Minggu, 20 April 2014

Nasehat Sayyidina Ali bin Abi Thalib

Sayyidina Ali bin Abi Thalib pernah bernasehat pada kita,

"Cinta tak pernah meminta untuk menanti. Ia mengambil kesempatan atau mempersilahkan. Ia adalah Keberanian atau Pengorbanan."

Dan kebanyakan mereka (wanita) adalah golongan yang kedua. Selalu menjadi golongan yang kedua, mempersilahkan setiap yang datang dan mengorbankan tunas-tunas sebelumnya dengan keikhlasan.

Mulia lah wanita yang mampu seperti itu. Semata hanya mengharap ridha Rabb Yang Maha Memiliki Cinta. Sementara nafsu mampu ia kalahkan dengan keikhlasan yang teramat.
Karena sesungguhnya hidup adalah memilih. Memilih tidaklah menafikan bahwa pada yang lain ada kebaikan. Ia suara hati, memohon petunjuk Allah, tanya ahli dan pertimbangkan seksama. (Salim A. Fillah)

Dan berbahagialah orang-orang yang seluruh waktunya dipenuhi kemampuan untuk jujur pada nurani dan tulus mendengarkan suara hati.

mungkin begitu. :)


Sabtu, 19 April 2014

Syukur, Lapangnyaaaaa ^_^v

ilustrasi : nabilahamierah.blogspot.com

Alhamdulillah… Alhamdulillah ‘ala kulli hal..

            Orang yang bersyukur, ketika bangun tidur yang ia rasakan pertama kali adalah karunia dan kenikmatan yang luar biasa dari Allah Yang Maha Pengasih.  Maka tak salah jika kenyataannya doa bangun tidur kata yang terucap pertama kali adalah “Alhamdulillah, (Segala Puji Bagi Allah).” Itulah ungkapan kenikmatan yang bisa kita rasakan setiap pagi, setiap hari, karena kita masih dihidupkan kembali setelah mati menyelami alam tidur. Meski ketika bangun pagi kita harus segera bersiap melakoni segala aktivitas padat seharian, tetapi jika syukur ini benar-benar kita nikmati maka segala yang terlihat padat pun akan terasa lapaaaanngg untuk dijalani. Bukan begitu? Lets try deh.

            Begitu pula yang aku rasakan seminggu terakhir ini. Syukur kali ini terasa berbeda, ada suasana lapang yang begitu merangkul setiap kali mata terbuka dan fikiran menguntai ke jadwal harian yang musti dilakoni. Ya, pada akhirnya kondisi kembali normal. Setelah hampir 4 bulan luntang-luntung tak jelas, hidup seperti kehilangan orientasi, segala bentuk keinginan kesana kemari, dan Allah mulai bukakan pintu untuk kembali mengasah diri dan potensi lewat berbagai aktivitas. Bukan, bukan berarti hampir 4 bulan itu tak ada aktivitas sedikitpun, hanya saja selama itu ke-selo-an lebih sering terjadi dibanding masa sebelumnya. Kondisi seperti itu memang wajar di alami mahasiswa-mahasiswa masa transisi setelah resmi menyandang status sarjana. Beruntungnya ke-selo-an itu tak terbuang sia-sia, banyak forum diskusi dan ajang silaturahim kesana kemari hanya sekedar untuk me-recharge diri. Alhamdulillah. Semoga mahasiswa masa transisi yang lain pun demikian.

            Mungkin, kondisi transisi ini banyak yang menjalaninya dengan perasaan tidak nyaman, tidak biasa, “njegleg”, bahkan parahnya galau berujung depresi karena banyak tekanan di sana sini. Dulu di kampus mungkin memang seringnya jadi “Kura-Kura” kuliah-rapat-kuliah-rapat, atau jadi “Mansyur”, Manusia Syuro, kemana-mana yang dibawa buku agenda isinya catatan semua jadwal rapat difakultas A, fakultas B, taman A, taman B, masjid A, masjid B dan sekawan-kawannya. Atau biasanya jadi EO (event organizer), ngurus acara A, B, C, D dan seterusnya, dan yang dilakoni tiap hari mondar-mandir dari satu kampus ke kampus yang lain dengan mobilitas yang sangat tinggi. Atau jadi inisiator dari gerakan perubahan (#ups nggak maksud kampanye!), kerjanya jalin relasi ke alumni A, B, C, begadang rancang konsep dan menjadi aktor utama untuk mengeksekusi rencana gerakan. Yaa… pada akhirnya aku akui bahwa berbagai hal itu memang sungguh-sungguh terjadi. (dan aku salah satu diantaranya #ppffttt). Well, semua patut disyukuri, karena hasilnya pun akan kita nikmati. Mungkin sekarang, ketika kita terjun di dunia kerja semua hal di atas benar-benar memiliki andil besar dalam proses kita mencoba untuk mengepakkan sayap kita sendiri. Alhamdulillah.

            Masa transisi pun datang ketika toga sudah bertandang di kepala. Dan akhirnya pun kita menyadari bahwa masa transisi ini adalah proses kita untuk lebih adaptif dan optimis di dunia yang jauh lebih berbeda dari masa sebelumnya. Dan kesertaan rasa syukur dalam setiap proses dari setiap masa nya adalah hal yang patut untuk benar-benar dimaknai. Syukur akan menjadikan diri kita lebih lapang untuk menerima segala perbedaan kondisi dua masa yang kita jalani dan rutinitas yang menghampiri. “Syukur”, agar kita mampu menyelami dan memaknai perasaan-perasaan syukur yang diakibatkan dari kondisi lingkungan serta aktivitas keseharian kita, maka ini lah bahasan syukur dari sisi bahasa dan istilah.

            Saya mendapat bahasan syukur dari kawan saya yang memang cukup memiliki pemahaman bahasa arab yang baik. Katanya, dari ilmu yang ia dapat, Syukur adalah mashdar dari kata kerja “syakara-yasykuru-syukran-wa syukuran-wa syukranan.” Dalam Al Qur’an kata syukur dengan berbagai bentuknya ditemukan sebanyak 64 kali, selain kata syukur ditemukan juga kata syakur. Al Ghazali mengartikan syakur sebagai sifat Allah, bahwa Dia yang memberi balasan banyak terhadap pelaku kebaikan atau ketaatan yang sedikit; Dia menganugerahkan kenikmatan yang tidak terbatas waktunya untuk amalan-amalan yang terhitung dengan hari-hari tertentu yang terbatas. Al Qur’an juga secara tegas menyatakan bahwa manfaat syukur itu kembali pada orang yang bersyukur, sedang Allah sama sekali tidak memperoleh bahkan tidak membutuhkan sedikit pun syukur makhluk-Nya. (QS. An Naml:40)

            Allah menyatakan diri-Nya sebagai Syakirun ‘Alim (QS Al Baqarah:158) dan Syakiran ‘Alima (QS. An Nisa’:147), keduanya berarti “Maha Bersyukur lagi Maha Mengetahui”. Kapasitas makna syakur seorang manusia berbeda dengan sifat yang disandang Allah tersebut. Manusia yang bersyukur kepada manusia/makhluk lain adalah dia yang memuji kebaikan serta membalasnya dengan sesuatu yang lebih baik dari apa yang disyukurinya itu. (Saba:13, Quraish Shihab). Maka, syukur dan kata-kata yang seakar dengannya di dalam Al Qur’an meliputi makna “pujian atas kebaikan”, “ucapan terimakasih” atau “menampakkan nikmat Allah ke permukaan.” Syukur itu sendiri mencakup syukur dengan hati, syukur dengan lidah, dan syukur dengan perbuatan.

            Syukur dengan hati, syukur dengan lidah dan syukur dengan perbuatan adalah cara bagaimana kita menampakkan bahwa kita telah merasakan kenikmatan dari Allah SWT. Akibat dari rasa syukur pun ikut menyertai kita ketika hati pun menyakini, lidah menyampaikan, dan perbuatan membuktikan. Jika kita berada pada masa transisi mahasiswa maka akibat nya adalah hati menjadi kian optimis, fikiran menjadi semakin positif, semakin mudah untuk menerima dan semakin ringan untuk memberi. Begitu pula dengan lidah, tak lagi kelu dan ragu menyampaikan segala hikmah dalam setiap kondisi yang dialami karena rasa syukur telah teryakini oleh hati. Laku dan tindakan pun menjadikan diri tak mudah serakah dan senantiasa peka terhadap kondisi lingkungan sekitar yang akhirnya menjadikan kita memiliki empati. Simpul dari keseluruhan tersebut pada akhirnya berujung pada sikap TOTALITAS. Di mana pun kita beraktivitas, apapun aktivitas kita, seperti apa kondisi lingkungan aktivitas kita yang berbeda kondisinya dengan masa sebelumnya dan sikap kita menanggapi semua hal itu, rasa syukur akan membuat kita menjadi nyaman (karena hati lapang) dan totalitas (karena paham syukur adalah perbuatan).

            Dan pada kenyataanya syukur itu nikmat sekali ketika kita mampu merasakannya, meski kita menghadapi segala kondisi yang jauh berbeda. Syukur, pada akhirnya mengantarkan kita pada keyakinan bahwa “Life will never be the same, a different life than the one we’ve had” (cuplikan lirik Nadiya Fatira-New World), tapi kita dengan lapangnya menerima bahkan menjalaninya penuh totalitas, meski padat, “ajeg”, dan hectic sekalipun.

            Alhamdulillah. Pada akhirnya selesai juga tulisan syukur yang berawal dari gejolak perasaan seminggu terakhir ini. Mungkin ini lah refleksi dari rutinitas yang tengah dijalani saat ini. Semoga yang sedikit dan sederhana ini mampu mengajak yang lain untuk senantiasa bersyukur dan menyelami rasa syukur itu dengan sebaik-baik pemahaman dan sikap.  Karena rasa syukur lah yang menjaga kita untuk tetap melakukan amalan-amalan baik dalam setiap kondisi apapun. Wa’allahu ‘a’lam bishowab.

Syukur adalah sikap menjaga diri untuk tetap dalam kebaikan dan menjauh dari kemaksiatan. Syukur menjadikan apapun sebagai kesempatan untuk melakukan amal yang lebih baik.~

Ustadz Syatori Abdurro’uf.



Referensi :
Majalah "Tarbawi edisi Januari 2013", halamannya lupa nggak di catet -_-" 
Kajian Jelajah Hati, Ustadz Syatori Abdurro'uf
Share ilmu dari sahabat (JZ) tentang "Makna Syukur dalam Bahasa Arab".

Selasa, 15 April 2014

Buku-Buku-Buku-Buku

Alhamdulillah.... 2 bulan ini berturut-turut buku-buku baru berdatangan :D dan yeeeaaaayyyy waiting list semakin bertambaaaaahhhh *gulingguling* >_<


Buku hadiah wisuda dari temen satu organisasi (mantan Ketua JS UGM 33H), yang kiri oke, tapi yg kanan bukan genre ane bingit inih >_< #Alhamdulillah


Kalo yang ini beli sendiri, nitip ke Ustadz Fauzil Adhim, lumayan dapet diskon 40% wkwkwkkw ! Ini karena kebutuhan, karena adab itu hal yang penting untuk mencetak pribadi muslim yang teladan #tsaaahh


Ini buku kebanyakan hasil di kasih, kecuali yang tebel-tebel >_< :D

Yang ini hadiah milad dari sodari-sodari cantik Jems, Ayu, Novi, dan Dini :) Semoga ilmu dari buku itu bisa diamalkan dengan baik. aamiin!



140414

140414, tanggal yang cantik bukan ? J Biasanya tanggal-tanggal cantik selalu dipakai orang-orang untuk mengadakan momen-momen penting. Seperti artis-artis yang suka bermunculan di tipi, mereka selalu menjadikan tanggal cantik sebagai perayaan penting dalam hidupnya, hehehe. Yaa… sebenarnya tahun lalu aku pun sama dengan mereka (cuman yang beda sayangnya aku bukan artis #ppfftt). Tanggal cantik ini --> 140414 aku rancang dan targetkan untuk suatu hal besar dalam hidupku. Tapi memang, nggak semua yang kita inginkan dan ikhtiarkan sesuai tepat dengan hasil dan ketentuan Sang Maha Mengatur Takdir. Mungkin Dia belum mengizinkan atau memang belum jatuh tempo. Tapi nggak apa-apa J masih ada waktu untuk terus berikhtiar dan nggak lelah untuk terus berbenah. Semoga target dan harapan itu hadir di waktu yang paling tepat dan terbaik sesuai kehendak-Nya.


Oke, bye 140414 J ~~

Senin, 24 Maret 2014

Marah

Hmmm… udah berapa lama nih blog nggak diurus *tiup-tiup debu*

Marah.

Pasti semua orang pernah merasakan marah. Dengan berbagai alasan, berbagai sebab, dan berbagai kondisi, marah itu selalu ada dan selalu muncul. Marah selalu menjadi akibat dari apa yang membuat hati kita tidak nyaman, tidak senang, dan yang pasti tidak sabar. Iya atau iya ?? Lalu, apa yang biasa kamu lakukan setiap kali marah itu datang ? Banting hape ? *duh eman* Banting gelas piring sendok alat-alat dapur ? *besok makan pake apa cing??* Atau buang semua alat make up yang tertata di meja seperti di sinetron-sinetron itu ? *korban sinetron #sigh*

Banyak ekspresi yang bisa diungkapkan ketika si marah ini tiba-tiba mengumpat dalam dada. Tapi aku, setiap kali marah itu datang, cenderung ambil gembok dan kunci mulut rapat-rapat, hahaha alay! Aku selalu memilih untuk diam dengan muka lipat lima atau enam *sempet ngitung ?? :-O * Muka nggak ngenakin sih emang kalau dilihat, tapi itu cara satu-satunya daripada aku mendzolimi banyak pihak dan menyakiti hati banyak orang. Dan seringnya, ketika ada orang yang mempertanyakan atau rawan membuat marah makin menjadi-jadi, selalu aku sampaikan, “Maap cuy, mood gue lagi anjlok, lagi pengin diem, mohon pengertian ya, daripada entar lo sakit hati.” Mereka pun mengerti dan memahami. Biarlah marah ini kunikmati sendiri... syalalala~

Katanya sih, kalau marah itu dipendam sendiri tanpa diluapkan akan berdampak pada kesehatan jantung. Hmmmm… entahlah, masa bodoh dengan opini itu. Tapi aku punya cara sendiri untuk mengatasi rasa marah itu. Diam buatku lebih baik, lakukan praktek pernafasan dengan baik (ambil nafas dalam-dalam, hembuskan perlahan) karena justru aktivitas ini secara klinis teruji memberikan rasa rileks, lalu istighfar sebanyak mungkin. Yaaa…. Walaupun setelah melakukan kiat-kiat tersebut muka masih kelipat-lipat seperti cucian kering yang habis disetrika dan mulut masih tergembok rapat, tapi setidaknya lebih menguntungkan diri karena nggak memakan banyak korban. Korban sakit hati. *ngelap ingus*

Setidaknya (lagi), itu adalah salah satu cara untuk belajar sabar, karena sabar itu nggak ada batasnya kan ?? Marah… marah… kadang kamu itu emang merepotkan banyak orang, hhhh…
Tapi karena kamu juga tingkat akhlak manusia itu diujikan biar bisa naik tingkat. Karena kamu juga, orang belajar menjadi bijak dan lemah lembut.

Well, buat kalian yang mungkin sempet baca tulisan abal-abal ini, silahkan cari cara sendiri untuk mengatasi rasa marah tanpa menyakiti banyak pihak di sekitar kalian. Yang paling penting sih sebenernya dengan banyak-banyak istighfar, karena kita serasa diingatkan kalau kita luapkan marah itu dengan semena-mena, maka justru kita yang punya dosa atau ikutan dosa. Oke, selamat menikmati rasa marahmu dengan bijak. J

*maap cuy, mood gue lagi anjlok, jadi gue nulis ginian, daripada ntar lo sakit hati, gue diem dulu deh ya*
Astaghfirullahal’adziim…


Senin, 03 Maret 2014

Catatan Lalalala : Training dan Manusia :)))

Alhamdulillahi’ala kulli hal…

            Nikmat Allah yang bahkan tak cukup hanya dituturkan lewat kata syukur. Tak hanya nikmat nafas, tubuh yang sehat, dan nikmat kecukupan, tetapi juga nikmat aktivitas yang membuat diri banyak mengambil banyak pelajaran. Allah perkenankan aku untuk “masih” berada di lingkaran ini, lingkar impian yang entah sampai kapan aku mampu mempertahankannya. Dua hari ini membersamai siswa-siswa SMA yang tengah bersiap menghadapi ujian april nanti, aku merasakan nikmat yang ya… sebenarnya beberapa kali aku rasakan ketika melakukan aktivitas ini. Hanya saja tak sempat aku tuliskan sebelumnya, maka saat ini aku ingin menuliskannya. J

            Nikmat itu adalah nikmat kelegaan batin. Berinteraksi dengan ratusan manusia yang berbeda karakter membuat aku senantiasa berucap “Subhanallah… Allah yang menciptakan mereka ini.” Ini lah alasanku sangat menyukai aktivitas training, bertemu banyak orang, berinteraksi dengan mereka, dan mengamati karakter mereka (ini terlepas dari ketika menjadi observer ya :p ). Berinteraksi dengan banyak jenis manusia membuatku semakin banyak mengambil pelajaran. Itu lah nikmatnya, yang membuat batin ini menjadi lapang, nyaman, tentram, dan legaaaa. Karena, di setiap aktivitasnya selalu saja ada hal yang membuat diri mengingat IA yang Maha Menciptakan.

            Dan selama berada dalam aktivitas ini, job yang memiliki takaran “suka” paling banyak adalah ketika menjadi Observer, hehehe. Why ? karena aku bisa menulis setiap materi yang disampaikan, setiap nasehat yang menggerakkan pendengar (yang kemudian diam-diam aku catat di buku kecilku :p ), dan yang sudah pasti adalah mengamati peserta di setiap prosesnya. Ketika mereka memperkenalkan diri, menyampaikan tujuannya hadir dalam training, ketika maju ke depan menyampaikan pendapatnya, ketika sibuk menulis sesuatu di lembaran kertasnya,  terlebih lagi ketika mereka berbagi mimpi-mimpi yang tengah mereka ukir. Tak terkecuali juga, ketika mereka asik mengobrol dengan kawan sebelahnya, ketika diam-diam asik memainkan gadgetnya, ketika entah karena apa bergiliran mereka ijin ke toilet, ketika dengan nikmat mereka ketiduran, ketika seolah mereka punya dunia sendiri dengan barang-barang disekitarnya, dan yaa.. ketika tiba-tiba mereka sulit untuk dikondisikan karena aktivitas yang mengharuskan mereka bergerak ke sana ke mari.

            Well, itu sisi lain dari proses training yang aku amati dan pelajari, walau kadang hal yang kemudian cukup membuat “mau nggak mau” adalah membuat laporannya, hahahahaha! Padahal kalau laporan nggak sesuai deadline, sama saja itu dzolim pada pihak sekolah, karena itu adalah bentuk feedback yang selalu kami berikan kepada sekolah sebagai rekomendasi memperbaiki proses belajar sekolah maupun siswa-siswanya.

            Nah, dua hari membersamai sekolah yang berbeda membuatku senang bukan kepalang. Terutama ketika mereka diminta menyampaikan cita-cita mereka ketika berada di usia 40 tahun nanti. Macem-macem bentuk impian mereka, mendirikan pondok pesantren, jadi pengusaha, mendirikan sekolah gratis, keliling dunia, menjadi hafidz/ah, menjadi menteri, dan yang cukup membuat terperangah adalah ketika salah satu peserta menyampaikan impiannya untuk bisa membobol kode-kode rahasia Amerika Serikat dan mengahancurkan kebengisan mereka, hahahahaha. Ups ! Nggak boleh diketawain broh, hati-hati… jangan tertawakan impian orang, suatu saat mereka akan buktikan lho! Yowis, ditambah ketawanya “Hahahahahaaa KEREEENN semangat brooohh!!” :)))))))

            Ya memang mimpi-mimpi yang mereka sampaikan ada yang duniawiiiii banget.. ada yang akhirat bangeeeetttt. Yang duniawi banget semoga diluruskan niatnya yaa J, yang akhirat banget semoga dikuatkan langkahnya yaa J. Ya, intinya… aku senang berinteraksi dengan berbagai jenis orang dan aku senang menjadi satu dari sekian banyak orang yang mendengar impian-impian mereka, sembari berucap sederet kata doa untuk ikhtiar mereka mencapai impian. Toh, pada akhirnya hal itu juga yang lagi-lagi akan mengingatkan diri untuk senantiasa berdzikir pada-Nya. Allah Yang Maha Memiliki Kuasa. J Kalau ngendikane Ustadz Syatori, “setiap alam, peristiwa/kejadian, dan juga amal adalah sarana kita untuk senantiasa berdzikir kepada Allah.” Aahhhh…. Legaaaaaa…. dan itulah nikmat yang terasa, ahahahay!

*wadzkurullaha dzikran katsiiran. Maka hati akan terasa tenang dan tentram…J
           

            

Sabtu, 01 Maret 2014

......

tidak semua pertanyaan butuh jawaban. seperti hal nya tak semua hal butuh penjelasan. terkadang ia hanya butuh waktu untuk menguap, entah dengan lupa atau mengubah cara pandang. Dan pada akhirnya menjadi masa lalu yang patut untuk disyukuri atau justru ditertawakan. (di syukuri aja lah yaaa.. ada hikmahnya kok :D )

*maka terkadang "diam" di satu kondisi tertentu itu lebih baik :)))
*lebih baik diam daripada mengumbar ketidakbermanfaatan :)