malam, di langit sana ada byk bintang. tapi ntah hanya ada satu bintang yg sinarnya bgtu terang, #bintang
sempat bintang merebut perhatianku dr bintang lain yg muncul. tapi kemudian aku tersadar, bisa jadi esok .... #bintang
bisa jadi esok, di malam yang lain bintang yg sinarnya begitu terang tak lg muncul di peraduan langitnya. #bintang
maka kututup mataku, kemudian aku melangkah pergi meninggalkan bintang2 itu. biarkan mereka bersinar, dan aku.. #bintang
dan aku tengah me-reka-reka bintang seperti apakah yang pantas sinarnya kelak menjadi penerang setiap jalanku, #bintang
Sebaik baik manusia adalah yang mampu memberikan manfaat kepada manusia yang lain dan yang senantiasa memperbaiki diri dalam setiap pergantian waktu ~,^
Minggu, 28 Juli 2013
Rabu, 10 Juli 2013
#setahunpascaKKN #part1
Bismillah.
Uwoooooo…. Floreeeeesssss >_<
!! Akhirnya tepat pukul 11 siang kami sampai di Wae Lolos. Lokasi yang siap
kami eksekusi untuk program KKN selama 5 minggu. Hmmm… its very excited. Di
rumah mama Alfons kami istirahat dulu sebelum nanti pergi ke kampung untuk
bertemu warga dan melaksanakan acara penyambutan. Eiittss… kalo begitu kita
flashback dulu perjalanan sebelumnya yuukk J.
7 Juli 2012 pukul 16.00 berangkat
dari Jogja menuju terminal Semarang untuk menemui bus yang akan mengantar kami
menuju Nusa Tenggara Timur (NTT). Tepat pukul 12.00 kami sampai terminal
Semarang, dan hmm… ternyata bus nya dateng pagi ! Alhasil sembari menunggu,
kami tidur di emperan depan agen bus. Astaghfirullah…. Nyamuk pada demen kita
dateng, tepok sana tepok sini garuk sana garuk sini, mana bau comberan lagi.
Nggak tenang banget tidur malam ini. Pukul 7.00 pagi yang dinanti datang, dua
orang jalan sambil cengar-cengir menghampiri kami yang masih tergeletak kayak
pengungsi. Izzah dan Lembi (Herlambang :p).
Aaaahhhh perjalanan yang
menyenangkan. Menapaki setiap sudut kota yang kami lewati, pantai utara,
pelabuhan, laut, Bali, Mataram, Sumbawa, Bima. Ya, bus kita hanya sampai di
Bima. Selanjutnya kami neteng via laut menuju Flores. Ya, Flores J.
Perjalanan ini membuatku jatuh cinta pada sesuatu. Laut. Aku jatuh cinta pada
perjalanan selama di atas kapal, menikmati kebesaranNYA, memandang hamparan
samudera, matahari terbit, matahari terbenam, sesekali melihat ikan-ikan
berlayar di dalam laut. Perpaduan panorama yang cantik. Tibalah kami di pelabuhan
Sape sekitar pukul 9 pagi. Kami luntang-luntung menunggu kepastian kedatangan kapal feri di pelabuhan Sape. Nggak enak
memang di PHP-in ya #gagalfokus. Aaaaa…. Di sini ada pentol juga ternyata beli
aahhhh :D
Sembari
menunggu kapal feri datang, beberapa anak punya kesibukan masing, ada yang asik
main Uno, ada yang sibuk beberes diri di masjid ( saya termasuk di dalamnya
hehe ). Pelabuhan panas ya Subhanallah. Selesai sholat, kami dapat kabar bahwa
kapal feri yang menyebrang menuju Labuan Bajo Flores NTT datangnya pukul 3
sore. Ohhhh Meeenn ! Ya Allah… apa yang harus kita perbuat hingga jam 3 nanti
?? Okelah. Tik tok tik tok… Ayeee ! Jam 3, bau-bau kapal feri datang sudah
diujung penciuman hahaha. Dan ya, akhirnya dengan tergopoh-gopoh membawa barang
bawaan yang segambreng kami berebut dengan penumpang lain agar mendapat posisi
oke selama di kapal. Dan Alhamdulillah kita dapat kursi empuk di dalam feri
hihihi.
Aiihh… menikmati perjalanan di atas
laut pada sore hari lagi J. Beruntungnyaaa. Wahh.. ruang di kapal
yang kami tempati nyaman bangeettt.. seolah membayar jiwa-jiwa yang lelah dan
badan-badan yang remuk redam selama perjalanan 2 hari. Ini kapal plus-plus deh
kayaknya haha… fasilitasnya oke banget nih, kita di suguhi TV Flat yang memutar
film untuk dinikmati para penumpang selama perjalanan. Sayang saya lupa film
apa waktu itu yang diputar. Setiba di dalam kapal dan meregangkan otot sejenak,
anak-anak kemudian terpecah lagi aktivitasnya. Ada yang kelaperan dan akhirnya
beli mie rebus seharga SEPULUH RIBU. Nggondooookkkk hahahaha. Aku ? memilih
keluar kapal dan menuju ke atas dekat kepala kapal menikmati hamparan samudera
sore hari. Oya, ada juga yang fokus beberes diri di kamar mandi yang ukurannya
hanya 1x1 meter, betapaaaa sempitnyaa hahaha.
Kami menempuh perjalanan sekitar 7
hingga 9 jam sampai di Flores. Pukul 12.00 malam baru diperkirakan sampai di
Labuan Bajo, Flores.
Selama
di kapal banyak hal yang direnungi, Rabb… Ramadhan pertama kali tanpa keluarga,
alamat Lebaran juga tanpa keluarga karna masih dalam perjalanan pulang. Seperti
apa rasanya ?? Jelas berbeda jauh dengan ketika di Jogja. Masjid-masjid ramai
didatangi, suara adzan dan sholat tarawih menggema dimana-mana. Hmm… ini pasti
pengalaman yang akan sangat berkesan bagi perjalanan ruhiyah ku. Berada di
tengah-tengah masyarakat yang mayoritas non-muslim. Jelas tantangan ruhiyah ku
akan lebih bermacam. Semoga aku ISTIQOMAH ! (udah bekal nasehat dan back-up an
gurunda untungnya). “Kencengin al-matsuratnya dek..... dzikirnya.” Katanya. Hmm…
Insya Allah, Allah menjagaku dan teman-teman yang lain.
Pukul 12.00 malam kapal feri merapat
di pelabuhan Labuan Bajo, Flores ! Aaaaa… kaki berasa gemetaran ketika
menginjak daratan Flores, pulau kecil hasil pemekaran daerah NTT yang kaya akan
keindahan laut, flora dan fauna nya. Komodo, ya binatang langka ini lah icon
pulau ini J.
Turun dari kapal kami bertemu dengan unit KKN lain yang juga KKN tak jauh dari
lokasi kami. Salah satu dari tim kami akhirnya mencari lokasi penginapan. Dan
akhirnya dapatlah kita penginapan. Jangan bayangkan kita akan tidur enak di
kamar masing-masing. Bukan. Kami bukan menyewa kamar, tapi ruang pertemuan yang
luas dengan karpet yang di gelar merata di lantai. Hahahaha.. ya kami istirahat
di sana sembari menunggu pukul 8.00 pagi jemputan mendatangi kami. Ini trik
irit dari tim karna nanggung jika sewa kamar hanya hingga pukul 8.00 pagi.
Jadi, kami hanya mengeluarkan kocek 30 ribu per orang untuk membayar penginapan
aneh kami hahaha.
Menyempatkan diri untuk cari sarapan
dulu, kami jalan kaki menikmati suasana pagi Labuan Bajo menuju warung nasi
padang. Hmm… ke warung nasi padang pasti makannya nasi padang ya ? BUKAN. Anda salah
besar. Kami sarapan dengan menu yang tak relevan dengan warungnya. Mie rebus,
nasi telor dan nasi ikan, itu pilihan kami. Harga ? 10 ribu untuk mie rebus dan
15 ribu untuk nasi telor dan nasi ikan. Ppppffttt…tapi Alhamdulillah masih bisa
makan hehehe. Tepat pukul 8.00 jemputan kami tiba di depan penginapan. Aku
sempat tengok kanan kiri mana angkutannya ? yang ada hanya truk di sini. “Ini
angkutan kita cuy.. !” celetuk salah satu anggota tim. APA ?? oh.. oke. Truk.
Namanya “Otto kol”, ini adalah angkutan yang ada di Flores, bukan untuk angkut
sapi atau kebo ya. Tapi untuk mengangkut manusia -_____-“ . Jadi pliss guys,
jangan merengek “Mooooo…” selama berada di truk !
Dan
tau kah kaliaaaannn ? bagaimana cara kami menaiki Otto kol tersebut ? Manjat! Ya
Manjat ban baru kita bisa duduk manis di dalam badan truk. Aku ? sempat mencoba
manjat, tapi ehmm… ini pakai rok sodara-sodara. Ehmm. Akhirnya aku memilih
untuk duduk cantik di sebelah pak sopir, hohohoho. Berjalan di sisiran
pelabuhan, kami sempatkan belanja sembako untuk diserahkan kepada perangkat
desa sebagai simbolis kehadiran kita di sana. Beras, minyak, gula, teh dan
beberapa yang lain kami beli. Uppss ! ada kotak es krim. Es krim nya berasa “ngawe-awe”
minta di makan. Mana cuaca panas pula. Baik. Satu es krim seharga 5 ribu saya
beli dan makan dengan asik sambil menikmati perjalanan di dalam Otto. Anak-anak
yang lain “Iiihh nisa beli eskrim sendiiriiiii…” :P .
Menuju Wae Loloooosssss !!! Yeaayy !
But Oh GOD ! perjalanan menuju Wae Lolos berasa naik Jet Coaster … ! Jalan
perbukitan yang meliuk-liuk tajam, nanjak-meliuk, turun-meliuk membentuk huruf “S”
jalanan itu. Belum jika di depan ada kendaraan dengan arus berlawanan, semakin
parno diri ini duduk di depan. Tepat kiri jalan adalah jurang, aaaa tidaaaakk !
Jalanan aspal rusak, aaa bagaimana ini ?? Sementara Pak sopir dengan santai
menyetel lagu-lagu ambon (yang sampe saat ini lagu itu masih tersimpan di hape
ku) sambil SMS-an. Ya SMS-an, nggak tau sama siapa, istrinya kali. Aku parno,
sementara pak sopir SMS-an Ya Rabb… lindungi saya !
Untuk menenangkan keparnoan,
akhirnya pak sopir mengajak berhenti sebentar di salah satu spot oke untuk
menikmati pegunungan yang cukup terkenal di daerah itu. Berfoto sejenak lah
kami hihihi.
Sebenarnya
ada kenikmatan pula selama perjalanan menantang itu, sepanjang jalan kami dapat
melihat jajaran pantai Flores yang biru nya biru tosca aihh cantik J.
Menikmati jajaran pegunungan yang bertengger kokoh di dataran Flores, hijau nya
hijau lebat aihh menyejukkan J. Flores… seketika aku jatuh cinta
padamu <3 .
Finally, 10 Juli 2012 Alhamdulillah….
Wae Loloooosssssssss kami dataaaaaannngggg :D !!!
Jumat, 28 Juni 2013
Niat "sama" Tujuan
Bahkan, dalam rangka menyelesaikan skripsi niatnya juga perlu dilurusin, buat Allah atau buat manusia ?? :)
buat ngejar cinta Allah atau cinta manusia ? :)
buat cepetan Allah ridho atau cepetan dapet jodoh ?? #eh :))
yuk! lurusin lagi niatnya (butuh penggaris??) biar jalannya lancar, semangatnya konsisten dan akhirnya selesai :)
intinya, melakukan segala seuatu itu ujung dan simpulnya cuma satu, ALLAH. :)
Sukses kawan-kawan !! ^_^
Senin, 24 Juni 2013
Mempersiapkan Menjadi Ibu RT ^_^
Assalamualaykum wr. wb.
Sedikit
ingin share hasil diskusi dengan teman-teman lingkaran cinta beberapa waktu
lalu. Ini tentang sebuah masa depan. Tentang sebuah peradaban. Tentang sebuah
asa dan cinta atas kehidupan yang lebih mulia. Tentang pentingnya eksistensi
muslimah dalam kiprah peradaban. Tentang pentingnya ilmu bagi muslimah. Dan tentang
bekal yang musti dipersiapkan jauh hari untuknya. Let’s Our discussion about “Mempersiapkan
Diri Menjadi Ibu RT” :p
Gals,
mesti yeiy yeiy semua mengernyit baca judul diskusi ini, hehehe. Bisa jadi
dalam pikiran kalian bahasan ini akan membahas tentang bagaimana mengurus warga
sekampung, bagaimana mengelola arisan, PKK, dan lain sebagainya. Eeiitsss… itu
cukup mainstream sodara-sodari J
. Ini bukan sekedar urus mengurus arisan, PKK, warga, dsb. Ini tentang
bagaimana kelak kita akan menjadi salah satu aktor dalam membangun peradaban
dari generasi-generasi yang akan kita lahirkan. Menjadi Ibu RT, menjadi Ibu
Rumah Tangga dan Rukun Tetangga. Jangan tertipu dengan judul ya. Maksud dari
judul ini adalah bagaimana kita mempersiapkan menjadi seorang ibu yang memiliki
peran besar dalam melahirkan para generasi mulia yang diharapkan islam dan
bagaimana peran besar kita untuk mewujudkan kondisi masyarakat yang sehat salah
satunya dengan melahirkan generasi-generasi rabbani. (Dakwah Keluarga dan
Dakwah Sya’bi)
1. >> Ibu
Shalihah untuk Generasi yang Shalih
“Muslimah itu memiliki potensi
melahirkan dua macam generasi, melahirkan seorang ulama atau seorang negarawan.”
*disadur
dari kata seorang sahabat*
Betapa
mulianya seorang wanita yang diberikan fitrah dan nikmat dengan menjadi salah satu
agen peradaban. Ia adalah pewaris nilai-nilai (taurits al qiyam) kebaikan kepada para generasi baru. Maka untuk
melahirkan generasi yang unggul dan berkualitas, memerlukan sosok ibu yang
berkualitas pula. Ini menandakan bahwa seorang ibu harus memiliki bekal ilmu
baik secara teori untuk membentuk pemahaman yang baik, maupun praktik sebagai
bentuk konkritnya. Ilmu ini lah yang menjadi sumber dari munculnya ibu-ibu yang
shalihah #ihiiy. Pendidikan muslimah di sini sangatlah penting, so buat para
muslimah jangan kesampingkan kuliah dengan organisasi yak. Keduanya seyogyanya
mampu berjalan beriringan dan seimbang, kan oke tuh yaa udah IPK 4.00
kontribusi di luar (organisasi misalnya) itu juga kece. Dapet ilmu nya
dimana-mana, dibagi kemana-mana, di pake semanfaat-manfaatnya, apalagi besok
buat anaknya #beuuuhh. Joss Gandooss !!
Nah,
maka buat para muslimah jangan enggan untuk bisa mendapatkan pendidikan hingga
jenjang yang lebih tinggi. Memang sih, bukan menjadi takaran pasti, tapi nanti
penting untuk mengawal anak-anak kita untuk memiliki motivasi yang tinggi dalam
mencari-cari ilmu. Kalau kata seorang sodari, “Eh, anak-anak kita itu besok butuh
ibu yang cerdas!” ditambah mbak Dian Sastro bilang “entah akan berkarir atau
menjadi ibu rumah tangga, seorang wanita wajib berpendidikan tinggi. Karena ia
akan menjadi ibu. Ibu-ibu cerdas akan menghasilkan anak-anak yang cerdas.” Mekaten
ngendikane mbak Dina menika.
Kenapa
itu penting ? yuk kita lihat fenomena-fenomena jaman sekarang. Kenakalan remaja
dimana-mana, pelacuran anak usia belia dimana-mana, pornografi, narkoba, miras
aaaahh terlalu kelu menyebut satu per satu kondisi moral yang tak terjaga
seperti itu. Ini PR kita lhoo ibu-ibu sekalian yang di rahmati Allah J. Ini Pekerjaan Rumah bagi masing-masing
diri kita. Membentuk karakter mulia dalam diri, keluarga dan masyarakat adalah
tugas kita juga. Dan ini penting bagi generasi yang akan kita lahirkan esok.
Karena sejatinya, ibu yang mengandung dan melahirkan adalah pihak yang paling
dekat emosionalnya dengan anak-anak, jadi ia memiliki peluang yang besar ketika
mendidik dan membimbing anaknya menjadi anak dengan nilai moral yang baik. (ehmm..
bapak-bapak jangan sewot dulu nggih :p ). Ã
bukan menafikan peran bapak bagi anak-anak. Dalam islam perempuan shalihah
adalah pasangan bagi laki-laki yang shalih. Dengan demikian pada saat islam
menghendaki perempuan menjadi shalihah adalah tuntutan yang sama terhadap
laki-laki untuk menjadi shalih.
So,
proses pendidikan (Tarbiyah) dari para ibu di sini sangat penting untuk
mempersiapkan para ibu agar memahami perannya dalam menjawab tantangan masa
depan bangsa. Sesungguhnya mereka tidak cukup menjadi ibu yang baik hanya dari
segi pengalaman belaka. Perlu sejumlah ilmu dan ketrampilan untuk bisa menjadi
pendidik generasi yang berkualitas yang diharapkan islam.
2. >> Muslimah
Pembangun Masyarakat yang Sehat
Dalam
amar ma’ruf nahi munkar laki-laki dan perempuan itu memiliki kewajiban yang
sama. Mereka adalah unsur asasi dalam melakukan pembangunan masyarakat. Kita
cek dulu yuk, Allah SWT berfirman “
“Dan orang-orang yang beriman
laki-laki dan perempuan, sebagian mereka adalah menjadi penolong bagi sebagian
yang lain. Mereka menyuruh (mengerjakan) yang ma’ruf dan mencegah dari yang
munkar, mendirikan shalat, menunaikan zakat. Dan mereka taat kepada Allah dan
RasulNya. Mereka itu akan diberi rahmat oleh Allah; sesungguhnya Allah
Mahaperkasa lagi Mahabijaksana.” QS. At Taubah ayat 71
Di
sini muslimah bukanlah suplemen atau pelengkap dalam perbaikan masyarakat. Jika
kaum laki-laki disiapkan menjadi manusia yang shalih namun kaum perempuan tidak
dididik hal yang sama, maka yang terjadi adalah ketimpangan. So, muslimah
adalah salah satu pelaku aktif dalam pembangunan. Dan mereka membutuhkan
pendidikan islam (tarbiyah islamiyah)
sebagai penghantar pada kepribadian para muslim/ah. Jika tidak, maka akan mudah
tergerus oleh arus zaman, terkhusus muslimah yang rentan olehnya (melihat
kembali fenomena 5 F, Fashion, Film, Fun, Food, F ……. *isi masing-masing yeh :p
*
Meskipun secara anatomis dan fisiologis
perempuan dan laki-laki memiliki perbedaan, namun sesungguhnya perbedaan
tersebut bisa menjadi peluang modal yang ketika kita kelola bahkan mampu
memberikan nilai manfaat di masyarakat. Menurut Abbas Kararah (1995) bahwa
kelembutan, kehalusan watak, kelebihan perasaan lebih dominan dimiliki
perempuan sementara kekerasan, pendirian teguh, kecerdikan menguasai hawa nafsu
adalah watak laki-laki. Dengan watak perempuan yang tersebut di atas maka
memang selaras dengan perannya sebagai sosok yang penyayang, penuh cinta kasih
terhadap sesama bahkan kepada anak dan keluarga. Sementara watak laki-laki
tersebut di atas selaras dengan peran mereka sebagaimana mereka telah diamanahkan
untuk menjadi seorang pemimpin yang tangguh. Baik untuk keluarga, masyarakat,
bahkan bangsa dan negara.
Dari sini kemudian mengindikasikan bahwa
pendidikan bagi seorang muslimah penting untuk dimiliki. Pendidikan memang tidak
hanya ada dalam lingkup akademis tapi juga di setiap ranah yang kita lakoni.
Karena sesungguhnya ilmu itu bertebaran dimana-mana, tinggal bagaimana kita
pandai mengais-ais nya menjadikannya manfaat bagi sesama. Namun dengan memiliki
pendidikan hingga jenjang yang lebih tinggi (dalam lingkup akademis) akan
menjadi motivasi tersendiri bagi generasi-generasi kita agar senantiasa berilmu
dan menjadikannya menjadi sosok pembangun peradaban yang lebih mulia.
Melalui pendidikan itu pula mengangkat
derajat muslimah dlm kapasitas subjek yg mandiri, memiliki kesadaran aktif
& potensi yg penuh utk melakukan perbaikan diri, keluarga, masyarakat
dan bangsa. Karena eksistensi muslimah juga dibutuhkan dalam sistem dan
dinamika masyarakat yang sehat.
Maka ada beberapa titik poin yang dapat
diambil kesimpulan dari perbincangan kecil ini, bahwa,
1. >> Sesungguhnya
seorang wanita itu punya kesempatan besar untuk memberi manfaat di masyarakat,
di ranah sosial. Banyak peluang sosial yang bisa kita gunakan untuk
berkontribusi mulai dari hal yang kecil. Dengan fitrah yang dimiliki dan
didukung dengan ilmu maka peran-peran muslimah akan lebih memberikan makna tersendiri
baik dalam keluarga untuk menjadi "mar-atus
solihah (perempuan solihah), jauzatu muntihah (istri yang menentramkan), dan
ummul madrasah (sekolah pertama bagi anak)." Dan itu menjadi faktor
pendukung besar dalam menciptakan masyarakat yang sehat, peradaban yang mulia.
2. >> Maka, seorang muslimah sebelum mencapai tahapan itu perlu
memiliki visi misi dalam rangka menyatukan kesamaan frame dan tujuan dalam membangun keluarga kelak. Karena jelas
penting visi misi tersebut untuk di satukan dengan visi misi pasangan yang
kelak akan membersamai langkah-langkah kontribusi muslimah di bumi yang amat
luas ini selama hidup. Dengan begitu para muslimah akan tahu, ketika hendak
berkeluarga kelak “hal apa yang akan diberikan untuk umat, untuk Allah”.
3. >> Dan yang terpenting dan cukup dasar kita perlukan, sejatinya
ketika ingin orang yang dapat melengkapi separuh agama kita, kita ingin
menggenapkan separuh agama kita, tentunya kita harus memastikan terlebih dahulu
“yang separuhnya lagi” itu sudah cukup atau belum ? yang separuhnya lagi adalah
ilmu kita, ilmu kita dalam ber-islam. Inilah yang bisa kita sebut sebagai “memantaskan
diri”, wahai muslimah.
4. >> Kalau kata ustadz Syatori, momen-momen persiapan menjadi
keluarga dan berkiprah di masyarakat madani itu bisa dimulai sejak dini yaitu
dengan banyak ber-silaturahim dengan sanak saudara kita. Karena kekuatan
silaturahim akan membantu kita dalam rangka membentuk masyarakat yang mulia.
Demikian “secuplik” (nggak sadar panjangnya
Subhanallah.. :p) hasil diskusi yang Subhanallah luar biasa dari lingkaran
cinta Allah. Semoga juga memiliki kebermanfaatan bagi kita semua yang membaca
di sini. Waallahu’alam bishowab.
Wassalamualaykum wr. wb.
Muslimah Mewarnai Dunia,
Muslimah Pembangun Peradaban,
Muslimah Pencetak Sejarah !!
Referensi Buku Keakhwatan 1, 2, 3 ,4 Karya Ustadz Cahyadi Takariawan dkk.
Sabtu, 01 Juni 2013
Perkara Hati
Sejatinya,
perkara cinta bukan sekedar perihal rasa, tapi juga perihal masa depan.
Apakah
ia akan kau bawa untuk kesenangan duniawimu saja atau, ia yang akan
menghantarmu untuk kebutuhan hakikimu kelak ?
Perkara
ini bisa salah kaprah jika kita tak memiliki dan tak mau mengetahui apa yang
seharusnya kita pahami dan telah termuat dalam pesan-pesan cinta Rabb semesta
alam.
Dalam
suatu buku yang pernah saya baca, bahkan seorang ulama Indonesia, Buya Hamka
memberikan warisan nasehat untuk kita, kita insan manusia yang diberikan fitrah
semestinya.
Kata
beliau, “Cinta itu adalah perasaan yang mesti ada tiap-tiap diri manusia, ia
laksana setitis embun yang turun dari langit, bersih dan suci, cuma tanahnya
lah yang berlainan menerimanya. Jika ia jatuh ke tanah yang tandus maka
tumbuhlah oleh karena embun itu kedurjanaan, kedustaan, penipuan, langkah
serong dan lain-lain perangai yang tercela. Tetapi kalau ia jatuh ke tanah yang
subur, maka di sana akan tumbuh kesucian hati, keikhlasan, setia, budipekerti
yang tinggi dan lain-lain perangai yang terpuji.”
Apa
maksud nasehat ini ? Bahwa cinta adalah fitrah manusia, hanya saja apakah
fitrah itu memiliki penerimaan yang baik atau tidak, dengan pemahaman yang baik
atau tidak, dan itu lah perumpaan hati dan akal sebagai tanah yang subur atau
tandus.
Tanyakan
pada hati dan lihat perangai diri. Apakah ketika merasakan hal ini penerimaan
kita telah bijak ? Apakah ketika hati menyeruak pada satu nama kemudian sikap
di dasari pemahaman yang baik ? Dan apakah sikap itu semata ditujukan hanya
untuk menjaga cintaNYA ?
Cinta
diatas segala cinta. Yang memiliki cinta dan yang menciptakan cinta,
satu-satunya yang berhak dan memiliki hak tertinggi untuk mendapatkan cinta
kita.
Berusaha
untuk tidak menjadi tanah yang tandus adalah sebuah langkah yang seharusnya.
Karena, sadarkah bahwa apa yang menjadi sikap kita dalam menanggapi cinta kelak
akan berdampak pula pada kehidupan kita ? sadarkah bahwa hati dan sikap ketika
tak di jaga maka perlahan ridho dan keberkahan dari perasaan cinta itu sendiri
akan musnah ? hangus terbakar habis oleh hawa nafsu kita.
Ahhh..
siapa yang mau ? Semua manusia, sejatinya ingin mensucikan rasa cintanya. Menjadikannya
sebagai sebuah berlian yang dikemas rapi dalam kotak dan dipersembahkan hanya
kepada orang yang berhak yang telah menjadi ketetapanNYA.
Jangan
mudah menyatakan cinta jika belum bisa mempertanggunjawabkannya.
Pengharapan.
Sejatinya,
harapan adalah doa.
Apakah
ia, harapan yang merupakan doa itu kita tujukan kepada sesama manusia ? Bisa
apa manusia ketika kita ingin membelah bumi ini, apakah kemudian manusia mampu
? Tidak. Tentu saja tidak. Maka dimanakah sepantasnya kita menaruh harapan itu
?
Jika
kemudian kita meminta manusia untuk membelah bumi ini, namun ternyata ia tak
bisa melakukannya, lalu apa sikap kita ? Kecewa.
Karena
segala yang pasti itu hanya milikNYA. Karena semuanya telah tertulis rapi dalam
Mega Lauh Mahfuz NYA. Kita ?
Kita
hanya aktor yang senantiasa menikmati dan menanggapi setiap dinamika hidup
dalam koridor kecintaanNYA. Yang diminta untuk senantiasa berpikir,
bekerja untukNYA, dan menunjukkan wujud cinta padaNYA.
Mungkin
ini terlihat sebatas retorika mulut kepada hati, Tapi, pemahaman inilah
kekuatannya. Bahwa kekuatan seseorang itu terletak pada kesabarannya. ( bisa
lihat QS. Al Anfal 65 )
Sabar,
sabar dan ikhlas dengan apapun bentuk ketetapannya. Apapun.
Maka,
apakah kini sudah paham dimana seharusnya kita meletakkan harapan itu ?
Bisa
jadi ketika kita menyampaikan harapan kita kepada satu nama manusia, ternyata
ketika kita berada jauh di luar sana kita menemukan manusia yang lebih baik
dari nama itu dan kemantapan itu tertuju padanya, apa yang bisa kau pertanggungjawabkan
?
Manusia,
sejatinya tiada kepastian kecuali ketidakpastian itu sendiri. Karena segala
kepastian hanya IA yang tahu.
Jangan
mudah memberi dan menaruh harap (pada manusia) jika diri belum siap.
Melepas.
Sejatinya,
melepas adalah perkara keikhlasan.
Keikhlasan
hati untuk diurus olehNYA perihal cinta dan harapan.
Keikhlasan
itu bentuk sikap paling bijak setelah kesabaran, dalam keikhlasan terdapat
sebuah keyakinan akan keberadaanNYA dalam setiap langkah dan keputusan kita.
Maka,
ketika kita telah paham seperti apa tanah yang subur itu… semestinya kita mampu
melepas cinta dan harapan dari satu nama yang belum pasti untuk kita.
Lepaskanlah…
Ikhlaskan…
bahwa semua akan ada masanya. Bahwa hati akan berlabuh pada yang semestinya,
yang diberikan Allah untuk menghantarkan kita pada kehidupan yang hakiki. Kenikmatan
syurga.
Tugas
kita saat ini hanyalah senantiasa memperbaiki diri, koreksi kembali niat dan
hati kita, apakah kerja-kerja di dunia ini semata untuk menjaga cintaNYA dan
mendapat ridhoNYA ?
Kita
menginginkan keberkahan masa depan bukan ? Maka jadilah tanah yang subur itu… J
*saya
tidak pernah merasa canggung menulis topik ini. Mungkin orang di luar sana akan
berkomentar bahwa ini bentuk kegalauan, tak apa, asal kemudian kegalauan itu memiliki follow up yang meaningful. Agar kita bisa kembali berfikir dan
kembali pada jalur yang seharusnya. Maka beruntunglah bagi orang-orang yang mau
berfikir dan memahami. J Selamat memperbaiki diri (ngomong sama
cermin).
Senin, 27 Mei 2013
Itu Kapal
Di atas laut kapal itu tergontai
Mengikuti kemana angin itu menghembusnya
Ternyata kapal itu tak berawak
Kemana awaknya ??
Ohhh… kapal itu terlarung
Terlarung sendiri karna tali penyangganya terputus
Akhirnya ia berjelaga sendiri
Menikmati perjalanan sendirinya mengarungi hamparan luas
laut
Di terjang ombak…
Diterpa badai…
Tertabrak karang…
Ahhh… kapal itu tetap saja bertahan di atas gontaian air
dan angin
Aneh, kapal ini tak berawak…
Tetapi tetap saja ia mampu berjelaga menuntaskan
perjalanannya
Tetap saja, ia bisa terlarung entah kemana ia akan pergi
dan melabuhkan diri
Tetap saja, sebelum tuntas perjalanannya ia takkan berawak…
Maka tuntaskanlah, kapal
Di atas laut…
Dalam gontaian ombak…
Dan hembusan angin…
Kau akan tahu, kemana kau akan pergi
Ada ombak dan angin yang kan mengantarmu
Maka biar saja kau terlarung tanpa awak
Hingga kau tahu dibibir pantai manakah kau kan terlabuh
Itu Laut
Laut itu biru…
Biru nya menderu
Sembari berseru
Bernyanyi berirama syahdu
Syahdu itu lirih…
Lirihnya menggiring buih
Berjelaga di bibir pantai
Bersama butir-butir air dan pasir
Pasir itu berserakan
Namun kemudian bersama ombak
Mereka disatukan
Disatukan, ditemani angin
Angin itu berhembus
Menyeruak di sela paruh
Dan angin itu beresonansi
Resonansi bercerita
Tentang laut,
Biru…
Air…
Pasir…
dan angin itu sendiri
Laut itu biru…
Bersama ombak ia menggiring buih
Buih nya menyatu,
Menyatu satu bernada lirih
Langganan:
Postingan (Atom)
.jpg)








.jpg)