !” celetuk salah satu anggota tim. APA ?? oh.. oke. Truk. Namanya “Otto kol”, ini adalah angkutan yang ada di Flores, bukan untuk angkut sapi atau kebo ya. Tapi untuk mengangkut manusia -_____-“ . Jadi pliss guys, jangan merengek “Mooooo…” selama berada di truk !


Dan tau kah kaliaaaannn ? bagaimana cara kami menaiki Otto kol tersebut ? Manjat! Ya Manjat ban baru kita bisa duduk manis di dalam badan truk. Aku ? sempat mencoba manjat, tapi ehmm… ini pakai rok sodara-sodara. Ehmm. Akhirnya aku memilih untuk duduk cantik di sebelah pak sopir, hohohoho. Berjalan di sisiran pelabuhan, kami sempatkan belanja sembako untuk diserahkan kepada perangkat desa sebagai simbolis kehadiran kita di sana. Beras, minyak, gula, teh dan beberapa yang lain kami beli. Uppss ! ada kotak es krim. Es krim nya berasa “ngawe-awe” minta di makan. Mana cuaca panas pula. Baik. Satu es krim seharga 5 ribu saya beli dan makan dengan asik sambil menikmati perjalanan di dalam Otto. Anak-anak yang lain “Iiihh nisa beli eskrim sendiiriiiii…” :P .

            Menuju Wae Loloooosssss !!! Yeaayy ! But Oh GOD ! perjalanan menuju Wae Lolos berasa naik Jet Coaster … ! Jalan perbukitan yang meliuk-liuk tajam, nanjak-meliuk, turun-meliuk membentuk huruf “S” jalanan itu. Belum jika di depan ada kendaraan dengan arus berlawanan, semakin parno diri ini duduk di depan. Tepat kiri jalan adalah jurang, aaaa tidaaaakk ! Jalanan aspal rusak, aaa bagaimana ini ?? Sementara Pak sopir dengan santai menyetel lagu-lagu ambon (yang sampe saat ini lagu itu masih tersimpan di hape ku) sambil SMS-an. Ya SMS-an, nggak tau sama siapa, istrinya kali. Aku parno, sementara pak sopir SMS-an Ya Rabb… lindungi saya !

            Untuk menenangkan keparnoan, akhirnya pak sopir mengajak berhenti sebentar di salah satu spot oke untuk menikmati pegunungan yang cukup terkenal di daerah itu. Berfoto sejenak lah kami hihihi.



Sebenarnya ada kenikmatan pula selama perjalanan menantang itu, sepanjang jalan kami dapat melihat jajaran pantai Flores yang biru nya biru tosca aihh cantik J. Menikmati jajaran pegunungan yang bertengger kokoh di dataran Flores, hijau nya hijau lebat aihh menyejukkan J. Flores… seketika aku jatuh cinta padamu <3 .

            Finally, 10 Juli 2012 Alhamdulillah…. Wae Loloooosssssssss kami dataaaaaannngggg :D !!!