Kamis, 08 Mei 2014

Belajar Dari Mereka

Hari ini, setelah beberap penat hinggap dan hanya tersimpan tak berucap, akhirnya luap oleh sebuah sharing yang menentramkan mata, hati dan pikiran. Rencana mampir di rumah makan favorit (Pempek Ulu Bundar, hoho) lalu berlanjut nongkrong di Gramedia (ga usah di sensor ya, bukan maksud ngiklan kok!) diberi jeda oleh sebuah obrolan yang memberi pemaknaan hidup cukup berarti.

Sungguh skenario langit yang merangkai siapa, apa dan bagaimana seseorang itu dihadirkan dalam hidup kita. Dari mereka banyak hal yang tersimpan, yang jika kemudian kita gali lebih dalam akan kita temui berbagai pelajaran hidup yang beragam dan membanggakan.

Dan suatu kehormatan bagi kita ketika seorang yang ada di sekitar kemudian dengan leluasa penuh kenyamanan berbagi lahan-lahan privasinya untuk kita. Tak semua orang mampu seperti itu tapi tergantung bagaimana kita membangun personal touch agar mereka selalu merasa nyaman disamping kita.
Dan suatu kehormatan bagiku, karena obrolan jeda kali ini memberikan gambaran pengalaman hidup yang cukup berarti. Bahwa dari mana saja latar belakang seseorang sekitar kita, seperti apa gaya hidupnya, bagaimana cara pandang hidup, prinsip, dan gaya berpikir dan lain sebagainya, membentuk masing-masing diri yang ada pada mereka saat ini.

Aku bersyukur, bersyukur karena dipertemukan dan didekatkan dengan berbagai, beragam, beraneka jenis seseorang yang masing-masing memiliki latar belakang, gaya hidup, cara pandang, prinsip, dan gaya berpikir yang berbeda. Lebih bersyukur lagi jika kemudian personal touch itu sampai pada mereka, yang kemudian membuat mereka nyaman berbagi tentang pengalaman dan perjalanan hidupnya.

Aku suka, suka ketika mendengar dengan seksama bagaimana mereka bercerita dan mendeksripsikan tentang keluarganya. Aku suka, suka ketika mendengar dengan seksama seperti apa motivasi hidup dan impian yang tengah mereka bangun dan kokohkan. Aku suka, suka ketika mereka dengan berbagai ekspresi menarasikan bagaimana perjuangan hidupnya dengan gaya masing-masing untuk tetap survive dan menjadi orang yang benar-benar tangguh dengan berbagai pahit manisnya hidup.

Aku suka, suka karena dengan begitu aku pun mendapat keuntungan yang tak ternilai harganya. Satu, rasa syukur. Dua, pelajaran yang membuat diri semakin bijak memahami hidup. Ya, pada kenyataannya Allah memberikan jalur yang berbeda-beda bagi setiap umatnya untuk mendekat pada-Nya. Iya, aku yakin itu adalah dalam rangka agar mendekat pada-Nya. Berbagai interaksi dengan mereka pun yang pada akhirnya membuat diri semakin yakin untuk tetap teguh pada prinsip. Pada nilai-nilai yang senantiasa dipegang erat kemudian ketika peluang itu ada mampu dibagi kepada mereka yang leluasa berbagi dengan kita.

Well, hari ini aku mendapatkan itu semua. Senang dipertemukan dengan kalian, entah secara bertatap langsung atau sekedar lewat cerita-cerita. Dipertemukan dengan berbagai latar belakang, gaya hidup, cara pandang, prinsip, dan gaya berpikir yang beraneka. Karena di sanalah aku belajar memahami hidup dengan bijak.

I’m So Thanksful Rabb… !!!




*Huooo… buku yang kami cari pun tak ditemukan di Gramedia, harap yang mendapatkan buku ini >> Gun, Germs, and Steel bisa dengan suka hati meminjamkan kepada kami yang tengah penasaran dengan jawaban penelitian dari buku itu >_<, OOT*

Selasa, 06 Mei 2014

Rutinitas dan Kebiasaan

Rutinitas, semoga tak hanya menjadi rutinitas. Rutinitas, semoga kemudian menjadi kebiasaan. Kebiasaan yang bisa di-istiqomahkan.

Membiasakan diri dalam melakukan hal-hal kebaikan. Membiasakan diri dalam melakukan hal pekerjaan rumah. Membiasakan diri untuk menuntut ilmu. Membiasakan diri untuk berbagi dengan sesama. Membiasakan diri untuk berbakti pada orangtua.

Buah dari kebiasaan salah satunya adalah adab ke-istiqomahan. Bahkan istiqomah itu ada adabnya yaitu membiasakan diri. Bukan karena terpaksa, tapi terkadang memang harus dipaksakan. Kalo sudah begitu pada akhirnya diri sendiri pula yang menikmati hasilnya. Siapa yang tidak mau ? Menikmati hasil jerih payah sendiri ?

Pun semoga kebiasaan itu tak hanya menjadi kebiasaan semata. Tetapi memiliki sisi maknawi nya bagi pengembangan diri dan perbaikan hati. Begitu setiap hari.




*Mencoba mempertahankan diri untuk terbiasa bangun jam 3 pagi, sholat malam, tilawah, sholat shubuh, cuci-cuci piring, beres-beres rumah, masak sarapan pagi, baru melakukan aktivitas mencari maisyah >_< *

Minggu, 04 Mei 2014

Outbond Paling "Berkesan" :D

Selamat pagiiiiiiiiii!! :D Burung-burung sudah mulai nyanyi-nyanyi, kelaparan mungkin mereka ya hahaha. Tapi, heeeiii ini anak-anak manaaaa? Kenapa pada belom nyampe -____-“ . Ini saya nangkring sendirian ini di mari, mana lupa lagi pendopo KP4 UGM itu dimandose sih L . Sudah hampir 2 tahun nggak kemari. Katanya kiwi jam 7 pagi tapi jam segini pada belom nongol, hmmm. Eh emang sekarang jam berapa ? 6.36 a.m. Woooww Kereen !! Ternyata aku yang kepagian datang -_________-“ . Baiklah, aku harus menghubungi satu orang untuk menanyakan dimana itu pendoponya. “Pendoponya itu yang di dalam area outbond itu lhoo, masuk ke dalam.” SMS Si Kapten. *Tepokjidat* Astaghfirullah… iya!

            *Cling!! Tetiba sudah duduk nangkring di pendopo* Hmm… ni anak-anak masih lama datang pasti, njuk aku kudu ngopo? Aha! Aku masih punya tugas baca sesuatu. Ku keluarkan buku tebal warna merah merona bertuliskan tinta warna emas dengan judul “Barakallahu Laka, Bahagianya Merayakan Cinta” ihhiiiikk!! (Cuma bacaaaa, nambah ilmu ajaa). Ku buka halaman chapter yang sudah kutandai semalam dan mulai asik menikmati setiap barisan tulisan ditemani kicauan burung, jangkrik yang mengerik, dedauanan yang tersapu angin, asri sekali. Berharap aktivitas hari ini menyenangkan dan berkesan.

            Beberapa menit kemudian, satu per satu tim mulai berdatangan. Ah, ternyata sudah ada yang datang lebih dulu daripada aku dan ngumpet di gudang, Mas Didit dan Kang Jalal. Well, tim sudah lengkap kita koordinasi dulu sebelum memulai outbond untuk SD Muhammadiyah Purbayan. Kemungkinan peserta akan sampai lokasi jam 8.00, masih ada waktu setengah jam untuk persiapan segala halnya. Seperti biasa, sebelum bubaran koordinasi agar lebih semangat kami teriakkan yel dengan menumpuk tangan kanan dan lempar ke atas teriakkan “JAN… NAH!!!” (akhwat dan ikhwan dipisah, membuat lingkaran masing-masing tetapi tetap satu komando)  Ya, semoga aktivitas kami hari ini berbuah syurga, Jannah J.

            Sekitar pukul 8.00 peserta sudah datang, beberapa instruktur sudah memposisikan diri dan mempersiapkan alat. Aku pun mengambil alih sejenak untuk mengkondisikan peserta yang baru saja datang. Mereka langsung di kumpulkan di pendopo, perkenalan, penjelasan aktivitas, dan pengkondisian peserta. 

            Setelah dikondisikan forum aku serahkan kepada Mas Andhi untuk selanjutnya dibagi bersama-sama melakukan stretching dan pembagian kelompok. Pembagian kelompok kali ini dengan membisikan nama-nama hewan ke setiap peserta dan mereka harus berkumpul membentuk kelompok sesuai dengan suara hewan yang sama mereka dan teman-temannya teriakkan.


            Diawal aktivitas ini, ternyata sudah mulai bermunculan peserta-peserta yang “spesial”, sibuk sendiri, ngobrol sendiri, sibuk ganggu kawannya, saling lempar komentar dengan bahasa yang tidak baik, dsb. Ada satu peserta putra yang berkeliaran kesana kemari untuk mengganggu kawannya yang tengah memperhatikan instruktur. Aku langsung menghampiri dan menyergap dia dengan mengajaknya baris yang baik dan memperhatikan sambil terus kupegangi dua pundaknya. Muehehehe, aku juga bisa galak lho. Selesai forum bersama Mas Andhi dan Pak Deniz peserta dibagi ke pos-pos sesuai kelompok masing-masing. Pos “Sungai Buaya”, pos “Oper Air”, pos “Tongkat Ajaib” dan pos “High Risk”. Di sesi aktivitas pertama yang aku lakukan adalah menghandle peserta putra yang bersiap melakukan aktivitas High Risk. Karena aktivitas High Risk adalah Sliding Rope/Flying Fox maka mereka harus bergantian. Dan mereka yang mengantri adalah menjadi tugas saya untuk memegang mereka agar tidak menganggur. >_< Anak-anaknya susah diatuuurr T_T. (sebenernya mereka anak baik kok, cuman memang aktivitas di outdoor itu seolah memberi peluang besar mereka untuk lebih berekspresi J)

            Ekstra sabar menghadapi mereka, ketika memberi instruksi, yang satu ada yang cuek bebek, yang satu suka banget komen yang nggak penting, yang satu ada yang bandel, tapi Alhamdulillah ada juga yang dengerin dengan seksama. *aaahhh terharuuuu…* Sembari menunggu kawannya yang tengah bersiap meluncur di Flying Fox, aku mengajak mereka untuk menulis dan menggambarkan impian mereka. Dan taraaaaaaaaaaaa! Kebanyakan mereka pengin jadi pemain sepak bola. Oke, rapopo, ben sehat yo naanggg. Wait.. wait… ada yang menggambar orang dengan kepala botak. Ketika aku tanya, ini gambar apa? Impianmu apa? Dia menjawab, “Aku ingin jadi Profesor!” Ahahahaha… lucu banget anak ini. Yuk, mari kita doakan bersama semoga mimpi kalian semua tercapai, Aamiin Ya Robbal ‘Alamiin.

            Nah, karena setiap kelompok itu jumlahnya banyak, ada yang sudah selesai meluncur ada yang sudah selesai menulis impian tapi belum mendapat giliran meluncur, itulah tugas saya >_< . Satu per satu mulai sulit dikondisikan. Ada yang bermain ke pos sebelah, ada yang asik mainan ayunan, ada yang ribet nggak sabaran mau pakai alat-alat meluncur. Aaaaaaaaaaakkkkk… koe kudu semangat, Sa! >_< . Oke, Aku Raisopopo, Aku Bisa! Kudekati mereka-mereka, dengan kalemnya dan lemah lembutnya mungkin mendekati anggun *hueeekk hahaha* aku merayu mereka untuk kembali ke pos High Risk. Yes! dua anak berhasil kurayu *duh, tukang merayu #eh*. Dua anak lagi juga mau kugombalin :p. Nah, tinggal yang mainan ayunan nih, “Siapa yang belum main Flying Fox dik?” | “Udah semua, Mbak!” | “Ohh… sudah semua ya. Oke, kalo gitu sekarang kita kumpul jadi satu dulu yaa, tuh temennya udah pada nungguin, yuk!” |”Nggak mau, Mbak”, “Bentar Mbak”, Di sini aja, Mbak. Lebih enak.” Bla bla bla blaa. | Aku : “~!@@#$%@$%^&*(^##!#~@#@$#%&@!##!$^&~!@##~!~@$%^%^$!” *Mulai ngegombal* Tapi nggak mempaaaaannnnn T_T . Hampir 5 menit habis aku merayu-rayu, tapi tak memberikan hasil *nangis glengsotan di tanah*.

            Entahlah, yang salah karena aku nya yang belum lihai atau memang karakter anaknya yang memang “Spesial”. Pekan lalu waktu mengisi di Pantai Baru bersama murid SD Girisekar yang hampir setipe karakaternya, tapi masih bisa aku handle. What’s wrong? Oke, koe tep kudu semangat, Sa! Dan sepertinya Pak Deniz melihat kwalahanku mengkondisikan peserta yang mainan ayunan ini. Njuk, aku hanya bisa mringas-mringis sambil garuk-garuk kepala ketika disemangatin beliau. Huh! Hah! Sabar, Sa, Kamu Pasti Bisa! 5 menit terlewati, sepertinya aku hampir menyerah. Eng ing eeeenngg… aku melihat sepertinya ada peluang untuk kabur sebentar. Wahahahha! Tengok pos nya Mbak Anjar dulu aahh sambil poto-poto (ane triple peran cuy! Fotografer, Harnes plus Pengkondisian peserta putra) ... eh ternyata beliau sedang kesulitan. Plastik untuk gamesnya kurang, ahay! Oke, aku belikan dulu ya, Mbak. *Alesan kabur* #duhdik. (Alhasil pas evaluasi di ceng-ceng in anak-anak tim, “mesti alesan kabur kuii wis ra tahan hahaha” | Aku : hahaha… (nceeennn Mas, *ngomong dalam hati) ).

            Ini kalo ada ustadz Fatan, aku mesti langsung ditegur kalo ninggalin peserta. Karena dalam aktivitas seperti ini, nggak hanya di indoor tapi juga outdoor harus selalu Keep in Touch dengan peserta. Jangan sampai kita terlewat memperhatikan dan berinteraksi dengan mereka, karena untuk membangun interaksi dengan mereka agar “in” lagi itu yang sulit. I’m Back! Aku kembali dengan membawa strategi agar mereka terkondisikan lagi. Ya, aku kabur sebentar sambil berpikir cara apa yang bisa bikin mereka manut sama aku. Hohoho, meski alesannya beli plastik -_- . Akhirnya aku mengambil kresek yang berisi snack dan memanggil mereka untuk menghampiriku sembari berkata “Diiik ayoo ke siniii…. Kita istirahat disini sambil makan snack. Ayo… ayo kumpul ke sini!”. Gruduukk…. Gruduuukkk.. yang tadi berkeliaran langsung berlari menghampiri. Kubagikan satu-satu snacknya dan kuminta mereka duduk berkumpul didepanku. Sambil mereka menikmati snack, aku memberikan debrief dan penekanan adab kepada mereka. Karena dengan mengajak games mereka nggak berhasil tadi, jadi strateginya adalah ngajak mereka coffe break dulu, halahhh hahaha.

            Dan ternyata mereka mau mendengarkan bahkan memberikan respon ketika aku tanya ini dan itu. Ahhh… akhirnyaaa! Selesai itu mereka kembali dipegang oleh Pak Deniz, dan giliran peserta putri yang berada di aktivitas High Risk. Aku langsung bersiap di pos untuk memakaikan perlengkapan Flying Fox. Harnes, Carabiner, Topi pengaman, Sarung Tangan semua lengkap sudah. Memegang peserta putri itu lebih bisa dikendalikan dibanding peserta putra, selalu begitu. Entah, apa yang membuat mereka beda ya? Haha. Meskipun begitu, bukan berarti memegang peserta putri itu juga mudah karena mengkondisikan mereka pun harus memiliki kesabaran tinggi, apalagi ketika mereka mulai bermanja-manja dengan Mbak Instrukturnya. Tanggapi saja tapi tetap sesuai porsinya, memanjakan mereka boleh tapi jika kemudian mereka justru mulai mengarah “berani membantah” karena merasa sudah dimanja, maka segera bertindak tegas.

            Well, peserta mulai aku bagi untuk siapa yang terlebih dahulu bermain. Lalu sigap aku mengambil peralatan dan mulai mengenakannya ke tubuh mereka. Wait wait wait!! Astaghfirullah… Mas Didiiiiitt… >_< iki piye sing nganggo harness nyaaaaa?? Ya Nabii… aku lupa cara pakainya gimana! Ahahahahah… udah hampir 2 tahun nggak pegang beginian. Akhirnya pun dibantu instruktur yang lain untuk memberi contoh pemakaiannya. Setelah itu lihai lagi aku mengenakan harness dan carabiner nya. Hohohoho.


            Satu per satu peserta putri pun bergantian meluncur, meski sempat ribut karena berebut giliran tapi aku kendalikan mereka untuk Hompimpah agar berurutan mendapat giliran. Ffiiuuuhh… meski mulai lelah tapi rasanya tetap saja bahagia. Bahagianya adalah ketika rempong kesana kemari, rempong berpikir ini harus gimana harus seperti apa, dan yang pasti ketika berinteraksi dengan mereka yang masih anak-anak. Karena pada kenyataannya, mereka juga menjadi tempat aku belajar. Belajar memahami, belajar lebih sabar, belajar “ngemong”, belajar perhatian, belajar lebih sayang, belajar berbagi, belajar berperan, belajar mengamati karakter dan perilaku mereka, itu asik sekali! 2 Pekan yang mengesankan memang berurutan membersamai anak-anak. Hehehe.



            Alhamdulillah… sampai juga di sesi terakhir, eh ups! Maaf kalo aku nggak menceritakan aktivitas di pos lain, karena nggak tau pos mereka gimana, hehehe. Untuk melegakan segala tekanan yang menghimpit hari ini karena berjuang keras mengendalikan peserta akhirnya, “Mas Mbak Instruktur… Aku mau ikutan meluncuuur! Tolong siap-siap jadi belayer, receiver dan stopper kuuu!” Sebentar di bully mereka rapopooo, yang penting mereka mau mengendalikan beban sebesar ini *nunjuk diri sendiri* hahahhah! Aku bersiap mengambil webbing dan carabiner. Aku pakai di base camp, karena nggak mungkin aku pakai di lapangan. Melilit tali webbing di badan buat akhwat itu spesial, harus di dalam rok jangan di luar rok, bahaya! Ehehehe. Selesai pakai perlengkapan lengkap, aku naik tangga menuju rumah pohon untuk meluncur. Huaaaahhh… duwur bingiiittss Ya Allah. Sempat grogi dan gemetaran ketika sampai di tengah tangga, mana tangganya goyang-goyang pula, medeni! Well, akhirnya sampai juga di rumah pohon dan bersiap dengan peralatan yang lain untuk meluncur. “Lapor, Nisa siap meluncur!” | “Laporan nggak diterima! *saut Mas Andhi dan Mega* Harnesnya mana woi ??” | “Weh?? Astaghfirullah… laliiii durung nganggooo, hahaha." Gek Mbak Pity selaku penanggung jawab alat-alat yang kupakai cuman cengangas cengingis, “Ohiyaa… lupaaa. Maap Nis.” Errrr….

            Beberapa menit kemudian, semua sudah siap. Lapor lagi daaaann… kok nggak meluncur-meluncur, Sa? Aku wediiiii >_< huhuhuhuaaaa.. tinggi banget >_< ! *Padahal tinggi cuma 60 meter panjang 100 meter -_____-“ *. “Wooiii Nisaaa buruaaaaannn.. iki wis dho ngantuk ki lhoo.. kita tinggal lhoo!” Goda temen-temen yang jadi receiver dan stoper. “Bentar bentaaaarrr…. Aku ngumpulke nyowo sek Meeegg, Mas Andhiiii jangan pergiiii, jangan celakakan akuu!” Setelah menenangkan diri sejenak, sepertinya Mas Didit yang menemani aku di rumah pohon juga mulai geregetan, tapi gayanya kan nggak bisa galak gitu, Mas Didit kan kalem ngunuu… ngomong aja volumenya musti di-full-in, udah full aja kadang masih nggak kedengeran :D :D :D. 


Akhirnya aku dituntun untuk meluruskan kaki satu per satu dan…. 


Yeeeeaaayyyyyyyy meluncuuuuuuuuuuuurrrrrrrrr !!! :D Terjun bebaaaaaaaaaasssss…. Plooooooooooonnngg! Terima kasih Mega dan Mas Andhi sudah mengendalikan hantaman luncuran badankuuuu ahahahhaha!


            Berkesan sekali hari ini, setelah penat menumpuk berhari-hari karena kerjaan dan lain gumpalan rasa gelisah akhir-akhir ini, plooonnggg, rasanya lepas begitu saja. Weekend yang menyenangkan bukan? Kerja sambil refreshing tuh ya begini J . Kerja sambil berbagi tuh ya begini J. Kerja sambil menabung buat akhirat nanti, mungkin juga begini salah satunya J . Tetep Lillah Fillah Billah! Alhamdulillah…. :D

Kamis, 01 Mei 2014

Cantik Itu Apa ?

Cantik…

Menurut kalian definisi cantik itu apa ?
Kulit putih ? Tinggi semampai ? Hidung mancung ? Mata hitam kelam ? Langsing ? Paras menarik ? atau ?
Memiliki otak yang cerdas ? nilai tiap semester cumlaude ? Hati yang baik ? Tindak tanduk yang santun ? atau apa ?

Aku, aku memang tidak cantik. Tak juga tinggi semampai. Apalagi langsing dengan paras menarik.
Aku juga belum secerdas dian sastro apalagi istri Rasulullah, Bunda Aisyah. Tak setiap semester nilaiku cumlaude. Hati juga masih amburadul. Tindak tanduk juga masih ditata sana sini.

Cantik ?
Tidak. Tidak sama sekali. Jika dilihat secara fisik, mungkin aku tidak menarik.
Tidak sama sekali. Jika dilihat secara kepahaman ilmu duniawi dan agama, dibanding yang lain, aku juga belum ada apa-apanya.

Cantik ?
Tidak. Tidak sama sekali. Tapi aku bersyukur dengan apa adanya aku. Apa adanya Tuhan memberikannya padaku.

Cantik ?
Tidak. Tidak sama sekali. Tapi sebagai perempuan, perawatan memang penting diperhatikan, tak kan aku lalaikan. Tapi tampil apa adanya, itu diutamakan. Tak perlu berlebihan.

Paras bukan modal utama untukku menggaet dunia. Itu hanya bungkus. Kulit putih, badan tinggi semampai, hidung mancung, mata hitam kelam, bahkan langsing, bukan lah utama untuk menggapai cinta yang lebih hakiki, Cinta-Nya.

Cantik ?
Tidak. Tidak sama sekali. Tapi aku selalu punya niat dan ikhtiar untuk selalu menjadi diri yang lebih baik dari hari ke hari. Bukan bungkus, tapi isi.
In shaa Allah.


Rabu, 30 April 2014

BUNGKUS dan ISI


Hidup akan sangat melelahkan, sia-sia & menjemukan bila pikiran hanya digunakan untuk mencari & mengurus BUNGKUS-nya saja serta
mengabaikan & mengacuhkan ISI-nya.

Apa itu "BUNGKUS"-nya dan apa itu "ISI"-nya?.
"Rumah yang indah" hanya bungkusnya..
"Keluarga bahagia" itu isinya...

"Pesta pernikahan" hanya bungkusnya..
"Sakinah, mawadah, warahmah" itu isinya...

"Ranjang mewah" hanya bungkusnya..
"Tidur nyenyak" itu isinya...

"Kekayaan" itu hanya bungkusnya..
"Hati yang bahagia" itu isinya...

"Makan enak" hanya bungkusnya..
"Gizi, energi, dan sehat" itu isinya...

"Kecantikan dan Ketampanan" hanya bungkusnya..
"Kepribadian dan hati" itu isinya...

"Bicara" itu hanya bungkusnya..
"Amal nyata" itu isinya...

"Buku" hanya bungkusnya..
"Pengetahuan" itu isinya...

"Jabatan" hanya bungkusnya..
"Pengabdian dan pelayanan" itu isinya..

"Kharisma" hanya bungkusnya..
"Ahlaqul karimah" itu isinya...

"Hidup di dunia" itu bungkusnya..
"Hidup sesudah mati" itu isinya...

Utamakanlah ISI-nya..
Namun rawatlah BUNGKUS-nya...

Jangan memandang rendah & hina setiap BUNGKUS yang kita terima, karena berkah tak selalu datang dari BUNGKUS kain sutera melainkan juga datang dari BUNGKUS koran bekas..

Janganlah setengah mati mengejar apa yang tak bisa kita bawa mati..
[Ust. DR. Amir Faishol Fath, MA.]

SELAMAT MEMASUKI TGL 01 RAJAB
اللهم بارك لنا في رجب وشعبان وبلغنا رمضان. ... آمين
Ya Allah berkahilah kami di bulan rajab dan sya'ban serta sampaikanlah kami kpd bulan ramadhan

I Do ...


Alhamdulillah Wa Syukrulillah … Rabb, selanjutnya adalah bagaimana hamba dan Engkau bekerja sama untuk menjaga tempat bersemayamnya iman ini. Rabb, selanjutnya adalah bagaimana hamba dan Engkau bekerja sama untuk menata niat hamba semata karena-Mu. Rabb, selanjutnya adalah bagaimana hamba dan Engkau bekerja sama untuk meng-ikhlaskan seluruh proses ini hingga ke ujung.

Rabb… mengapa Engkau dan aku harus bekerja sama ? Karena segala halnya ada pada-Mu, ada pada kehendak-Mu. Dan aku hanya berharap kehendak-Mu selaras dengan kehendak hambamu ini, karena kehendak hamba ini pastinya bersumber pula dari kehendak-Mu (keyakinan).

Rabb… bantu aku menjaganya hingga waktu itu benar-benar tiba. Benar-benar tiba jika memang itu kehendak-Mu. Sesungguhnya memang hati bukan milik manusia. Ia berada di antara jemari-jemari-Mu Yang Maha Memiliki Rasa Sayang. Ia dibolak-balikkan sekehendak-Mu. Maka, bantu aku menjaganya.

Rabb… hamba hanya berupaya melangkah maju bersama keyakinan hamba pada takdir-Mu. Hamba hanya berupaya menapaki setiap tapak kehidupan yang Engkau rangkai sedemikian rupa untuk hamba. Hamba hanya berupaya menjemput apa-apa yang telah Engkau gariskan pada hamba senantiasa dalam keadaan ikhlas Lillahi Ta’ala. Rabb… aku mencintai-Mu. Setiap proses yang Engkau tujukan padaku, pun pada akhirnya membuat rasaku semakin tertuju pada-Mu. Dan semoga seorang yang nantinya menemani sisa-sisa hidupku juga memiliki perasaan yang sama kepada-Mu. Rabb… semoga aku mencintai orang yang karenanya aku mencintai-Mu. Rabb… semoga orang yang mencintaiku adalah orang yang karenanya mencintai-Mu.

Rabb… jaga, jaga hatiku. Jika itu pun kehendak-Mu, maka permudahlah…
Rabb… jaga, jaga hatiku. Jika itu pun bukan kehendak-Mu, maka kuserahkan semuanya pada-Mu.




-1 Rajab 1435 H-