Jumat, 30 Agustus 2013

-no subtitle-


Entah, sejak kapan aku mulai menyukai menulis. Aku sama sekali tak ingat, kapan aku mulai menikmati jari-jemari menari di atas keyboard laptop ku. Seharian, semalaman, menikmati untaian kata yang muncul begitu saja dalam pikiran dan juga hatiku. Menghabiskan waktu membuka akun blog dan merangkai kata-kata menjadi perpaduan kalimat yang terkadang aku sendiri heran. Heran, mengapa aku bisa menulisnya ? Kadang aku tertawa, tertawa geli menertawakan tulisan sendiri. Kadang aku tersenyum, tersenyum menikmati untaian kata yang terkadang mengingatkanku pada suatu hal ketika aku membacanya. Kadang pula aku menangis, menangis karena aku mampu mengambil hikmah dari setiap apa yang kutulis.

Entah, sejak kapan aku mulai menikmati menulis. Aku merasa menjadi diriku sendiri. Aku seolah tengah bercermin. Setiap kalimat yang aku tulis, ya, itulah aku. Aku merasa bahagia ketika aku menjadi diri sendiri melalui tulisan-tulisanku. Tulisan-tulisan itu memang membuatku bercermin, dan mengatakan “ini adalah kamu. Inilah pikiranmu. Inilah hatimu.” Lalu apa ? Ya, aku menjadi diriku sendiri. Aku mampu mencurahkan semua yang menjadi perasaan dalam hati, aku mampu mencurahkan semua yang menjadi kegelisahan dalam pikir. Ketika aku menyadari bahwa tulisan ini mewakili hati, mungkin kemudian akan terlihat melankolis, puitis, dan dramatis. Aahh, memang terkadang hati sulit dikendalikan karena ia penuh dengan emosi. Namun ketika aku menyadari bahwa aku pun menulis dengan logis, itu lah pikiranku. Mereka saling melengkapi, walau kadang bertentangan. Ya, mereka saling melengkapi.

Entah, mungkin aku menulis sesuka hati dan pikiranku. Hanya saja menulis adalah salah satu caraku mencerna kehidupan ini.

Sadarkah, terkadang jari jemari kita dengan lunglai menari di atas keyboard atau pena karena mengikuti arus perasaan kita ? perasaan yang terkadang rumit untuk kita jelaskan sendiri. Ketika kita mulai menulisnya, maka saat itu pula kita merencanakan untuk memahaminya. Di hari selanjutnya kemudian kita kembali membacanya, perlahan berusaha memaknainya, kemudian kita tersadar bahwa kita akhirnya memahami perasaan yang kita mengira ia begitu rumit. Ya, menulis seolah menjadi museum. Yang ketika kita menulisnya di masa lalu karena mengikuti arus perasaan kita, di masa depan kita teringat bahwa kita pernah merasakan diri kita seperti yang dijelaskan oleh tulisan-tulisan itu. Ya itulah dirimu.

Sadarkah, terkadang jari jemari kita dengan lunglai menari di atas keyboard atau pena karena mengikuti arus pikir kita ? pikiran yang terkadang sulit untuk kita jelaskan sendiri. Ketika mulai menulisnya maka saat itu pula kita merencanakan untuk menjelaskannya. Di hari selanjutnya kemudian kita kembali membacanya, peralahan berusaha memaknainya, kemudian kita tersadar bahwa kita akhirnya mampu menjelaskan pikiran kita sendiri. Ya, menulis seolah menjadi cermin. Yang ketika kita menulisnya di sana pula kita mampu menjelaskan diri kita sendiri. Seperti cermin yang ketika bercermin di hadapan kaca bening kita mampu melihat, ya itu diri kita.

Betapa banyak hikmah yang kemudian bisa kita ambil untuk sekedar memaknai kehidupan. Hati dan pikiran bekerjasama untuk melakukan hal itu. Melengkapi satu sama lain agar kita tak terjerumus hanya karena mengikuti arus emosi perasaan kita, agar kita tak terjerumus hanya karena mengikuti arus pikiran kita yang telah banyak terkontaminasi pikiran dunia. Dan dengan menulis kita menyatu padukan keduanya. Membuatnya menjadi lebih bermakna. Membuatnya menjadi rujukan bagi kita, rujukan atas diri kita sendiri.

Akhir-akhir ini aku merasa menjadi pendiam. Merasa ini bukan aku. Yang penuh dengan ekspresi dan kehebohan. Ahhh tapi menjadi pendiam itu juga ekspresi. Tapi tetap saja, itu bukan aku. Yang ketika bertemu banyak hal dengan penuh ekspresi aku menjelaskannya. Dan saat aku menulis di tengah kediamanku, ada sesuatu yang tersadari bahwa aku memang tak mudah untuk menjelaskan suatu emosi yang dirasakan serta kegelisahan yang dipikirkan melalui kata. Bahkan ketika menulis bisa membuat tangis tersedu-sedu, tapi ketika mencoba menyampaikannya dengan rangkaian kata jarang aku mengambil tisyu dan mengusap tangis di hadapan orang yang mencoba mendengarku.

Itulah ajaibnya ketika aku menikmati menulis. Dia mampu mengeluarkan apa yang ada dalam diriku. Dia mampu mengeluarkan siapa sesungguhnya aku. Dia seolah memiliki kekuatan super yang mendesakku untuk selalu bersikap jujur. Jujur atas diri sendiri. Jujur kepada diri sendiri.

Entah, sejak kapan aku menyukai menulis. Kekuatan-kekuatan tersembunyi di dalamnya, yang kemudian aku menikmatinya. Diri yang melankolis, diri yang penuh pertentangan, diri yang tengah lemah, diri yang tengah ceria, diri yang tengah bersemangat, diri yang menyimpan banyak kenangan, diri yang memiliki kegelisahan pikiran, diri yang mencoba kritis, diri yang berusaha bangkit, aku menikmatinya. Menulis seolah menjadi salah satu sarana untuk mengadu banyak hal padaNYA. Aku berbagi denganNYA namun aku juga menuliskannya, karena aku yakin suatu saat aku membutuhkannya untuk mengingatkanku. Tulisan-tulisan ini kemudian akan merekam semuanya, semua tentang perjalanan pikirku ……… dan perjalanan rasaku.

~Menulis membuatku mengalir begitu saja, menumpahkan segala asa dan rasa atas logika dan nuraniku untuk menjadi seseorang yang jujur~


Aahh… aku terlalu melankolis akhir-akhir ini :-p

Minggu, 28 Juli 2013

Bintang

malam, di langit sana ada byk bintang. tapi ntah hanya ada satu bintang yg sinarnya bgtu terang,
sempat bintang merebut perhatianku dr bintang lain yg muncul. tapi kemudian aku tersadar, bisa jadi esok ....
bisa jadi esok, di malam yang lain bintang yg sinarnya begitu terang tak lg muncul di peraduan langitnya.
maka kututup mataku, kemudian aku melangkah pergi meninggalkan bintang2 itu. biarkan mereka bersinar, dan aku..
dan aku tengah me-reka-reka bintang seperti apakah yang pantas sinarnya kelak menjadi penerang setiap jalanku,


Rabu, 10 Juli 2013

#setahunpascaKKN #part1

Bismillah.
            Uwoooooo…. Floreeeeesssss >_< !! Akhirnya tepat pukul 11 siang kami sampai di Wae Lolos. Lokasi yang siap kami eksekusi untuk program KKN selama 5 minggu. Hmmm… its very excited. Di rumah mama Alfons kami istirahat dulu sebelum nanti pergi ke kampung untuk bertemu warga dan melaksanakan acara penyambutan. Eiittss… kalo begitu kita flashback dulu perjalanan sebelumnya yuukk J.

            7 Juli 2012 pukul 16.00 berangkat dari Jogja menuju terminal Semarang untuk menemui bus yang akan mengantar kami menuju Nusa Tenggara Timur (NTT). Tepat pukul 12.00 kami sampai terminal Semarang, dan hmm… ternyata bus nya dateng pagi ! Alhasil sembari menunggu, kami tidur di emperan depan agen bus. Astaghfirullah…. Nyamuk pada demen kita dateng, tepok sana tepok sini garuk sana garuk sini, mana bau comberan lagi. Nggak tenang banget tidur malam ini. Pukul 7.00 pagi yang dinanti datang, dua orang jalan sambil cengar-cengir menghampiri kami yang masih tergeletak kayak pengungsi. Izzah dan Lembi (Herlambang :p).

            Aaaahhhh perjalanan yang menyenangkan. Menapaki setiap sudut kota yang kami lewati, pantai utara, pelabuhan, laut, Bali, Mataram, Sumbawa, Bima. Ya, bus kita hanya sampai di Bima. Selanjutnya kami neteng via laut menuju Flores. Ya, Flores J. Perjalanan ini membuatku jatuh cinta pada sesuatu. Laut. Aku jatuh cinta pada perjalanan selama di atas kapal, menikmati kebesaranNYA, memandang hamparan samudera, matahari terbit, matahari terbenam, sesekali melihat ikan-ikan berlayar di dalam laut. Perpaduan panorama yang cantik. Tibalah kami di pelabuhan Sape sekitar pukul 9 pagi. Kami luntang-luntung menunggu kepastian kedatangan kapal feri di pelabuhan Sape. Nggak enak memang di PHP-in ya #gagalfokus. Aaaaa…. Di sini ada pentol juga ternyata beli aahhhh :D 

         
 


Sembari menunggu kapal feri datang, beberapa anak punya kesibukan masing, ada yang asik main Uno, ada yang sibuk beberes diri di masjid ( saya termasuk di dalamnya hehe ). Pelabuhan panas ya Subhanallah. Selesai sholat, kami dapat kabar bahwa kapal feri yang menyebrang menuju Labuan Bajo Flores NTT datangnya pukul 3 sore. Ohhhh Meeenn ! Ya Allah… apa yang harus kita perbuat hingga jam 3 nanti ?? Okelah. Tik tok tik tok… Ayeee ! Jam 3, bau-bau kapal feri datang sudah diujung penciuman hahaha. Dan ya, akhirnya dengan tergopoh-gopoh membawa barang bawaan yang segambreng kami berebut dengan penumpang lain agar mendapat posisi oke selama di kapal. Dan Alhamdulillah kita dapat kursi empuk di dalam feri hihihi.



            Aiihh… menikmati perjalanan di atas laut pada sore hari lagi J. Beruntungnyaaa. Wahh.. ruang di kapal yang kami tempati nyaman bangeettt.. seolah membayar jiwa-jiwa yang lelah dan badan-badan yang remuk redam selama perjalanan 2 hari. Ini kapal plus-plus deh kayaknya haha… fasilitasnya oke banget nih, kita di suguhi TV Flat yang memutar film untuk dinikmati para penumpang selama perjalanan. Sayang saya lupa film apa waktu itu yang diputar. Setiba di dalam kapal dan meregangkan otot sejenak, anak-anak kemudian terpecah lagi aktivitasnya. Ada yang kelaperan dan akhirnya beli mie rebus seharga SEPULUH RIBU. Nggondooookkkk hahahaha. Aku ? memilih keluar kapal dan menuju ke atas dekat kepala kapal menikmati hamparan samudera sore hari. Oya, ada juga yang fokus beberes diri di kamar mandi yang ukurannya hanya 1x1 meter, betapaaaa sempitnyaa hahaha.

            Kami menempuh perjalanan sekitar 7 hingga 9 jam sampai di Flores. Pukul 12.00 malam baru diperkirakan sampai di Labuan Bajo, Flores. 


 Selama di kapal banyak hal yang direnungi, Rabb… Ramadhan pertama kali tanpa keluarga, alamat Lebaran juga tanpa keluarga karna masih dalam perjalanan pulang. Seperti apa rasanya ?? Jelas berbeda jauh dengan ketika di Jogja. Masjid-masjid ramai didatangi, suara adzan dan sholat tarawih menggema dimana-mana. Hmm… ini pasti pengalaman yang akan sangat berkesan bagi perjalanan ruhiyah ku. Berada di tengah-tengah masyarakat yang mayoritas non-muslim. Jelas tantangan ruhiyah ku akan lebih bermacam. Semoga aku ISTIQOMAH ! (udah bekal nasehat dan back-up an gurunda untungnya). “Kencengin al-matsuratnya dek..... dzikirnya.” Katanya. Hmm… Insya Allah, Allah menjagaku dan teman-teman yang lain.

            Pukul 12.00 malam kapal feri merapat di pelabuhan Labuan Bajo, Flores ! Aaaaa… kaki berasa gemetaran ketika menginjak daratan Flores, pulau kecil hasil pemekaran daerah NTT yang kaya akan keindahan laut, flora dan fauna nya. Komodo, ya binatang langka ini lah icon pulau ini J. Turun dari kapal kami bertemu dengan unit KKN lain yang juga KKN tak jauh dari lokasi kami. Salah satu dari tim kami akhirnya mencari lokasi penginapan. Dan akhirnya dapatlah kita penginapan. Jangan bayangkan kita akan tidur enak di kamar masing-masing. Bukan. Kami bukan menyewa kamar, tapi ruang pertemuan yang luas dengan karpet yang di gelar merata di lantai. Hahahaha.. ya kami istirahat di sana sembari menunggu pukul 8.00 pagi jemputan mendatangi kami. Ini trik irit dari tim karna nanggung jika sewa kamar hanya hingga pukul 8.00 pagi. Jadi, kami hanya mengeluarkan kocek 30 ribu per orang untuk membayar penginapan aneh kami hahaha.

            Menyempatkan diri untuk cari sarapan dulu, kami jalan kaki menikmati suasana pagi Labuan Bajo menuju warung nasi padang. Hmm… ke warung nasi padang pasti makannya nasi padang ya ? BUKAN. Anda salah besar. Kami sarapan dengan menu yang tak relevan dengan warungnya. Mie rebus, nasi telor dan nasi ikan, itu pilihan kami. Harga ? 10 ribu untuk mie rebus dan 15 ribu untuk nasi telor dan nasi ikan. Ppppffttt…tapi Alhamdulillah masih bisa makan hehehe. Tepat pukul 8.00 jemputan kami tiba di depan penginapan. Aku sempat tengok kanan kiri mana angkutannya ? yang ada hanya truk di sini. “Ini angkutan kita cuy.. !” celetuk salah satu anggota tim. APA ?? oh.. oke. Truk. Namanya “Otto kol”, ini adalah angkutan yang ada di Flores, bukan untuk angkut sapi atau kebo ya. Tapi untuk mengangkut manusia -_____-“ . Jadi pliss guys, jangan merengek “Mooooo…” selama berada di truk !


Dan tau kah kaliaaaannn ? bagaimana cara kami menaiki Otto kol tersebut ? Manjat! Ya Manjat ban baru kita bisa duduk manis di dalam badan truk. Aku ? sempat mencoba manjat, tapi ehmm… ini pakai rok sodara-sodara. Ehmm. Akhirnya aku memilih untuk duduk cantik di sebelah pak sopir, hohohoho. Berjalan di sisiran pelabuhan, kami sempatkan belanja sembako untuk diserahkan kepada perangkat desa sebagai simbolis kehadiran kita di sana. Beras, minyak, gula, teh dan beberapa yang lain kami beli. Uppss ! ada kotak es krim. Es krim nya berasa “ngawe-awe” minta di makan. Mana cuaca panas pula. Baik. Satu es krim seharga 5 ribu saya beli dan makan dengan asik sambil menikmati perjalanan di dalam Otto. Anak-anak yang lain “Iiihh nisa beli eskrim sendiiriiiii…” :P .

            Menuju Wae Loloooosssss !!! Yeaayy ! But Oh GOD ! perjalanan menuju Wae Lolos berasa naik Jet Coaster … ! Jalan perbukitan yang meliuk-liuk tajam, nanjak-meliuk, turun-meliuk membentuk huruf “S” jalanan itu. Belum jika di depan ada kendaraan dengan arus berlawanan, semakin parno diri ini duduk di depan. Tepat kiri jalan adalah jurang, aaaa tidaaaakk ! Jalanan aspal rusak, aaa bagaimana ini ?? Sementara Pak sopir dengan santai menyetel lagu-lagu ambon (yang sampe saat ini lagu itu masih tersimpan di hape ku) sambil SMS-an. Ya SMS-an, nggak tau sama siapa, istrinya kali. Aku parno, sementara pak sopir SMS-an Ya Rabb… lindungi saya !

            Untuk menenangkan keparnoan, akhirnya pak sopir mengajak berhenti sebentar di salah satu spot oke untuk menikmati pegunungan yang cukup terkenal di daerah itu. Berfoto sejenak lah kami hihihi.



Sebenarnya ada kenikmatan pula selama perjalanan menantang itu, sepanjang jalan kami dapat melihat jajaran pantai Flores yang biru nya biru tosca aihh cantik J. Menikmati jajaran pegunungan yang bertengger kokoh di dataran Flores, hijau nya hijau lebat aihh menyejukkan J. Flores… seketika aku jatuh cinta padamu <3 .

            Finally, 10 Juli 2012 Alhamdulillah…. Wae Loloooosssssssss kami dataaaaaannngggg :D !!!

Jumat, 28 Juni 2013

Niat "sama" Tujuan

Bahkan, dalam rangka menyelesaikan skripsi niatnya juga perlu dilurusin, buat Allah atau buat manusia ?? :)

buat ngejar cinta Allah atau cinta manusia ? :)

buat cepetan Allah ridho atau cepetan dapet jodoh ?? #eh :))

yuk! lurusin lagi niatnya (butuh penggaris??) biar jalannya lancar, semangatnya konsisten dan akhirnya selesai :)

intinya, melakukan segala seuatu itu ujung dan simpulnya cuma satu, ALLAH. :)

Sukses kawan-kawan !! ^_^

Senin, 24 Juni 2013

Mempersiapkan Menjadi Ibu RT ^_^


Assalamualaykum wr. wb.

Sedikit ingin share hasil diskusi dengan teman-teman lingkaran cinta beberapa waktu lalu. Ini tentang sebuah masa depan. Tentang sebuah peradaban. Tentang sebuah asa dan cinta atas kehidupan yang lebih mulia. Tentang pentingnya eksistensi muslimah dalam kiprah peradaban. Tentang pentingnya ilmu bagi muslimah. Dan tentang bekal yang musti dipersiapkan jauh hari untuknya. Let’s Our discussion about “Mempersiapkan Diri Menjadi Ibu RT” :p

Gals, mesti yeiy yeiy semua mengernyit baca judul diskusi ini, hehehe. Bisa jadi dalam pikiran kalian bahasan ini akan membahas tentang bagaimana mengurus warga sekampung, bagaimana mengelola arisan, PKK, dan lain sebagainya. Eeiitsss… itu cukup mainstream sodara-sodari J . Ini bukan sekedar urus mengurus arisan, PKK, warga, dsb. Ini tentang bagaimana kelak kita akan menjadi salah satu aktor dalam membangun peradaban dari generasi-generasi yang akan kita lahirkan. Menjadi Ibu RT, menjadi Ibu Rumah Tangga dan Rukun Tetangga. Jangan tertipu dengan judul ya. Maksud dari judul ini adalah bagaimana kita mempersiapkan menjadi seorang ibu yang memiliki peran besar dalam melahirkan para generasi mulia yang diharapkan islam dan bagaimana peran besar kita untuk mewujudkan kondisi masyarakat yang sehat salah satunya dengan melahirkan generasi-generasi rabbani. (Dakwah Keluarga dan Dakwah Sya’bi)

1.     >>  Ibu Shalihah untuk Generasi yang Shalih
“Muslimah itu memiliki potensi melahirkan dua macam generasi, melahirkan seorang ulama atau seorang negarawan.”
*disadur dari kata seorang sahabat*

Betapa mulianya seorang wanita yang diberikan fitrah dan nikmat dengan menjadi salah satu agen peradaban. Ia adalah pewaris nilai-nilai (taurits al qiyam) kebaikan kepada para generasi baru. Maka untuk melahirkan generasi yang unggul dan berkualitas, memerlukan sosok ibu yang berkualitas pula. Ini menandakan bahwa seorang ibu harus memiliki bekal ilmu baik secara teori untuk membentuk pemahaman yang baik, maupun praktik sebagai bentuk konkritnya. Ilmu ini lah yang menjadi sumber dari munculnya ibu-ibu yang shalihah #ihiiy. Pendidikan muslimah di sini sangatlah penting, so buat para muslimah jangan kesampingkan kuliah dengan organisasi yak. Keduanya seyogyanya mampu berjalan beriringan dan seimbang, kan oke tuh yaa udah IPK 4.00 kontribusi di luar (organisasi misalnya) itu juga kece. Dapet ilmu nya dimana-mana, dibagi kemana-mana, di pake semanfaat-manfaatnya, apalagi besok buat anaknya #beuuuhh. Joss Gandooss !!

Nah, maka buat para muslimah jangan enggan untuk bisa mendapatkan pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi. Memang sih, bukan menjadi takaran pasti, tapi nanti penting untuk mengawal anak-anak kita untuk memiliki motivasi yang tinggi dalam mencari-cari ilmu. Kalau kata seorang sodari, “Eh, anak-anak kita itu besok butuh ibu yang cerdas!” ditambah mbak Dian Sastro bilang “entah akan berkarir atau menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi. Karena ia akan menjadi ibu. Ibu-ibu cerdas akan menghasilkan anak-anak yang cerdas.” Mekaten ngendikane mbak Dina menika.

Kenapa itu penting ? yuk kita lihat fenomena-fenomena jaman sekarang. Kenakalan remaja dimana-mana, pelacuran anak usia belia dimana-mana, pornografi, narkoba, miras aaaahh terlalu kelu menyebut satu per satu kondisi moral yang tak terjaga seperti itu. Ini PR kita lhoo ibu-ibu sekalian yang di rahmati Allah J. Ini Pekerjaan Rumah bagi masing-masing diri kita. Membentuk karakter mulia dalam diri, keluarga dan masyarakat adalah tugas kita juga. Dan ini penting bagi generasi yang akan kita lahirkan esok. Karena sejatinya, ibu yang mengandung dan melahirkan adalah pihak yang paling dekat emosionalnya dengan anak-anak, jadi ia memiliki peluang yang besar ketika mendidik dan membimbing anaknya menjadi anak dengan nilai moral yang baik. (ehmm.. bapak-bapak jangan sewot dulu nggih :p ). à bukan menafikan peran bapak bagi anak-anak. Dalam islam perempuan shalihah adalah pasangan bagi laki-laki yang shalih. Dengan demikian pada saat islam menghendaki perempuan menjadi shalihah adalah tuntutan yang sama terhadap laki-laki untuk menjadi shalih.

So, proses pendidikan (Tarbiyah) dari para ibu di sini sangat penting untuk mempersiapkan para ibu agar memahami perannya dalam menjawab tantangan masa depan bangsa. Sesungguhnya mereka tidak cukup menjadi ibu yang baik hanya dari segi pengalaman belaka. Perlu sejumlah ilmu dan ketrampilan untuk bisa menjadi pendidik generasi yang berkualitas yang diharapkan islam.

2.     >>  Muslimah Pembangun Masyarakat yang Sehat

Dalam amar ma’ruf nahi munkar laki-laki dan perempuan itu memiliki kewajiban yang sama. Mereka adalah unsur asasi dalam melakukan pembangunan masyarakat. Kita cek dulu yuk, Allah SWT berfirman “

“Dan orang-orang yang beriman laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebagian yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf dan mencegah dari yang munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat. Dan mereka taat kepada Allah dan RasulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” QS. At Taubah ayat 71

Di sini muslimah bukanlah suplemen atau pelengkap dalam perbaikan masyarakat. Jika kaum laki-laki disiapkan menjadi manusia yang shalih namun kaum perempuan tidak dididik hal yang sama, maka yang terjadi adalah ketimpangan. So, muslimah adalah salah satu pelaku aktif dalam pembangunan. Dan mereka membutuhkan pendidikan islam (tarbiyah islamiyah) sebagai penghantar pada kepribadian para muslim/ah. Jika tidak, maka akan mudah tergerus oleh arus zaman, terkhusus muslimah yang rentan olehnya (melihat kembali fenomena 5 F, Fashion, Film, Fun, Food, F ……. *isi masing-masing yeh :p *

Meskipun secara anatomis dan fisiologis perempuan dan laki-laki memiliki perbedaan, namun sesungguhnya perbedaan tersebut bisa menjadi peluang modal yang ketika kita kelola bahkan mampu memberikan nilai manfaat di masyarakat. Menurut Abbas Kararah (1995) bahwa kelembutan, kehalusan watak, kelebihan perasaan lebih dominan dimiliki perempuan sementara kekerasan, pendirian teguh, kecerdikan menguasai hawa nafsu adalah watak laki-laki. Dengan watak perempuan yang tersebut di atas maka memang selaras dengan perannya sebagai sosok yang penyayang, penuh cinta kasih terhadap sesama bahkan kepada anak dan keluarga. Sementara watak laki-laki tersebut di atas selaras dengan peran mereka sebagaimana mereka telah diamanahkan untuk menjadi seorang pemimpin yang tangguh. Baik untuk keluarga, masyarakat, bahkan bangsa dan negara.

Dari sini kemudian mengindikasikan bahwa pendidikan bagi seorang muslimah penting untuk dimiliki. Pendidikan memang tidak hanya ada dalam lingkup akademis tapi juga di setiap ranah yang kita lakoni. Karena sesungguhnya ilmu itu bertebaran dimana-mana, tinggal bagaimana kita pandai mengais-ais nya menjadikannya manfaat bagi sesama. Namun dengan memiliki pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi (dalam lingkup akademis) akan menjadi motivasi tersendiri bagi generasi-generasi kita agar senantiasa berilmu dan menjadikannya menjadi sosok pembangun peradaban yang lebih mulia.

Melalui pendidikan itu pula mengangkat derajat muslimah dlm kapasitas subjek yg mandiri, memiliki kesadaran aktif & potensi yg penuh utk melakukan perbaikan diri, keluarga, masyarakat dan bangsa. Karena eksistensi muslimah juga dibutuhkan dalam sistem dan dinamika masyarakat yang sehat.

Maka ada beberapa titik poin yang dapat diambil kesimpulan dari perbincangan kecil ini, bahwa,
1.    >>  Sesungguhnya seorang wanita itu punya kesempatan besar untuk memberi manfaat di masyarakat, di ranah sosial. Banyak peluang sosial yang bisa kita gunakan untuk berkontribusi mulai dari hal yang kecil. Dengan fitrah yang dimiliki dan didukung dengan ilmu maka peran-peran muslimah akan lebih memberikan makna tersendiri baik dalam keluarga untuk menjadi "mar-atus solihah (perempuan solihah), jauzatu muntihah (istri yang menentramkan), dan ummul madrasah (sekolah pertama bagi anak)." Dan itu menjadi faktor pendukung besar dalam menciptakan masyarakat yang sehat, peradaban yang mulia.
2.    >> Maka, seorang muslimah sebelum mencapai tahapan itu perlu memiliki visi misi dalam rangka menyatukan kesamaan frame dan tujuan dalam membangun keluarga kelak. Karena jelas penting visi misi tersebut untuk di satukan dengan visi misi pasangan yang kelak akan membersamai langkah-langkah kontribusi muslimah di bumi yang amat luas ini selama hidup. Dengan begitu para muslimah akan tahu, ketika hendak berkeluarga kelak “hal apa yang akan diberikan untuk umat, untuk Allah”.
3.   >> Dan yang terpenting dan cukup dasar kita perlukan, sejatinya ketika ingin orang yang dapat melengkapi separuh agama kita, kita ingin menggenapkan separuh agama kita, tentunya kita harus memastikan terlebih dahulu “yang separuhnya lagi” itu sudah cukup atau belum ? yang separuhnya lagi adalah ilmu kita, ilmu kita dalam ber-islam. Inilah yang bisa kita sebut sebagai “memantaskan diri”, wahai muslimah.
4.    >> Kalau kata ustadz Syatori, momen-momen persiapan menjadi keluarga dan berkiprah di masyarakat madani itu bisa dimulai sejak dini yaitu dengan banyak ber-silaturahim dengan sanak saudara kita. Karena kekuatan silaturahim akan membantu kita dalam rangka membentuk masyarakat yang mulia.

Demikian “secuplik” (nggak sadar panjangnya Subhanallah.. :p) hasil diskusi yang Subhanallah luar biasa dari lingkaran cinta Allah. Semoga juga memiliki kebermanfaatan bagi kita semua yang membaca di sini. Waallahu’alam bishowab.


Wassalamualaykum wr. wb.

Muslimah Mewarnai Dunia,
Muslimah Pembangun Peradaban,
Muslimah Pencetak Sejarah !!

Referensi Buku Keakhwatan 1, 2, 3 ,4 Karya Ustadz Cahyadi Takariawan dkk.

Sabtu, 01 Juni 2013

Perkara Hati





Cinta.

Sejatinya, perkara cinta bukan sekedar perihal rasa, tapi juga perihal masa depan.
Apakah ia akan kau bawa untuk kesenangan duniawimu saja atau, ia yang akan menghantarmu untuk kebutuhan hakikimu kelak ?
Perkara ini bisa salah kaprah jika kita tak memiliki dan tak mau mengetahui apa yang seharusnya kita pahami dan telah termuat dalam pesan-pesan cinta Rabb semesta alam.
Dalam suatu buku yang pernah saya baca, bahkan seorang ulama Indonesia, Buya Hamka memberikan warisan nasehat untuk kita, kita insan manusia yang diberikan fitrah semestinya.
Kata beliau, “Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada tiap-tiap diri manusia, ia laksana setitis embun yang turun dari langit, bersih dan suci, cuma tanahnya lah yang berlainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus maka tumbuhlah oleh karena embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipuan, langkah serong dan lain-lain perangai yang tercela. Tetapi kalau ia jatuh ke tanah yang subur, maka di sana akan tumbuh kesucian hati, keikhlasan, setia, budipekerti yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji.”
Apa maksud nasehat ini ? Bahwa cinta adalah fitrah manusia, hanya saja apakah fitrah itu memiliki penerimaan yang baik atau tidak, dengan pemahaman yang baik atau tidak, dan itu lah perumpaan hati dan akal sebagai tanah yang subur atau tandus.
Tanyakan pada hati dan lihat perangai diri. Apakah ketika merasakan hal ini penerimaan kita telah bijak ? Apakah ketika hati menyeruak pada satu nama kemudian sikap di dasari pemahaman yang baik ? Dan apakah sikap itu semata ditujukan hanya untuk menjaga cintaNYA ?
Cinta diatas segala cinta. Yang memiliki cinta dan yang menciptakan cinta, satu-satunya yang berhak dan memiliki hak tertinggi untuk mendapatkan cinta kita.
Berusaha untuk tidak menjadi tanah yang tandus adalah sebuah langkah yang seharusnya. Karena, sadarkah bahwa apa yang menjadi sikap kita dalam menanggapi cinta kelak akan berdampak pula pada kehidupan kita ? sadarkah bahwa hati dan sikap ketika tak di jaga maka perlahan ridho dan keberkahan dari perasaan cinta itu sendiri akan musnah ? hangus terbakar habis oleh hawa nafsu kita.
Ahhh.. siapa yang mau ? Semua manusia, sejatinya ingin mensucikan rasa cintanya. Menjadikannya sebagai sebuah berlian yang dikemas rapi dalam kotak dan dipersembahkan hanya kepada orang yang berhak yang telah menjadi ketetapanNYA.
Jangan mudah menyatakan cinta jika belum bisa mempertanggunjawabkannya.

Pengharapan.
Sejatinya, harapan adalah doa.
Apakah ia, harapan yang merupakan doa itu kita tujukan kepada sesama manusia ? Bisa apa manusia ketika kita ingin membelah bumi ini, apakah kemudian manusia mampu ? Tidak. Tentu saja tidak. Maka dimanakah sepantasnya kita menaruh harapan itu ?
Jika kemudian kita meminta manusia untuk membelah bumi ini, namun ternyata ia tak bisa melakukannya, lalu apa sikap kita ? Kecewa.
Karena segala yang pasti itu hanya milikNYA. Karena semuanya telah tertulis rapi dalam Mega Lauh Mahfuz NYA. Kita ?
Kita hanya aktor yang senantiasa menikmati dan menanggapi setiap dinamika hidup dalam koridor kecintaanNYA. Yang diminta untuk senantiasa berpikir, bekerja untukNYA, dan menunjukkan wujud cinta padaNYA.
Mungkin ini terlihat sebatas retorika mulut kepada hati, Tapi, pemahaman inilah kekuatannya. Bahwa kekuatan seseorang itu terletak pada kesabarannya. ( bisa lihat QS. Al Anfal 65 )
Sabar, sabar dan ikhlas dengan apapun bentuk ketetapannya. Apapun.
Maka, apakah kini sudah paham dimana seharusnya kita meletakkan harapan itu ?
Bisa jadi ketika kita menyampaikan harapan kita kepada satu nama manusia, ternyata ketika kita berada jauh di luar sana kita menemukan manusia yang lebih baik dari nama itu dan kemantapan itu tertuju padanya, apa yang bisa kau pertanggungjawabkan ?
Manusia, sejatinya tiada kepastian kecuali ketidakpastian itu sendiri. Karena segala kepastian hanya IA yang tahu.
Jangan mudah memberi dan menaruh harap (pada manusia) jika diri belum siap.

Melepas.
Sejatinya, melepas adalah perkara keikhlasan.
Keikhlasan hati untuk diurus olehNYA perihal cinta dan harapan.
Keikhlasan itu bentuk sikap paling bijak setelah kesabaran, dalam keikhlasan terdapat sebuah keyakinan akan keberadaanNYA dalam setiap langkah dan keputusan kita.
Maka, ketika kita telah paham seperti apa tanah yang subur itu… semestinya kita mampu melepas cinta dan harapan dari satu nama yang belum pasti untuk kita. Lepaskanlah…
Ikhlaskan… bahwa semua akan ada masanya. Bahwa hati akan berlabuh pada yang semestinya, yang diberikan Allah untuk menghantarkan kita pada kehidupan yang hakiki. Kenikmatan syurga.
Tugas kita saat ini hanyalah senantiasa memperbaiki diri, koreksi kembali niat dan hati kita, apakah kerja-kerja di dunia ini semata untuk menjaga cintaNYA dan mendapat ridhoNYA ?
Kita menginginkan keberkahan masa depan bukan ? Maka jadilah tanah yang subur itu… J



*saya tidak pernah merasa canggung menulis topik ini. Mungkin orang di luar sana akan berkomentar bahwa ini bentuk kegalauan, tak apa, asal kemudian kegalauan itu memiliki follow up yang meaningful. Agar kita bisa kembali berfikir dan kembali pada jalur yang seharusnya. Maka beruntunglah bagi orang-orang yang mau berfikir dan memahami. J Selamat memperbaiki diri (ngomong sama cermin).

Senin, 27 Mei 2013

Itu Kapal

Di atas laut kapal itu tergontai
Mengikuti kemana angin itu menghembusnya
Ternyata kapal itu tak berawak
Kemana awaknya ??
Ohhh… kapal itu terlarung
Terlarung sendiri karna tali penyangganya terputus
Akhirnya ia berjelaga sendiri
Menikmati perjalanan sendirinya mengarungi hamparan luas laut
Di terjang ombak…
Diterpa badai…
Tertabrak karang…
Ahhh… kapal itu tetap saja bertahan di atas gontaian air dan angin
Aneh, kapal ini tak berawak…
Tetapi tetap saja ia mampu berjelaga menuntaskan perjalanannya
Tetap saja, ia bisa terlarung entah kemana ia akan pergi dan melabuhkan diri
Tetap saja, sebelum tuntas perjalanannya ia takkan berawak…
Maka tuntaskanlah, kapal
Di atas laut…
Dalam gontaian ombak…
Dan hembusan angin…
Kau akan tahu, kemana kau akan pergi
Ada ombak dan angin yang kan mengantarmu
Maka biar saja kau terlarung tanpa awak
Hingga kau tahu dibibir pantai manakah kau kan terlabuh