Senin, 27 Mei 2013

Itu Kapal

Di atas laut kapal itu tergontai
Mengikuti kemana angin itu menghembusnya
Ternyata kapal itu tak berawak
Kemana awaknya ??
Ohhh… kapal itu terlarung
Terlarung sendiri karna tali penyangganya terputus
Akhirnya ia berjelaga sendiri
Menikmati perjalanan sendirinya mengarungi hamparan luas laut
Di terjang ombak…
Diterpa badai…
Tertabrak karang…
Ahhh… kapal itu tetap saja bertahan di atas gontaian air dan angin
Aneh, kapal ini tak berawak…
Tetapi tetap saja ia mampu berjelaga menuntaskan perjalanannya
Tetap saja, ia bisa terlarung entah kemana ia akan pergi dan melabuhkan diri
Tetap saja, sebelum tuntas perjalanannya ia takkan berawak…
Maka tuntaskanlah, kapal
Di atas laut…
Dalam gontaian ombak…
Dan hembusan angin…
Kau akan tahu, kemana kau akan pergi
Ada ombak dan angin yang kan mengantarmu
Maka biar saja kau terlarung tanpa awak
Hingga kau tahu dibibir pantai manakah kau kan terlabuh



Itu Laut




Laut itu biru…
Biru nya menderu
Sembari berseru
Bernyanyi berirama syahdu

Syahdu itu lirih…
Lirihnya menggiring buih
Berjelaga di bibir pantai
Bersama butir-butir air dan pasir

Pasir itu berserakan
Namun kemudian bersama ombak
Mereka disatukan
Disatukan, ditemani angin

Angin itu berhembus
Menyeruak di sela paruh
Dan angin itu beresonansi
Resonansi bercerita

Tentang laut,
Biru…
Air…
Pasir…
dan angin itu sendiri

Laut itu biru…
Bersama ombak ia menggiring buih
Buih nya menyatu,
Menyatu satu bernada lirih



Senin, 20 Mei 2013

Awal Mula Peradaban






Nasehat Ustadz Anis Matta

Kita seringkali menganggap pernikahan itu adalah peristiwa hati.
Padahal, sesungguhnya pernikahan adalah peristiwa peradaban.

Ini bukan Cuma tentang 2 manusia yang saling mencinta lalu mengucap akad.
Tetapi bahkan ini merupakan peristiwa peradaban yang mengubah demografi manusia

Pernikahan adalah sayap kehidupan.
Rumah adalah benteng jiwa.
Jika di rumah kita mendapat energy memadai, di luar rumah kita akan produktif

‘Sakinah’ bukan hanya ‘tenang’.
Ia berasal dari kata ‘sakan’ yang artinya ‘diam/tetap/stabil’
Maka ia menjadikan tenang karena stabil. Bukan tenang yang melalaikan

Sakinah adalah perasaan tenang yang lahir dari kemantapan hati
Manusia menjadi tenang saat kebutuhan-kebutuhannya terpenuhi secara komprehensif

Al Quran menjelaskan: “Kami jadikan air sebagai sumber kehidupannya.” Air (mani) merupakan sumber (simbol) stabilitas )psikis saat diatur volumenya dalam tubuh) dan produktifitas (kualitas semangat dan kuantitas keturunan)

Hakikat pernikahan tidak bisa dipelajari dari manapun
Learning by doing
Islam mengarahkan menikah muda agar rasa penasaran itu cepat terjawab

Agar setelah ‘rasa penasaran’ itu terjawab, perhatian seseorang bisa ebih banyak tercurah dari urusan biologis ke intelektualitas-spiritualitas

Tidak perlu takut terhadap beban hidup,
Yang perlu dilakukan hanya mengelolanya
Sebab pelaut ulung pun lahir setelah melewati gelombang-gelombang samudera

Yang bisa membuat kita melewati gelombang itu adalah persepsi awal yang benar tentang cinta
Yiatu cinta sebagai dorongan untuk terus memberi pada yang kita cintai

Hubungan yang terbina dari sini bukan hanya hubungan emosional,
Tapi juga spiritual-rasional
Karena keluarga ini adalah basis social terkecil untuk membangun peradaban.

~ Dan dari sana lah peradaban bermula ~ J
Teruntuk seluruh muslimah pembangun peradaban,
Dan muslim penegak peradaban.

Rabu, 15 Mei 2013

Universitas Kehidupan #4 : Potret Hidup




ini secuil potret kehidupan jakarta yang terekam oleh mata dan hati manusia. #asik
ini secuil dari sekian banyak pemandangan yang terlihat olehku ketika melanglangbuana s.e.n.d.i.r.i.a.n 

sepulang dari kantor GIM, naik TJ menuju blok M dan menyambut bus kota, duduk manis menikmati teriknya panas matahari dan gerahnya udara berasap disana-sini.
singkat cerita kmudian bus melaju menuju arah bintaro,
aihh... naik ke dalam bus 2 orang bocah gadis mungil yang satunya membawa gitar tak kalah mungilnya dgn mereka. Jika diamati gadis mungil yang satu berumur sekitar 6 tahun dan yang satu lagi 5 tahun. widdiiiiwww.. alisku mengernyit ketika melihat mereka dgn riangnya bersiap mengatur suara utk bernyanyi didalam bus.

Dan, yaa!! lagu mulai berdendang dari iringan gitar dan mulut mereka berdua. Lagu yang nggak jelas lagu opoooo tho kuiiii *karena mereka masih cadel utk melafazkan setiap liriknya* cumaa... ada beberapa lagu yang ku tahu itu adalah lagu yang dinyanyikan Didi Kempot *gedubraakk!! -____-"

Kuperhatikaan terus mereka dengan tatapan penuh tanya "nduk bapak-ibumu nyang ndi tho ?" sambil sesekali aku tersenyum miris melihat mereka yang dengan riang dan santainya menyelesaikan lagu yang dinyanyikan. Di kanan kiri depan belakang penumpang mulai bergumam melihat pemandangan ini, persis, yang mereka pikirkan dgn yg aku pikirkan

"kok bapak ibunya tega yaa suruh dia jd pengamen? " | bapak-ibunya masih ada ga ya itu dua bocah? kasian banget kecil2 jadi pengamen dari bus ke bus." kata 2 orang ibu diblakangku.

yang lain lagi malah nyletuk "dek, nyanyi bintang kecil donk" | si bocah jawab "nggak mau" laaaahhhhhh -,-a . Si ibu kembali berkomentar "hadeehh kecil2 lagunya cinta2an." aku sedikit terkekeh mendengar gumaman dan celetukan itu sambil terus memperhatikan duo maya #eh duo gadis mungil pengamen.

aku berpikir dan mencoba memahami, hmm...
1. aku masih ragu dengan janji pemerintah yang bilang bahwa fakir miskin dan anak terlantar dipelihara oleh negara. (UUD '45 Pasal 34 ayat 1). Dipelihara gimana nih maksudnya ? dipelihara untuk dikembangbiakan dan semakin bertambah atau diberi fasilitas agar mereka dapat berkarya dan memperbaiki hidupnya lantas kemudian berkuranglah gelandangan, pengamen, premanisme, dsb dikota2 besar seperti jakarta ini ?? yang mana ? nyata2nya realita berkata pada pilihan pertama. #ppfftt

2. peran orangtua, jakarta emang keras broh ! *nggigit batu* tapi tegaa para orangtua membiarkan anaknya yang masih imut2 itu dididik oleh keras dan pedasnya kehidupan jalanan ?? saya rasa nggak ada orangtua yang mau, kecuali tertekan! ( tertekan kebutuhan, kondisi lingkungan, dan juga mental !) Tapi, ya apakah nurani seorang ibu tidak mampu meleburkan batas dan menembus tekanan tsb ? Ibuu-ibuu mereka masih butuh dididik oleh orangtuanya, membaca huruf a,b,c,d bernyanyi, menggambar, TPA setiap sore di masjid. aahh..

3. kalo masih ada yang berkomentar di status ini, "ahh saa, itulah jakarta, itulah kota A,B,C,D lalalala. maklum lah, kita nggak bisa membuat semua berubah. ya begitulah keadaaannya. *Intinya pasrah dan pesimis* iuh. kalo dari diri kita aja udah bilang begitu, yaa mana ada perubahan. kalo pemakluman terus aja meminta dimaklumi, kalo keadaan terus aja minta dimaklumi, kapan bisa keluar dari zona nyaman yang nyata2nya juga nggak nyaman. ". Jangan mainstream ah.

So, itu jeritan hari ini, hikmah hari ini, persis seperti jeritan yang disampaikan dua pemuda yang juga naik ke dalam bus kota setelah gadis mungil turun. Dua pemuda yang bagaikan seorang orator, berteriak tentang keluh kesah mereka hidup di kota besar yang penuh perjuangan. *ah balada pahlawan, hehe* tapi, ujung2nya minta duit untuk orasi mereka .

Oke, so apa yang kalian pikirkan dengan potret ini ?

"Maka nikmat Tuhan yang manakah yang kau dustakan?" dalam hati lirih mengucap.

Minggu, 28 April 2013

Mengais Ilmu Yang Berserakan Di Bumi




“Barangsiapa yang berjalan di suatu jalan untuk menuntut ilmu, maka Allah akan memudahkan baginya jalan menuju syurga.”
(HR. Muslim)

            Begitulah kemuliaan bagi orang-orang yang berilmu. Yang mencari ilmu dan mendalami ilmu J. Bahwa orang-orang yang berilmu lah yang kemudian mampu menggenggam dunia, bukan kemudian dunia yang menggenggam dirinya. Ilmu yang terpuji adalah ilmu yang didasarkan pada aqidah dan akhlak kita. Imam Ghazali pernah berkata “ Ilmu-ilmu syar’i terbagi menjadi tiga yaitu yang terpuji, tercela dan yang mubah, yang terpuji adalah sesuatu yang terikat dengannya segala kemaslahatan perkara dunia, seperti kedokteran, politik, astronomi, dan lain sebagainya. Dr. Yusuf Qardhawi dalam Keutamaan Ilmu dalam Islam juga pernah menyampaikan bahwa ilmu yang termasuk dalam fardhu kifayah adalah yang dibutuhkan oleh kaum muslimin dalam dien-nya atau dunianya dengan jalan mendalami ilmu-ilmu syara atau spesialis. Jadi intinya, ilmu yang terpuji adalah ilmu yang diperuntukkan pada kemaslahatan dunia, berarti sebelum masuk ke pintu itu kita perlu ilmu juga bukan? Untuk memahami mana yang maslahat mana yang menimbulkan mudharat? J Dan ilmu tentang maslahat-mudharat sebenarnya masuk kategori bagaimana kita ber-aqidah dan ber-akhlak kemudian.

            Terus keutamaannya ilmu itu apa broh siss ? Banyak fenomena yang bisa kita lihat, anak-anak muda yang bertingkah ikut-ikutan pada suatu hal tapi nggak tau dasar dan muasal hal tersebut. Anak gaul sekarang sih bilangnya itu mainstream cuy ! ngikuuutt aja kayak ekor uler. Atau bisa juga dibilang latah terhadap apa-apa yang sedang nge-trend di sekitar kita, Hijab style misal, yang kadang kalau aku lihat “iuuh” banget deh, udah bikinnya ribet diplintir sana plintir sini, iket sana penitiin sini, tapi nggak nutup dada, Astaghfirullah. Mereka tau nggak ya kalau kaidah pakai jilbab kan harus yang nutup dada ? L

            Nah, Allah berfirman di surat Al Israa’ ayat 36, “ Dan janganlah kamu mengikuti apa yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan dan hati semuanya akan diminta pertanggungjawabannya.” Dari pesan Allah itu bisa kita artikan bahwa jangan kita mengikuti sesuatu tanpa didasarkan pada ilmu, dan hanya sekedar ikut-ikutan saja. So, sudah paham kan kita bahwa berilmu itu penting ? Terus dimana kita bisa dapet ilmu-ilmu seperti itu ? seperti apa ? itu lhooo yang bisa mengantarkan pada maslahat.. ! Hmm… oke lets !

            Dalam berilmu itu ada adabnya. Maka sebelum kita melangkah untuk meraih dan mengumpulkan ilmu wajib bagi kita untuk memahami seperti apa adab dalam berilmu. Ini beberapa hal yang aku tahu tentang adab berilmu.

               Apa-apa semua hal yang ingin kita kerjakan berawal dari niat kan yak ?! Niat kalau nggak lurus, kemungkinan besar dalam mencari ilmu hasilnya nggak berkah. Waallahu’alam. Yang pasti, niat perlu dibenerin dulu, niat Lillah Fillah Billah, ada tujuan, alasan dan proses. Niat Lillah, berarti tujuan yang kita bentuk adalah semata untuk Allah. Di sini ada 2 jenis niat nih, 2B Niat, Niat Baik dan Niat Besar. Niat baik artinya niat yang kita haturkan semata karena ingin mendapat ridho Allah semata, nah kalau Niat Besar disana terdapat unsur usaha atau upaya yang kita lakukan yaitu bagaimana kemudian kita bisa bekerja keras tanpa kenal lelah dalam meraih dan mengumpulkan ilmu. Niat Fillah, artinya alasan ia mencari ilmu juga karena Allah, karena tahu bahwa Allah yang bisa menolongnya ketika menemui kesulitan, harapan juga hanya pantas ditancapkan ke Allah saja bukan kepada manusia, karena jika menancapkan harapan kepada manusia yang ada hanyalah kecewa #asik. Niat Billah, bahwa dalam mencari ilmu senantiasa kita mengingatNYA. Hanya Allah yang selalu bersama kita dalam segala keadaan.

            Ini baru bab NIAT broh siss ! perjalanan masih panjang lhoh.. hehe. Dimana ada niat di sana ada usaha ya kan ?? kalo nggak ada usaha itu namanya omong doank, utopis, punya mimpi tapi cuma NATO (No Action Talk Only). Di dunia ini tempat mencari ilmu banyak, ada di sekolah atau majelis ilmu, pengajian, buku, dan lain sebagainya. Semua fasilitas itu memang menjadi komponen utama dalam berilmu tapi ia akan berbahaya dan bisa jadi menjadi sia-sia jika tidak ada guru yang bisa mengarahkan dan membimbing kita di luar kemerdekaan kita untuk berpikir dan menyampaikan isi otak kita. Guru di sini penting, so jika ada yang masih tidak menghormati guru, kelaut aja broh! Nyari ikan. Di bakar terus dimakan. #apasih.

            Ilmu itu diambil dari mulut para ulama/guru. Maka seorang penuntut ilmu, agar kokoh dalam ilmu di atas pondisi yang benar, maka hendaknya ia bermulazamah kepada guru, talaqqi (mengambil) ilmu langsung dari mereka. Sehingga pencarian ilmunya tegak di atas kaidah-kaidah yang benar. Nggak melenceng. Karena jika kita hanya membaca buku tanpa ada diskusi lebih lanjut tentang bagaimana sisi aplikatif nya dalam berilmu itu, bisa jadi ia akan banyak salahnya daripada benarnya. Di sisi lain sebenarnya aku juga ingin berbagi suatu hal dari maksud bab “guru” ini J. Bahwa kita juga memerlukan mentor dan motivator. Guru bisa menjadi tokoh inspiratif dalam proses berkelana kita mencari ilmu. Maka jangan tanggung-tanggung kalau mencari guru untuk diri kita. Carilah ia yang memiliki prestasi dan mumpuni, yang mampu menggerakkan semangat kita untuk bisa menjadi sepertinya bahkan melebihinya, yang menggetarkan darah, nadi dan hati kita untuk mengingatNYA dalam setiap yang diucapkannya, dan yang mampu memberikan inspirasi pada ilmu-ilmu yang ingin kita dapatkan. So selamat mencari guru terbaik anda !! 
             
             Lanjut ! Ketika kita telah meraih ilmu lalu apa yang selanjutnya kita lakukan? Jika kita berilmu namun tak diamalkan, berarti kita termasuk orang yang munafik. Naudzubillah... so, adab berilmu selanjutnya adalah ketika kita sudah mengetahui suatu ilmu maka hendaklah kemudian kita memahaminya, dan ketika telah memahaminya secara menyeluruh maka sungguh terpuji orang yang kemudian mengamalkannya. Ketahui, Pahami dan Amalkan. Kunci berilmu.

            Dan hei ! Perlu kalian tau juga, bahwa ilmu-ilmu itu berserakan dimana-mana guys ! Nggak hanya di sekolah, buku, dan guru. Kita melihat pohon yang berdiri tegak pun di situ terdapat ilmu, melihat lebah dan kupu-kupu yang beterbangan di atas bunga pun terdapat ilmu, melihat anak kecil yang bahagia sekali dengan mainannya pun di sana terdapat ilmu. Hei, taukah kalian bahwa ilmu itu juga ada dalam keseharian kita ? dalam setiap kegiatan yang kita lakukan dimanapun kita baerada ? Bahkan peristiwa-peristiwa kecil yang kita temui atau bahkan kita alami sendiri, disebaliknya terdapat ilmu yang bisa kita ambil. Peristiwa kecil yang menggerakkan hati dan pikiran kita bersamaan dan menggoncang diri untuk berlaku bijak terhadap kehidupan dan menghargai setiap ilmu yang berserakan kemudian kita memuliakannya. Sebelum memposting tulisan ini, aku bercerita tentang suatu ilmu yang tak sengaja kudapatkan dari secuil kegiatan kecil yang kulakukan. Dan hei ! Sungguh orang-orang yang beruntung adalah orang yang mampu berpikir dan mengambil hikmah dari setiap apa yang ia temui disekitarnya, karena di sanalah ilmu berserakan yang terkadang kita acuhkan. Hikmah, adalah poin terakhir dalam adab berilmu. Selamat mengais-ngais ilmu yang berserakan wahai para pencari ilmu J. Dan Imam Syafi’I pernah berkata dalam sajaknya,

“Singa jika tak tinggalkan sarang tak akan dapat mangsa, anak panah jika tak tinggalkan busur tak kan kena sasaran, matahari di orbitnya jika tak bergerak dan hanya diam tentu manusia bosan padanya dan enggan memandangnya.”
*lebih jelas sajaknya bisa dilihat di label Kata Mutiara J*

Dan pesan penutup bahasan ini,
“Jika kau menghendaki dunia maka harus berbekal ilmu, jika kau menghendaki akhirat maka harus berbekal ilmu, dan jika kau menginginkan keduanya maka harus pula berbekal ilmu.”
*aku lupa siapa yang pernah beri nasehat super ini :p *

Sabtu, 27 April 2013

Universitas Kehidupan #3 : Sebongkah Rindu Ketangguhan Mereka





ketika mengisi materi siang tadi tentang kemuliaan dan prinsip berilmu, tetiba teringat Sellin dan Indra serta anak2 Flores lainnya. :') teringat percakapan antara aku, sellin dan indra, yang membuat bersyukur sekaligus sedih dalam waktu bersamaan.
Sore itu aku tengah berjalan kaki menuju kampung melewati jalan yang kanan kirinya adalah hutan. aku berjalan sendiri hendak bertemu anak2 dan berlatihbersama mereka utk festival kampung kala itu.
Sayup aku mendengar, di tengah lebatnya pohon di hutan, anak-anak bercanda dengan girangnya. Dan seketika muncul dari samping jalanku, dengan membawa sekumpulan kayu yang sepertinya jika aku yang menopangnya dipundakku seperti mereka, aku tak kan kuat, haha. -_-

Awalnya aku biasa saja melihat mereka membawa kayu itu, bahkan aku pikir kayu itu utk mainan, tetapi,

Aku : Sellin, Indra, baru pulang sekolah ? (tanyaku)
Sellin & Indra : Iya kak, (jawab mereka seperti biasa sembari berjalan di sampingku)
Aku : Kenapa tidak langsung pulang dan lewat jalan raya saja? kenapa lewat tengah hutan dan membawa kayu pula kau ini.
Indra : kami mengumpulkan kayu kering di hutan kakak.
Aku : Untuk apa ??? bukankah berat kau panggul seperti itu ?? (dengan nada heran)
Sellin : Kami mencari kayu bakar untuk bantu mama kakak. Agar asap dapur tetap bisa berbunyi. (read: mengeluarkan asap)
Indra : setiap pulang sekolah kami sudah terbiasa mencari kayu di hutan utk dibawa pulang, kakak.
Aku : (ndak bisa berkata-kata, speechless, pengin nangis, mata udah berair, bersyukur, nano-nano deh) Mari kakak bantu panggul *tersenyum*
Sellin : tidak perlu kakak. Ini berat.
Aku : (diam tak memaksa, karena terlanjur larut dengan pemandangan mengharukan saat itu)

Dan perasaanku mulai campur aduk, antara bersyukur karna aku bisa sekolah dengan tenang, sedih karna aku jauh kalah tangguh dengan mereka yang luarbiasa. Sembari berjalan menikmati sore yang mulai berkabut. Dan aku tersadar,

"Sellin, Indra, mana sepatu kalian??" tanyaku terkejut.
"Kami tidak pakai sepatu kakak. *tersenyum*" jawab mereka serentak.

Ya Rabb.... :'(

#SebongkahRinduMereka






~ditengah segala keterbatasan dan keadaan yang mengharuskan mereka, semangat mereka untuk mencari ilmu sungguh luarbiasa. Bahkan ilmu tak harus kita dapatkan lewat buku dan guru di sekolah. Keseharian yang kita jalani dan kejadian kecil yang muncul bahkan mampu menjadi ilmu yang luar biasa. tentang syukur, tentang simpati dan empati, tentang kekuatan dan kesabaran. Ahh... sesungguhnya orang2 yang berfikir lagi mampu mengambil hikmah adalah mereka yang beruntung. Puji syukur kepada Allah atas segala nikmatnya. :')

NB : mereka jarang memakai alas kaki ketika sekolah, kepepet ya pakai sendal jepit yang udah compang camping. Tas yg mereka bawa utk taruh buku, hanya dari sekantong plastik hitam, kebanyakan.~

Sabtu, 20 April 2013

Asal Nyomot ~Darwis Tere Liye~


Jika kau memahami cinta adalah perasaan irasional, sesuatu yang tidak masuk akal, tidak butuh penjelasan, maka cepat atau lambat, luka itu akan kembali menganga.
Kau dengan mudah membenarkan apapun yang terjadi di hati, tanpa kau tahu, tanpa memberikan kesempatan berpikir bahwa itu boleh jadi karena kau tidak mampu mengendalikan perasaan tersebut
Tidak lebih, tidak kurang.
Tere Liye, buku “Sepotong Hati Yang Baru”


“Dan tunas-tunas perasaanmu tak bisa kau pangkas lagi. Semakin kau tikam, dia tumbuh dua kali lipatnya. Semakin kau injak helai daun barunya semakin banyak”
Tere Liye, Daun Yang Jatuh Tak Pernah Membenci Angin


*Bukankah, atau bukankah
Bukankah,
Banyak yang berharap jawaban dari seseorang?
Yang sayangnya, yang diharapkan bahkan tidak mengerti apa pertanyaannya
“jadi, jawaban apa yang harus diberikan?”

Bukankah,
Banyak yang menanti penjelasan dari seseorang?
Yang sayangnya, yang dinanti bahkan tidak tahu harus menjelaskan apa
“aduh, penjelasan apa yang harus disampaikan?”

Bukankah,
Banyak yang menunggu, menunggu, dan terus menunggu seseorang
Yang sayangnya, hei, yang ditunggu bahkan sama sekali merasa tidak punya janji
“kau menungguku? Sejak kapan?”

Bukankah,
Banyak yang menambatkan harapan
Yang sayangnya seseorang itu bahkan belum membangun dermaga
“akan kau tambatkan di mana?”

Bukankah,
Banyak yang menatap dari kejauhan
Yang sayangnya, yang ditatap sibuk memperhatikan hal lain

Bukankah,
Banyak menulis puisi, sajak2, surat2, tulisan2
Yang sayangnya, seseorang dalam tulisan itu bahkan tidak tahu dia sedang jadi tokoh utama
Pun bagaimana akan membacanya

Aduhai, urusan perasaan, sejak dulu hingga kelak
Sungguh selalu menjadi bunga kehidupan
Ada yang mekar indah senantiasa terjaga
Ada yang layu sebelum waktunya
Maka semoga, bagian kita, tidak hanya mekar terjaga
Tapi juga berakhir bahagia


Yang kita sangka adalah ‘akhir’ sebuah perjalanan, justeru kadang adalah ‘awal’ perjalanan yang lebih panjang.

Menikah, itu bukan akhir kisah cinta, tapi adalah awal kehidupan cinta yang lebih besar, lebih banyak masalah, dan lebih menuntut semua persiapan—bukan sekedar cinta.

Lulus sekolah, itu bukan akhir kisah pendidikan, tapi adalah awal kehidupan pembelajaran yang lebih berkelok, lebih serius, lebih menuntut semua persiapan—bukan sekadar ijasah.

Maka, mari menyiapkan diri untuk awal perjalanan berikutnya yangn sudah menunggu, bukan sekedar tiba di akhir perjalanan sekarang.


“Persahabatan adalah sebuah tanggungjawab yang manis; tidak pernah sebuah kesempatan”

Quote dari Kahlil Gibran ini tajam sekali. Maka renungkanlah. Sahabat di sekitar kita adalah sebuah tanggungjawab yang indah, saling menasehati, saling mengingatkan, saling menjaga. Bukan sebaliknya, dijadikan sumber kesempatan; sahabat jika perlu tidak perlu maka menjauh; sahabat KW 2, alias abal2 saja. Dan mengingatkan sahabat sendiri, kadang lebih sulit dibandingkan mengingatkan orang lain.





*Kehilangan

Apakah kita sedih saat HP atau laptop milik kita hilang,
Tentu saja sedih, siapa yang tidak
Tapi apakah kita sedih kalau masa remaja, masa muda, masa-masa keemasan kita
Hilang begitu saja, tidak bisa dicari lagi.

Apakah kita sedih saat ditinggal pesawat, kereta, dan tiketnya hangus
Tentu saja sedih, siapa yang nggak
Tapi apakah kita sedih kalau kita telah ditinggal hari
Pagi telah berlalu, siang sudah lewat, menyisakan malam penuh sesal?

Orang2 banyak sedih karena putus cinta, kehilangan seseorang
Tentu saja sedih, mungkin begitu
Tapi apakah orang2 sedih saat putus hidayah, kehilangan kelembutan hati
Untuk mendengarkan nasehat, mendatangi majelis ilmu

Orang2 banyak sedih karena kehilangan lowongan pekerjaan
Tentu saja sedih, boleh jadi
Tapi apakah orang2 juga sedih saat kehilangan kesempatan berbuat baik?
Malah tidak peduli, dan tidak tahu menahu.

Orang2 banyak sedih karena ketinggalan menonton film, ketinggalan makan siang,
ketinggalan apalah, kehilangan entahlah
Tentu saja sedih, mungkin demikian
Tapi apakah orang2 juga sedih saat tahu dia telah kehilangan begitu banyak waktu
Tersia-siakan oleh hal-hal mubazir dan tidak perlu

Ada banyak sekali jenis kehilangan di dunia ini
Sayangnya, kadang kita lupa mana yang hakiki, mana yang tidak
Harta benda yang hilang bisa diganti, tapi masa remaja tak akan pernah kembali
Perjalanan bisa di-reschedule, tapi tidak ada jadwal ulang untuk waktu
Bahkan cinta bisa berganti, bersemi lagi, tapi hal-hal hakiki, boleh jadi sudah terlanjur pergi
Dan kita justeru telah kehilangan sesuatu yang seharusnya kita tangisi siang malam
Sayangnya kita tidak menyadarinya.

------------------------------------------------------------------------------------------------


“Begitulah kehidupan, Ada yang kita tahu, ada pula yang tidak kita tahu.Yakinlah, dengan ketidak-tahuan itu bukan berarti Tuhan berbuat jahat kepada kita. Mungkin saja Tuhan sengaja melindungi kita dari tahu itu sendiri.”

— Rembulan Tenggelan di Wajahmu - Tere Liye

----------------------------------------------------------------------------------------------


Di dunia ini, banyak orang mencintai seseorang yang bahkan bicara dengannya langsung lebih dari 5 menit saja pun belum pernah.

Itulah kenapa urusan perasaan itu disebut 'gila'.

Mungkin itu termasuk kalian, bukan? Diam-diam memendam perasaan. Tapi tidak mengapa. Bersabarlah. Menunggu. Besok lusa, jika tiba waktunya, benar caranya, dan berjodoh, kalian bisa menghabiskan 50 tahun bersamanya.

-----------------------------------------------------------------------------------------------


“Daun yang jatuh tak pernah membenci angin, dia membiarkan dirinya jatuh begitu saja. Tak melawan, mengikhlaskan semuanya.

Bahwa hidup harus menerima, penerimaan yang indah. Bahwa hidup harus mengerti, pengertian yang benar. Bahwa hidup harus memahami, pemahaman yang tulus.

Tak peduli lewat apa penerimaan, pengertian, pemahaman itu datang. Tak masalah meski lewat kejadian yang sedih dan menyakitkan.”

— Tere Liye, novel “Daun yang jatuh tak pernah membenci Angin”

----------------------------------------------------------------------------------------------


*Angin, Hujan dan Sakit Hati

Kenapa ada angin?
Agar orang-orang tahu kalau ada udara di sekitarnya.
Tiap detik kita menghirup udara, kadang lupa sedang bernafas.
Tiap detik kita berada dalam udara, lebih sering tidak menyadarinya
Angin memberi kabar bagi para pemikir
Wahai, sungguh ada sesuatu di sekitar kita
Meski tidak terlihat, tidak bisa dipegang

Kenapa ada hujan?
Agar orang-orang paham kalau ada langit di atas sana
Tiap detik kita melintas di bawahnya, lebih sering mengeluh
Tiap detik kita bernaung di bawahnya, lebih sering mengabaikan
Hujan memberi kabar bagi para pujangga
Aduhai, sungguh ada yang menaungi di atas
Meski tidak tahu batasnya, tidak ada wujudnya

Begitulah kehidupan.
Ada banyak pertanda bagi orang yang mau memikirkannya

Kenapa kita sakit hati?
Agar orang-orang paham dia adalah manusia
Tiap saat kita melalui hidup, lebih sering tidak peduli
Tiap saat kita menjalani hidup, mungkin tidak merasa sedang hidup
Sakit hati memberi kabar bagi manusia bahwa kita adalah manusia
Sungguh, tidak ada hewan, binatang yang bisa sakit hati
Apalagi batu, kayu, tanah, tiada pernah sakit hati

Maka berdirilah sejenak, rasakan angin menerpa wajah
Lantas tersenyum, ada udara di sekitar kita

Maka mendongaklah menatap ke atas, tatap bulan gemintang atau langit biru bersaput awan
Lantas mengangguk takjim, ada langit di sana

Maka berhentilah sejenak saat sakit hati itu tiba, rasakan segenap sensasinya
Lantas tertawa kecil atau terkekeh juga boleh, kita adalah manusia.

----------------------------------------------------------------------------------------------------

*Apa yang tidak pernah, bukan berarti

Apa yang tidak pernah tersampaikan oleh kata-kata
Bukan berarti dia tidak pernah tersampaikan

Apa yang tidak pernah dituliskan oleh huruf-huruf
Bukan berarti dia tidak pernah dituliskan

Apa yang tidak pernah dikirimkan lewat pak pos, mamang kurir,
Atau sekedar angina, perantara bulan purnama, bintang-gemintang
Maka bukan berarti dia tidak pernah dikirimkan

Apa yang tidak pernah dihamparkan di atas rumpur menghijau,
Di atas halaman sekolah, atau sekedar di langit-langit kamar
Maka bukan berarti dia tidak pernah terhamparkan

Wahai, boleh jadi sungguh hal itu telah disampaikan, oleh kerling mata
Boleh jadi sungguh sudah dituliskan, lewat gesture wajah
Mungkin saja sudah dikirimkan melalui symbol-simbol laksana symbol asap suku pedalaman
Dan bahkan telah dihamparkan melalui semuanya, segalanya

Tidakkah kau mengerti?

Sungguh, apa yang tidak pernah dibisikkan oleh mulut kita
Bukan berarti dia tidak pernah dipanjatkan
Dipanjatkan lewat doa-doa, lewat diam, lewat keheningan hati yang terhormat.
Maka menjalin tinggi ke atas sana
Menunggu jawaban yang pasti dan melegakkan hati
Tidak akan merugi bagi yang paham.


Jika kita belum siap untuk serius, maka tutup pintunya rapat2, gembok dengan rantai terbaik, lantas lemparkan anak kuncinya ke dalam lautan yang luas. Begitulah cara terbaik menjaga hati dengan perasaan.

Well, jangan cemas anak kuncinya tidak akan ketemu. Jika sudah tiba saatnya, jodoh yang baik akan membawa anak kuncinya, dan hei, pas sekali, sempurna sudah membuka pintu hati tersebut.